Warga Haumeni Lestarikan Tradisi Sek Pena di Tengah Perubahan

TIMOR TENGAH UTARA – Tradisi Sek Pena, praktik gotong royong panen jagung khas masyarakat suku Dawan di Desa Haumeni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali dijalankan warga sebagai bentuk solidaritas sosial sekaligus menjaga kearifan lokal di tengah perubahan ekonomi.

Kegiatan yang berlangsung setiap pertengahan April hingga Mei ini melibatkan keluarga, kerabat, hingga masyarakat desa untuk bersama-sama memetik dan mengangkut hasil panen jagung dari kebun menuju permukiman. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam sistem sosial masyarakat setempat.

Secara etimologis, Sek Pena berasal dari bahasa Dawan, di mana “sek” berarti memetik atau mengambil, sedangkan “pena” berarti jagung. Dalam praktiknya, tradisi ini tidak sekadar aktivitas panen, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan saling membantu antarwarga.

Pelaksanaan Sek Pena dilakukan secara bergiliran antar keluarga. Warga yang hari ini membantu panen di kebun orang lain, akan mendapatkan bantuan serupa pada waktu berikutnya. Pola timbal balik ini memperkuat hubungan sosial dalam komunitas.

Selain itu, pemilik kebun memiliki kewajiban menyediakan konsumsi bagi para peserta. Makanan sederhana dan minuman tradisional seperti sopi menjadi bagian dari tradisi yang melekat dalam kegiatan tersebut.

Tradisi ini juga mengandung nilai filosofis yang dikenal dalam ungkapan lokal “Nek Mese, Ansaof Mese” yang berarti satu pikiran dan satu hati dalam membangun kehidupan bersama.

Ucapan terima kasih dari pemilik kebun kepada para peserta dikenal dengan istilah “Nekseobanit”, yang menjadi simbol penghargaan tanpa adanya sistem upah dalam praktik tradisional.

Namun, seiring perkembangan zaman, terjadi pergeseran dalam pelaksanaan Sek Pena. Sebagian masyarakat mulai memberikan imbalan berupa uang kepada para peserta sebagai bentuk kompensasi tenaga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, besaran upah dalam praktik modern berkisar sekitar Rp50.000 per hari, tergantung kondisi ekonomi pemilik kebun. Meski demikian, sistem timbal balik masih tetap berlaku bagi warga yang tidak mampu memberikan upah.

Tradisi ini tetap menjadi identitas budaya masyarakat Dawan di Desa Haumeni, sekaligus menjadi cerminan nilai gotong royong yang terus bertahan di tengah perubahan sosial dan ekonomi masyarakat, sebagaimana dilansir Tafenpah, Senin, (06/04/2026). []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Kekeringan Hantam 9 Desa di Parigi Moutong, 1.400 Hektare Sawah Terdampak

PDF đź“„PARIGI – Kekeringan yang berlangsung sejak pertengahan Juni 2026 mulai menekan kehidupan warga di …

15 Desa di Boltara Dilanda Kekeringan, Pemkab Gelar Shalat Istisqa

PDF đź“„BOLAANG MONGONDOW UTARA – Kekeringan yang berlangsung sejak awal Juli membuat sekitar 15 desa …

Kecelakaan Berulang, Warga Tanah Periuk Minta Jalan Dibangun Dua Jalur

PDF đź“„PASER – Keselamatan pengguna jalan menjadi perhatian warga Desa Tanah Periuk, Kabupaten Paser (Paser), …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *