Festival Bagamoyo Bidik 6.000 Pengunjung, Usaha Lokal Berpeluang Tumbuh

BAGAMOYO – Festival Seni dan Budaya Internasional Bagamoyo ke-44 diproyeksikan menjadi ruang promosi bagi perajin dan pelaku usaha lokal Tanzania, dengan target lebih dari 6.000 pengunjung selama penyelenggaraan pada 28–31 Oktober 2026. Selain pertunjukan seni, kegiatan ini menyediakan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memamerkan dan menjual produk budaya kepada pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Institut Seni dan Budaya Bagamoyo (Bagamoyo Arts and Culture Institute atau TaSUBa) mengumumkan penyelenggaraan festival tersebut, termasuk gala pembuka pada 27 Oktober 2026. Pelaksana Tugas Kepala TaSUBa, Gabriel Kiiza, mengatakan kegiatan itu akan mempertemukan seniman, pemangku kepentingan budaya, pelaku usaha, dan pengunjung dari Tanzania serta berbagai negara.

Festival tahun ini mencakup pertunjukan panggung, pameran kerajinan tradisional, pameran lembaga publik dan swasta, pemutaran film, lokakarya, pelatihan seni, serta tur berpemandu ke situs bersejarah dan lokasi warisan budaya Bagamoyo.

Menurut Kiiza, sebanyak 146 kelompok telah mengajukan permohonan untuk berpartisipasi. Jumlah tersebut terdiri atas 104 kelompok lokal dan 42 kelompok internasional. Pertunjukan yang direncanakan meliputi tarian tradisional, akrobat, musik kontemporer dan tradisional, drama, puisi, komedi, serta bentuk seni kreatif lainnya.

Dari sisi ekonomi, festival ini memberi ruang bagi perajin dan pengusaha untuk menawarkan produk seperti manik-manik, keranjang, pakaian tradisional, kerajinan tangan, dan barang dekoratif. Pengunjung juga dapat menikmati kuliner serta minuman khas kawasan pesisir Tanzania.

Ketua Festival, Huruma Haule, menyampaikan bahwa persiapan acara berjalan baik. Selain menargetkan lebih dari 6.000 pengunjung di lokasi festival, penyelenggara memperkirakan kegiatan tersebut dapat menjangkau lebih dari 900.000 orang melalui televisi, radio, dan platform digital.

Jangkauan media tersebut berpotensi menjadi sarana promosi yang lebih luas bagi pelaku usaha dan sponsor. Meski demikian, besarnya dampak ekonomi terhadap masyarakat setempat akan bergantung pada partisipasi usaha lokal, transaksi yang terjadi selama festival, serta peluang pemasaran yang berlanjut setelah acara berakhir.

Direktur Vision Investment, Ally Nchahaga, mengajak perusahaan memanfaatkan festival sebagai sarana memperkenalkan merek dan layanan melalui aktivasi produk serta pemasaran berbasis pengalaman. Ia juga menilai kegiatan ini dapat membantu organisasi mempererat hubungan dengan pelanggan sekaligus menunjukkan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility atau CSR) melalui dukungan terhadap pelestarian warisan budaya Tanzania.

Dengan menggabungkan pertunjukan seni, promosi produk, dan pariwisata warisan budaya, Festival Bagamoyo berpotensi mempertemukan pelestarian tradisi dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang promosi tersebut menghasilkan manfaat nyata bagi seniman, perajin, dan usaha lokal. []

Redaksi02

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

BPD Purbalingga Didorong Awasi Dana Desa agar Transparan

PDF 📄PURBALINGGA – Keterbatasan jumlah personel perlindungan masyarakat menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keamanan …

Malam Seribu Lilin, Tradisi Leluhur yang Terus Hidup di Kedokan Bunder

PDF 📄Warga Desa Kedokan Bunder menyalakan ribuan lilin di kompleks pemakaman sebagai puncak unjungan tahunan …

Desa Wisata Lombok Didorong Kelola Sampah Secara Mandiri

PDF 📄MATARAM – Pengelolaan sampah secara mandiri menjadi salah satu langkah yang didorong Pemerintah Provinsi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *