Air Laut Menggerus Sawah, Sejarah Panjang Empan Tepo’ Terungkap

Masuknya air laut secara berulang, pengikisan tanah, dan rusaknya pematang sawah selama puluhan tahun mengubah lahan pertanian produktif di Desa Banggae menjadi kawasan perairan Empan Tepo’ yang kini dimanfaatkan untuk pengembangan fasilitas pendidikan.

TAKALAR – Hilangnya lahan pertanian produktif milik warga Desa Banggae menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya kawasan Empan Tepo’ di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Perubahan bentang alam yang berlangsung selama puluhan tahun akibat masuknya air laut dan pengikisan tanah tersebut kini menyisakan hamparan perairan yang telah dialihkan pemanfaatannya untuk pengembangan fasilitas pendidikan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).

Sebelum dikenal sebagai kawasan perairan, Empan Tepo’ merupakan lahan pertanian subur yang berada di sekitar aliran sungai kecil dengan lebar sekitar 3 hingga 5 meter. Aliran tersebut menghubungkan Sungai Pappa dengan laut dan menjadi jalur masuk air laut ketika terjadi pasang.

Menurut penuturan warga yang mengetahui sejarah kawasan tersebut, masuknya air laut secara berulang menyebabkan tanah pertanian mengalami pengikisan sekaligus perubahan kualitas akibat kandungan garam. Dampaknya meluas dari Dusun Banggae hingga Dusun Jarannika, sehingga lahan yang sebelumnya produktif semakin sulit ditanami.

“Karena proses ini berlangsung secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama, abrasi atau pengikisan tanah oleh air garam terjadi secara masif hingga menghancurkan lahan pertanian dan mencapai wilayah Dusun Jarannika,” ujar salah seorang warga.

Kondisi tersebut membuat produktivitas pertanian terus menurun. Tingginya kandungan garam pada tanah menyebabkan tanaman sulit berkembang dan memicu kegagalan panen berkepanjangan. Beban pajak yang tetap dirasakan warga ketika lahan tidak lagi menghasilkan turut memperberat kondisi masyarakat.

Lahan yang tidak lagi produktif akhirnya ditinggalkan dan beralih fungsi menjadi tempat penggembalaan kerbau. Aktivitas ribuan ternak yang setiap hari melintasi pematang sawah turut mempercepat kerusakan batas-batas petak pertanian yang sebelumnya masih tersisa.

Seiring berjalannya waktu, pematang yang terkikis dan aliran air yang semakin melebar membentuk hamparan perairan. Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Empan Tepo’, yang secara geografis memisahkan wilayah Kelurahan Magadu di bagian utara dengan Desa Banggae di bagian selatan.

Perubahan tersebut menyisakan penyesalan bagi sebagian warga. Mereka menilai pembangunan infrastruktur pengendali air laut, seperti tanggul dan pintu air, seharusnya dapat dipertimbangkan sejak awal untuk melindungi lahan pertanian dari ancaman abrasi dan masuknya air asin.

“Seandainya dulu pemerintah fokus membangun tanggul atau pintu air untuk mencegah air laut masuk saat pasang, mungkin lahan subur itu tidak akan berubah menjadi Empang Tepo’ seperti sekarang ini,” pungkas warga.

Kini, kawasan Empan Tepo’ telah diambil alih oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Takalar dan diserahkan kepada pihak ISBI untuk pengembangan fasilitas pendidikan. Perubahan pemanfaatan kawasan tersebut menandai babak baru bagi wilayah yang sebelumnya menjadi bagian dari aktivitas pertanian masyarakat.

Sejarah terbentuknya Empan Tepo’ menjadi pengingat pentingnya perlindungan lahan produktif dan pengelolaan kawasan pesisir secara berkelanjutan. Pengalaman masyarakat Banggae diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam perencanaan pembangunan, khususnya terkait pengendalian air laut, perlindungan pertanian, dan mitigasi perubahan lingkungan di wilayah pesisir. []

Redaksi 01

About redaksi01

Check Also

Bukan Sekadar Wisata Alam, Desa Punten Andalkan Potensi Warga

PDF 📄BATU – Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, mengembangkan sektor pariwisata dengan …

Pemerintah Siapkan Rp1,5 Miliar per Desa untuk Pengembangan Budi Daya Ikan

PDF 📄PALEMBANG – Desa dan kelurahan di Sumatera Selatan (Sumsel) berpeluang memperoleh anggaran Rp1,5 miliar …

BUMDes Kumayun Jati Dikeluhkan Warga, Bau Kandang Kambing Diduga Ganggu Permukiman

PDF 📄DELI SERDANG – Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kumayun Jati di Desa Jati …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *