NAIROBI – Pelestarian budaya masyarakat Pokot di Kenya mulai didorong sebagai bagian dari upaya memperkuat perdamaian dan mengembangkan peluang ekonomi lokal. Melalui Festival Budaya Pokot ke-2 yang digelar di Kenyatta International Convention Centre (KICC), Sabtu malam (07/11/2026), pemerintah dan penyelenggara mengajak masyarakat menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas.
Menteri Urusan Keamanan Dalam Negeri Kenya, Kipchumba Murkomen, mengatakan keberagaman budaya merupakan kekayaan nasional yang harus dilindungi agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya. Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia menghadiri festival yang mempertemukan komunitas Pokot, seniman, pelaku usaha, pegiat budaya, dan pengunjung dari Kenya maupun negara lain.
“Budaya kita yang beragam merupakan khazanah yang tidak akan pernah habis, sebuah warisan yang harus kita gali, rayakan, dan teruskan kepada generasi berikutnya,” kata Murkomen.
Festival yang diselenggarakan Kokel Entertainment itu dirancang sebagai ruang pertemuan masyarakat Pokot sekaligus wadah memperkenalkan kesenian, tradisi, dan identitas budaya mereka kepada publik yang lebih luas.
Murkomen mengapresiasi penyelenggara karena dinilai berhasil membawa kekayaan budaya Pokot ke ibu kota Kenya. Menurutnya, selama ini budaya masyarakat tersebut belum banyak dikenal masyarakat luas, meskipun memiliki daya tarik melalui tarian tradisional dan pakaian adat yang khas.
“Budaya Pokot, selama ini, relatif belum dikenal oleh dunia yang lebih luas. Festival sekolah dan media sosial hanya memberikan sedikit gambaran tentang kekayaan ini, terutama tarian yang memikat dan busana adat yang penuh warna,” ujarnya.
Di luar pelestarian tradisi, festival tersebut juga diarahkan untuk mendukung perdamaian dan persatuan masyarakat. Penyelenggara menyebut kegiatan budaya dapat menjadi sarana pemberdayaan generasi muda, pengembangan bakat lokal, serta penguatan usaha yang bergerak di bidang kebudayaan.
“Kami menggunakan kekuatan budaya untuk mempromosikan perdamaian dan persatuan, memberdayakan kaum muda dan talenta lokal, mendukung para pelaku usaha budaya, mendorong pariwisata yang bertanggung jawab, menciptakan peluang ekonomi, serta memperkuat kebanggaan terhadap warisan budaya kami,” demikian pernyataan penyelenggara.
Pesan perdamaian tersebut memiliki relevansi khusus bagi masyarakat di West Pokot County dan kawasan Lembah Kerio. Wilayah itu selama bertahun-tahun dikenal dengan julukan “Lembah Kematian” akibat konflik antarkomunitas, pencurian ternak, dan aksi kelompok bersenjata yang telah merenggut ratusan nyawa.
Namun, dalam empat tahun terakhir, upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden William Ruto melalui operasi keamanan Maliza Uhalifu disebut telah membawa perubahan terhadap situasi keamanan di kawasan tersebut.
Murkomen menilai festival budaya juga menjadi momentum untuk merayakan kembalinya kondisi yang lebih damai di West Pokot County dan kawasan Lembah Kerio, sekaligus memperkuat komitmen mempertahankan stabilitas tersebut.
“Acara ini juga menjadi perayaan atas kembalinya perdamaian di West Pokot County dan kawasan Lembah Kerio yang lebih luas, sekaligus komitmen untuk melakukan lebih banyak upaya guna mempertahankannya,” kata Murkomen.
Ia juga mengajak masyarakat menghargai perbedaan budaya dan membangun sikap toleransi. Melalui kegiatan semacam ini, warisan budaya diharapkan tidak hanya bertahan sebagai identitas masyarakat, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mempererat hubungan sosial, mendukung pariwisata, dan menciptakan kesempatan ekonomi bagi komunitas lokal. []
Redaksi01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara