BATU – Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, mengembangkan sektor pariwisata dengan menjadikan potensi ekonomi masyarakat sebagai kekuatan utama. Pertanian jeruk, peternakan, pengolahan hasil pangan, budidaya jamur, hingga pengelolaan sampah dirangkai menjadi produk wisata yang melibatkan berbagai kelompok warga.
Model pengelolaan tersebut menjadikan masyarakat bukan sekadar pelengkap kegiatan pariwisata, melainkan bagian utama dari ekosistem usaha desa. Petani, peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), seniman, serta warga yang menyediakan tempat tinggal bagi wisatawan memiliki ruang untuk terlibat dalam kegiatan wisata.
Pengelola Desa Wisata Punten, Yayuk Murniwati, menjelaskan bahwa pengembangan destinasi dilakukan dengan menghubungkan berbagai potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, produk wisata tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga, sebagaimana diberitakan KabarBaik, Kamis (05/11/2026).
“Di Desa Wisata Punten sistem pengelolaannya pemberdayaan masyarakat. Paket wisata ini bukan sepenuhnya milik desa, tetapi milik masyarakat. Manajemennya menjahit potensi lokal yang ada, sehingga semua masyarakat bisa terlibat,” papar Yayuk.
Salah satu bentuk pengembangan tersebut terlihat dari beragam kegiatan yang ditawarkan kepada pengunjung. Wisatawan dapat mengikuti aktivitas kendaraan segala medan (ATV), perjalanan jip lintas alam, kunjungan pembelajaran, program tinggal bersama warga, hingga memetik jeruk keprok Punten ketika musim panen.
Keterlibatan masyarakat juga terlihat dalam kegiatan kunjungan pembelajaran atau studi banding. Program ini memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah maupun desa dari luar wilayah untuk mempelajari pengelolaan destinasi wisata berbasis potensi lokal.
“Kalau dinas atau desa dari luar daerah mau studi tiru dalam hal pengelolaan desa wisata dan manajemen desa wisata, mereka bisa belajar ke sini,” terang Yayuk, Kamis (05/11/2026).
Peserta studi banding tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan pariwisata, tetapi juga diperkenalkan dengan aktivitas produktif masyarakat. Kegiatan tersebut mencakup pengolahan keripik apel, peternakan sapi dan kelinci, pembibitan serta budidaya jamur tiram, pertanian jeruk dan jambu merah, hingga pengolahan sampah melalui tempat pengolahan sampah dengan prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang (TPS3R).
“Jadi bukan hanya melihat potensi wisatanya, tetapi juga belajar bagaimana potensi yang ada di masyarakat bisa dikembangkan menjadi bagian dari desa wisata,” jelas Yayuk.
Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat juga dilakukan melalui program tinggal bersama warga. Dalam kegiatan ini, wisatawan menginap selama dua hari satu malam atau tiga hari dua malam dan mengikuti aktivitas keseharian penduduk setempat.
Peserta diajak memasak bersama, pergi ke kebun, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat. Program tersebut banyak diminati, terutama oleh sekolah-sekolah internasional yang ingin memberikan pengalaman kehidupan pedesaan kepada peserta didiknya.
“Peserta kami ajak membaur bersama warga, melakukan berbagai aktivitas. Seperti memasak dan pergi ke kebun. Sehingga mereka merasa mendapatkan keluarga baru,” ungkap Yayuk.
Sementara itu, sektor pertanian memperoleh ruang promosi melalui paket wisata petik jeruk keprok Punten. Kegiatan tersebut biasanya berlangsung pada musim panen April hingga Juli atau Agustus, ketika wisatawan dapat memetik langsung buah dari kebun warga.
Menurut Yayuk, pengalaman memetik jeruk menjadi salah satu kegiatan yang mendorong wisatawan kembali berkunjung pada musim panen berikutnya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga disebut pernah mengikuti kegiatan tersebut.
“Banyak wisatawan yang menanti musim panen jeruk. Yang pernah mencoba biasanya datang lagi pada panen berikutnya. Salah satunya Ibu Khofifah,” ujarnya.
Pengembangan potensi pertanian menjadi atraksi wisata memperlihatkan upaya memperluas pemanfaatan hasil dan aktivitas perkebunan. Dengan demikian, kebun jeruk tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan produksi pertanian, tetapi juga memiliki fungsi sebagai daya tarik kunjungan wisata.
Di luar keterlibatan masyarakat, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu melalui Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu turut memberikan pembinaan untuk meningkatkan kapasitas pengelola destinasi. Dukungan tersebut mencakup penguatan sumber daya manusia (SDM), kelembagaan, pemasaran, dan infrastruktur pariwisata.
Kepala Disparta Kota Batu Onny Ardianto mengatakan, pengelola desa wisata perlu memiliki kemampuan yang memadai agar dapat memberikan pelayanan profesional kepada pengunjung.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah memberikan bimbingan teknis dan peningkatan kapasitas kepada pengelola, termasuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Materi pembinaan meliputi kemampuan pelayanan dan keramahtamahan, bahasa asing, penyampaian narasi wisata, hingga mitigasi bencana pariwisata. Selain itu, pemerintah mendorong penguatan kelembagaan melalui manajemen transparan, standar operasional prosedur (SOP), serta regulasi desa yang mendukung pengembangan destinasi.
“Kami mendorong desa wisata agar tidak hanya memiliki atraksi, tetapi juga mempunyai tata kelola yang baik, SDM yang siap, serta produk wisata yang mampu memberikan pengalaman bagi pengunjung,” jelas Onny.
Pemkot Batu juga mendorong setiap desa wisata memiliki keunggulan pembeda yang dapat memperkuat identitas destinasi. Potensi lokal perlu dikemas melalui strategi pemasaran digital agar lebih mudah dikenal dan mampu menjangkau calon wisatawan.
Promosi turut dilakukan melalui perjalanan pengenalan wisata dan kunjungan bagi pelaku industri pariwisata serta media. Strategi tersebut diarahkan untuk memperluas informasi mengenai potensi setiap destinasi sekaligus memperkuat daya saing desa wisata.
Peningkatan kualitas destinasi juga diarahkan melalui tahapan pengembangan, mulai dari kategori Rintisan, Berkembang, Maju, hingga Mandiri. Selain kualitas atraksi, kesiapan infrastruktur seperti akses jalan, penunjuk arah, toilet, balai pertemuan, dan fasilitas pendukung wisata menjadi perhatian pemerintah.
“Penguatan infrastruktur turut menjadi bagian dari dukungan tersebut. Mulai akses jalan, penunjuk arah, hingga amenitas publik seperti toilet, balai pertemuan, serta fasilitas pendukung atraksi wisata,” pungkasnya.
Pengembangan Desa Wisata Punten menunjukkan bahwa kekuatan pariwisata pedesaan dapat dibangun melalui keterhubungan berbagai sektor ekonomi masyarakat. Pertanian, peternakan, usaha pengolahan pangan, pengelolaan lingkungan, dan kebudayaan menjadi bagian dari satu rangkaian produk wisata.
Melalui keterlibatan warga dan dukungan pemerintah, pengembangan destinasi diharapkan tidak hanya meningkatkan daya tarik kunjungan, tetapi juga memperluas kesempatan masyarakat untuk mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi pariwisata secara berkelanjutan. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara