Wisata Hiu Paus Dongkrak Ekonomi Warga Desa Botubarani, 80 Orang Raup Penghasilan

BOTUBARANI – Kemunculan hiu paus di perairan Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Sekitar 80 warga kini memperoleh penghasilan dari aktivitas wisata bahari, mulai dari penyewaan perahu, jasa menyelam, hingga penyediaan layanan fotografi udara menggunakan pesawat nirawak (drone).

Perubahan tersebut turut menggeser mata pencaharian sebagian masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor perikanan. Wisatawan yang datang untuk menyaksikan hiu paus menjadi sumber pendapatan alternatif bagi warga, sekaligus mendorong Botubarani berkembang sebagai destinasi wisata bahari.

Salah seorang warga, Ansar Lasimpala, 47 tahun, merasakan perubahan tersebut setelah beralih dari pekerjaan sebagai nelayan menjadi penyedia jasa wisata perahu. Ia mengaku pendapatan yang diperoleh sekarang lebih baik dibandingkan ketika masih mengandalkan hasil tangkapan ikan.

“Sekarang pekerjaan saya lebih santai dan penghasilannya cukup bagus,” kata Ansar, sebagaimana diberitakan Reuters, Jumat (06/11/2026).

Ansar menyebut pendapatannya dapat mencapai Rp3 juta per bulan, meningkat dibandingkan penghasilan sebelumnya yang sekitar Rp400 ribu. Ia menjadi salah satu dari sekitar 80 warga yang memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut.

Popularitas wisata hiu paus Botubarani mulai meningkat setelah video yang memperlihatkan kemunculan sekitar belasan hiu paus beredar di media sosial Facebook pada 2016. Sejak saat itu, kawasan pesisir tersebut semakin dikenal wisatawan, termasuk pengunjung mancanegara yang sengaja datang ke Gorontalo untuk menyaksikan satwa laut berukuran besar tersebut.

Salah seorang wisatawan asal Belanda, Renee Westerbeek, mengaku tertarik mengunjungi Gorontalo karena ingin melihat hiu paus secara langsung.

“Ini hewan yang sangat besar, jadi ini benar-benar pengalaman yang luar biasa,” kata Westerbeek setelah melakukan aktivitas berenang permukaan (snorkeling) bersama hiu paus.

Daya tarik wisata tersebut juga berkaitan dengan kemunculan hiu paus yang telah berlangsung selama puluhan tahun di perairan Botubarani. Pemimpin pariwisata regional, Wahab Matoka, mengatakan penyebaran video melalui Facebook menjadi salah satu faktor yang membuat keberadaan satwa tersebut semakin dikenal masyarakat luas.

Namun, perkembangan wisata hiu paus juga memunculkan persoalan terkait keberlanjutan ekosistem laut. Aktivitas pemberian makan secara terus-menerus dikhawatirkan dapat mengubah perilaku alami sekaligus menimbulkan risiko kesehatan bagi satwa yang berstatus terancam punah tersebut.

Iqbal Herwata Putra dari Konservasi Indonesia mengingatkan pentingnya pembatasan aktivitas wisata agar interaksi manusia dengan satwa laut tetap terkendali.

“Pembatasan membantu memastikan manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan,” katanya.

Sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan hiu paus terhadap pemberian makan oleh manusia, tim pemantauan yang dibentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan teknologi penarik biota laut bertenaga surya. Perangkat tersebut memanfaatkan cahaya untuk menarik plankton dan ikan-ikan kecil yang menjadi bagian dari sumber makanan alami hiu paus.

Kepala tim pemantauan, Sukirman Tilahunga, menjelaskan Botubarani merupakan salah satu kawasan tempat hiu paus mencari makan sepanjang siklus hidupnya. Satwa yang umumnya terlihat di perairan tersebut merupakan individu jantan muda dengan panjang sekitar empat hingga enam meter.

Konservasi Indonesia memperkirakan populasi hiu paus di wilayah kepulauan bagian timur Indonesia mencapai 699 ekor. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya perlindungan habitat dan pengelolaan aktivitas wisata agar keberadaan satwa langka itu tetap terjaga.

Bagi masyarakat Botubarani, keberadaan hiu paus tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi sumber penghidupan melalui kegiatan pariwisata. Ansar berharap satwa tersebut tetap berada di perairan setempat sehingga manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat dapat terus berlanjut.

“Jika hiu paus diberi makan, itu akan menguntungkan penduduk desa,” tambahnya.

Ke depan, pengembangan wisata Botubarani membutuhkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi masyarakat dan perlindungan ekosistem laut. Pengelolaan wisata yang memperhatikan perilaku alami hiu paus diharapkan dapat menjaga potensi pendapatan warga sekaligus mempertahankan daya tarik bahari desa tersebut. []

Redaksi02

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Olahan Hasil Laut Jadi Andalan Ekonomi Keluarga Desa Batudaa Pantai

PDF 📄LIMBOTO – Produk olahan hasil laut dan makanan tradisional menjadi salah satu potensi usaha …

Jateng Siapkan 1.000 Desa Wisata, Ekonomi Pedesaan Jadi Sasaran

PDF 📄MAGELANG – Pengembangan 1.000 desa wisata di Jawa Tengah pada 2026–2027 diarahkan untuk membuka …

Potensi Desa Kendal Disiapkan Jadi Kekuatan Ekonomi Lokal

PDF 📄KENDAL – Badan Permusyawaratan Desa (BPD) didorong mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan potensi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *