BALI — Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Adat Lemukih di Kabupaten Buleleng tetap kokoh menjaga warisan budaya leluhur. Salah satunya adalah tradisi metampelan, sebuah ritual sakral yang digelar setiap tahun bertepatan dengan purnama sasih kapat sebagai bagian dari rangkaian upacara pujawali.
Tradisi ini berlangsung selama tujuh hari penuh di Pura Desa. Dalam prosesi metampelan, sepasang teruna-teruni saling melempar lumpur yang dicampur air, sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin. Ritual ini menjadi puncak dari rangkaian upacara keagamaan dan menandai berakhirnya proses pemberataan desa.
Metampelan tidak dilakukan sembarangan. Hanya pasangan teruna-teruni yang dianggap telah dewasa yang diperbolehkan mengikuti ritual ini. Meski demikian, tidak semua dari mereka akan langsung menikah. Sebelum prosesi ini digelar, warga desa dilarang melangsungkan upacara manusa yadnya seperti pernikahan.
Salah satu bagian paling dinanti dari ritual ini adalah kejar-kejaran antara pasangan teruna-teruni dan kubayan (tetua desa) usai pelemparan lumpur. Jika sang teruni berhasil menangkap pasangannya dalam waktu yang ditentukan, maka mereka akan diarak menuju Bale Agung atau Pura Desa sebagai simbol restu adat dan spiritual.
Perbekel Desa Lemukih, Nyoman Singgih, menjelaskan bahwa secara filosofis, metampelan merupakan simbol penyucian diri dan pengusiran energi negatif.
“Ritual ini diyakini sebagai bentuk tolak bala untuk menjaga desa dari berbagai penyakit dan malapetaka,” jelasnya, Kamis (3/7).
Prosesi metampelan dilakukan di Pura Taman Beji Kayoan, yang diyakini sebagai sumber tirta suci. Tirta dari pura ini digunakan untuk seluruh rangkaian penyucian dan piodalan di Pura Desa. Sebelum upacara dimulai, para peserta wajib mepiuning dan nunas tirta sebagai bentuk permohonan restu dan pembersihan spiritual.
Ritual ini dipercaya mampu melindungi anak perempuan yang belum dewasa dari gangguan makhluk halus atau raksasa, berdasarkan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Pelaksanaannya diatur melalui musyawarah adat dan berdasarkan dewasa ayu.
Menjelang akhir prosesi, peserta akan membersihkan diri di sumber air suci sebagai penutup. Ritual ini mencerminkan pentingnya keseimbangan spiritual dan diyakini memiliki konsekuensi adat. Konon, ada pasangan yang jatuh sakit karena tidak mengikuti metampelan. Sejak saat itu, tradisi ini dianggap wajib bagi setiap teruna-teruni yang menginjak usia dewasa.
Redaksi03
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara