KOREA UTARA – Dugaan perluasan fasilitas peluncuran satelit Sohae di pesisir barat Korea Utara mencuat setelah dua desa di sekitarnya dilaporkan diratakan sepanjang Maret 2026, memicu kekhawatiran baru terkait eskalasi kekuatan militer negara tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi besar pengembangan teknologi antariksa dan persenjataan, seiring ambisi Korea Utara meningkatkan kapasitas peluncuran satelit dan rudal balistik. Dua desa yang dihancurkan diketahui mencakup ratusan bangunan dan berada di dekat fasilitas utama peluncuran.
Peneliti senior Stimson Center, Martyn Williams, menyebut indikasi ekspansi tersebut cukup kuat. Ia mengaitkan langkah ini dengan rencana lima tahun terbaru Korea Utara yang mencakup pengembangan satelit dan sistem persenjataan anti-satelit, sebagaimana dilansir Bloombergtechnoz, Kamis.
Sebelumnya, pada Februari 2026, Korea Utara mengumumkan strategi nasional hingga 2030 yang menargetkan penempatan tambahan satelit pengintai di orbit. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pemantauan dan pertahanan negara.
Pengembangan tersebut juga beriringan dengan klaim uji coba mesin berbahan bakar padat terbaru yang disebut memiliki daya dorong lebih tinggi. Meski lokasi uji coba tidak diungkap secara resmi, analisis program 38 North menduga aktivitas tersebut dilakukan di kawasan Sohae berdasarkan citra yang dirilis media pemerintah.
Menurut analis keamanan Vann H. Van Diepen, mesin baru itu kemungkinan diperuntukkan bagi rudal balistik antarbenua dengan kemampuan membawa muatan lebih besar. Ia menilai peningkatan ini berpotensi mendukung pengembangan hulu ledak ganda yang berdampak strategis tinggi.
Perluasan fasilitas di Sohae, yang juga dikenal sebagai Tongchang-ri, dinilai akan semakin meningkatkan ketegangan kawasan. Situasi ini diperparah oleh dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi distribusi kekuatan militer Amerika Serikat di Asia.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, bahkan mengonfirmasi kemungkinan relokasi sebagian aset pertahanan udara Amerika Serikat ke Timur Tengah. Laporan lain menyebutkan sejumlah peluncur sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) terlihat dipindahkan dari pangkalan di wilayah selatan Korea Selatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan di Korea Utara tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memicu kekhawatiran keamanan regional hingga global. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara