MALANG – Sektor Pekerja Migran Indonesia (PMI) dinilai memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja dari wilayah perdesaan. Dengan persyaratan yang relatif fleksibel, masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan maupun usia memiliki peluang yang sama untuk menjadi PMI, asalkan memiliki keterampilan kerja memadai.
Pengamat ketenagakerjaan, Hendra Setyawan, menyebut masyarakat desa sebagai kelompok yang paling cocok menjadi PMI karena memiliki karakteristik adaptif dan cepat belajar. “Di masa ini, PMI menjadi alternatif untuk menyerap tenaga kerja yang berada di desa,” ujarnya di Kota Malang, Kamis (7/8/2025).
Menurutnya, kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi dua keunggulan utama yang membuat masyarakat desa disukai oleh perekrut di negara penempatan. “Masyarakat perdesaan biasanya lebih disukai oleh perekrut di negara penempatan,” tambahnya.
Selain membuka lapangan kerja, PMI juga berperan signifikan dalam menggerakkan perekonomian desa melalui pengiriman uang atau remitansi. Hendra menjelaskan, setiap bulan gaji PMI biasanya dikirim langsung kepada keluarga di desa melalui aplikasi perbankan. Remitansi tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan harian, pendidikan, hingga investasi seperti pembelian tanah atau lahan pertanian.
“Contohnya, saat PMI membeli sawah, tanah itu bisa disewakan kembali kepada orang lain. Artinya, remitansi turut membangun desa asal PMI,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebiasaan masyarakat desa dalam menggunakan remitansi untuk kebutuhan produktif menjadi salah satu penggerak utama ekonomi mikro.
Berdasarkan data Bank Indonesia, total remitansi yang dikirimkan oleh PMI sepanjang 2024 mencapai USD 15,7 miliar atau setara Rp 263,8 triliun. Angka tersebut mencerminkan besarnya kontribusi PMI terhadap pembangunan ekonomi di daerah asal.
Redaksi03
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara