KATHMANDU – Perluasan akses pasar menjadi salah satu peluang bagi petani dan produsen kecil untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian lokal. Upaya tersebut dilakukan melalui Pameran Pertanian dan Perdagangan Tradisional 2083 di Dhapasi, Kathmandu, Nepal, yang menghadirkan sekitar 50 stan produk pertanian, pangan tradisional, benih lokal, dan hasil produksi ramah lingkungan.
Kegiatan yang berlangsung pada 4–5 November 2026 di Balai Dhapasi Height, Kotamadya Tokha-4, tersebut mempertemukan petani, produsen, pengusaha kecil, pedagang, dan konsumen dari berbagai wilayah pegunungan, perbukitan, serta dataran rendah Nepal.
Pameran yang digagas Indigenous Agri Products Nepal bersama World Nature Conservation Nepal itu diarahkan untuk memperpendek rantai pemasaran dengan membangun hubungan langsung antara produsen dan konsumen. Melalui pola tersebut, produk pertanian lokal diharapkan memperoleh jangkauan pasar lebih luas sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha kecil.
Penyelenggara memperkirakan sekitar 5.000 konsumen dan pemangku kepentingan akan berpartisipasi. Transaksi perdagangan selama kegiatan tersebut ditargetkan mencapai 2 juta rupee Nepal.
Selain menjadi tempat transaksi, pameran yang diselenggarakan bertepatan dengan perayaan Tihar dan Chhath itu juga mengangkat pentingnya pelestarian varietas tanaman asli, benih lokal, keanekaragaman hayati pertanian, serta budaya pangan tradisional Nepal.
Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan presentasi khusus dari Bal Krishna Joshi dari Bank Gen Nasional. Pembahasan berfokus pada konsep pertanian emas, konservasi tanaman asli, dan perlindungan varietas lokal sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan sumber daya pertanian.
Memasuki hari kedua, agenda diarahkan pada pertemuan antara pengusaha, pedagang, dan pelaku pemasaran daring yang bergerak dalam perdagangan produk pertanian lokal. Diskusi juga membahas keterlibatan hotel, restoran, dan sekolah dalam mendukung pelestarian sekaligus pengembangan pasar makanan tradisional Nepal.
Sebanyak 15 jenis makanan lokal dan tradisional turut diperkenalkan serta dipasarkan kepada pengunjung. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi perempuan untuk menunjukkan keterampilan memasak dan pengetahuan kuliner tradisional melalui kompetisi yang diikuti 10 peserta. Tiga peserta terbaik mendapatkan hadiah dan sertifikat.
Aspek keberlanjutan pertanian turut menjadi perhatian melalui pameran pupuk kandang sapi, pupuk cair organik tradisional atau Jhol, benih lokal, tanaman, serta berbagai produk pertanian ramah lingkungan.
Pada agenda hari ketiga yang disebutkan penyelenggara, kegiatan dirancang mencakup diskusi dan praktik penggunaan tungku modern ramah lingkungan, penghematan energi, pengurangan polusi asap, serta pengolahan makanan lokal. Program khusus Deusi-Bhailo juga dijadwalkan sebagai bagian dari pelestarian tradisi masyarakat Nepal.
Pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai keterampilan tradisional, seperti pembuatan duna-tapari atau wadah dari daun, penggunaan alat musik tabuh, penggilingan dan penumbukan jagung, hingga proses pemanggangan jagung.
Sebagaimana diberitakan Arthakhabar, Kamis (05/11/2026), penyelenggara memandang pameran tersebut bukan sekadar kegiatan perdagangan, melainkan upaya membangun hubungan jangka panjang antara petani, produsen, pengusaha, pasar, dan konsumen.
Melalui kegiatan tersebut, pengembangan pemasaran produk lokal diharapkan dapat membuka peluang kewirausahaan pertanian, memperkuat keterlibatan perempuan dan generasi muda, serta meningkatkan minat generasi berikutnya terhadap pertanian lokal dan budaya pangan tradisional Nepal.
Dengan semakin terbukanya akses pasar bagi produk pertanian setempat, petani dan produsen kecil diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha serta meningkatkan nilai ekonomi hasil produksi mereka. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara