INDRAMAYU – Pemerintah Desa (Pemdes) Telukagung, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, menyiapkan perubahan jadwal tanam padi secara serentak dari Januari menjadi Desember pada periode 2026–2027. Strategi ini disiapkan untuk membantu petani menghadapi serangan hama sekaligus mengupayakan harga jual gabah yang lebih maksimal di tengah tantangan pengelolaan pertanian.
Kepala Desa (Kades) Telukagung, Rasmani, menjelaskan bahwa pertanian masih menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat setempat. Desa Telukagung memiliki lahan pertanian sekitar 148 hektare yang dimanfaatkan untuk budi daya padi.
Menurut Rasmani, hasil panen pada musim tanam kali ini cukup menjanjikan. Setiap bau lahan diperkirakan menghasilkan gabah sekitar 6–7 ton, sedangkan harga jualnya dapat mencapai lebih dari Rp6.600 sesuai kondisi dan kualitas gabah di pasaran.
Namun, potensi hasil panen tersebut masih dihadapkan pada persoalan ketersediaan air dan serangan organisme pengganggu tanaman. Kondisi kekeringan akibat fenomena *El Niño* menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi agar kegiatan pertanian tetap berjalan.
“Walaupun pada musim kekeringan akibat dampak El Niño, persoalan ketersediaan air untuk pertanian di Desa Telukagung masih dapat diatasi dengan baik. Kami dari pihak desa terus berkoordinasi dengan BBWS agar pasokan air tetap tersedia,” ungkap Rasmani, sebagaimana dilansir Suburjagat, Rabu, (28/10/2026).
BBWS merupakan singkatan dari Balai Besar Wilayah Sungai. Rasmani menjelaskan bahwa air dapat disalurkan melalui saluran sekunder Sindu Perja setiap dua minggu. Selain itu, Pemdes Telukagung mengupayakan agar sistem pompanisasi tetap aktif untuk mendukung kebutuhan air di lahan pertanian.
Di sisi lain, petani masih menghadapi serangan hama tikus serta gejala padi kelowor yang, menurut Rasmani, berkaitan dengan tingkat keasaman tanah. Persoalan tersebut menjadi pertimbangan dalam menyiapkan strategi musim tanam berikutnya.
Pemdes Telukagung merencanakan penyesuaian waktu tanam agar pelaksanaan penanaman dapat dilakukan secara serentak pada Desember, lebih awal dibandingkan jadwal yang biasanya berlangsung pada Januari.
“Biasanya penanaman dilakukan pada Januari. Ke depan, kami merencanakan penanaman serentak pada Desember. Harapannya, langkah ini dapat membantu menghindari serangan hama sekaligus menyiasati harga gabah agar petani memperoleh harga jual yang lebih maksimal,” jelasnya.
Perubahan jadwal tersebut diharapkan membantu petani merencanakan kegiatan budi daya padi dengan lebih terarah. Meski demikian, efektivitas strategi ini dalam menekan serangan hama dan memperbaiki harga jual gabah masih perlu dilihat dari pelaksanaannya pada musim tanam mendatang.
Di tengah upaya tersebut, masyarakat Telukagung juga mempertahankan tradisi sedekah bumi yang digelar pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat itu menjadi ungkapan syukur atas rezeki dan hasil pertanian, sekaligus sarana mendoakan leluhur, mempererat silaturahmi, dan melestarikan warisan budaya.
Untuk menambah kemeriahan, panitia menghadirkan pertunjukan sandiwara yang disambut antusias oleh masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bahwa kehidupan pertanian di desa tidak hanya berkaitan dengan produksi dan hasil panen, tetapi juga dengan kebersamaan serta pelestarian budaya setempat.
Ke depan, ketersediaan air, pengendalian hama, dan penyesuaian jadwal tanam menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan pertanian Telukagung. Pemdes berharap strategi yang direncanakan dapat mendukung produktivitas lahan, membantu petani memperoleh harga jual yang lebih optimal, serta menjaga pertanian sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakat desa. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara