Penataan jaringan listrik dan Wi-Fi di kawasan Tomsu, Desa Tarubatang, dilakukan untuk mendukung keselamatan aktivitas paralayang yang berkembang dari inisiatif pemuda setempat, bukan semata-mata untuk mempercantik kawasan desa.
BOYOLALI – Pemerintah Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, melakukan penataan jaringan listrik dan Wi-Fi di kawasan Tomsu atau Tompak Surodadi untuk mendukung aktivitas paralayang yang berkembang sebagai salah satu kegiatan wisata desa.
Penataan dilakukan dengan menanam kabel sekitar 1,5 meter di bawah permukaan tanah sepanjang kurang lebih 400 meter. Langkah tersebut diambil karena keberadaan jaringan listrik di atas tanah dinilai dapat mengganggu penerbangan paralayang, terutama ketika penerbang melakukan pendekatan untuk mendarat.
Kepala Desa (Kades) Tarubatang Sabarno mengatakan gagasan penanaman kabel bermula dari kebutuhan aktivitas paralayang yang berkembang di kawasan tersebut. Sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis, (24/09/2026), pemerintah desa menerima masukan dari para penggemar paralayang sebelum mengajukan pembangunan jaringan bawah tanah.
“Awal mulanya dari pemerintah desa itu mempunyai ide menanam kabel listrik. Di wilayah Tomsu atau tompak Surodadi Itu terkait dengan adanya pariwisata paralayang,” ujarnya saat ditemui Kompas.com di Kantor Desa Tarubatang, Rabu (23/9/2026).
Menurut Sabarno, keberadaan jaringan listrik di sekitar kawasan penerbangan menjadi pertimbangan utama karena aktivitas paralayang membutuhkan ruang dan perhitungan tertentu saat melakukan pendaratan.
“Panjang kabel kurang lebih 400 meter. Ya lumayan. Ya kabel itu kalau tidak ditanam otomatis mengganggu bagi para paralayang untuk mengadakan aktivitas,” imbuhnya.
Ia menjelaskan penerbang harus memperhitungkan jarak serta derajat ketinggian sebelum melakukan pendaratan. Kondisi jaringan listrik yang sebelumnya berada di atas tanah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika penerbangan berlangsung.
“Dari kejauhan berapa meter kita ambil berapa derajat gitu baru turun (mendarat). Lah pas pengambilan (mendarat) pertama (sebelum ada kabel bawah tanah) itu kan waktu itu di jaringan listrik,” jelasnya.
Untuk mengurangi gangguan tersebut, kabel ditempatkan dalam pipa pelindung sebelum ditanam. Jaringan listrik dan Wi-Fi juga ditempatkan pada jalur yang berbeda di kawasan tersebut.
“Yang ditanam di sana itu kabel listrik sama itu loh Wi-Fi. Iya, itu ditanam untuk yang Wi-Fi itu di sebelah kanan dari arah Gebyog, sedangkan yang listrik kan sebelah kiri itu,” imbuhnya.
Pengembangan fasilitas tersebut tidak terlepas dari munculnya kegiatan paralayang yang awalnya digagas pemuda setempat. Kegiatan itu kemudian dikelola bersama komunitas dan berkaitan dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
“Paralayang itu awal mulainya itu dari kan dari pemuda. Pemuda-pemuda itu kan ada mengadakan inisiatif ingin membuat paralayang,” terang Sabarno.
Pengembangan paralayang berlangsung sekitar 2023 setelah pandemi. Pemerintah Desa Tarubatang kemudian mengajukan kebutuhan pembangunan jaringan bawah tanah kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali.
Pengusulan hingga realisasi pembangunan membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Peresmian dilakukan pada Agustus 2023 bertepatan dengan kegiatan menyambut peringatan 17 Agustus dan turut dihadiri Bupati Boyolali.
Sabarno mengatakan pembangunan jaringan tersebut merupakan bantuan Pemkab Boyolali. Pemerintah desa menyampaikan kebutuhan, sedangkan pengerjaan dilakukan pihak kabupaten menggunakan alat berat dan melibatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Sabarno mengaku tidak mengetahui secara rinci besaran anggaran maupun Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan tersebut. Pemerintah desa, kata dia, hanya menyampaikan permohonan kepada Pemkab Boyolali sebelum pembangunan direalisasikan.
Penataan jaringan bawah tanah tersebut juga tidak diterapkan di seluruh wilayah Desa Tarubatang. Fasilitas itu hanya berada di sekitar kawasan Tomsu yang digunakan untuk kegiatan paralayang.
Sabarno menegaskan pemasangan kabel tidak sejak awal ditujukan untuk menjadikan kawasan desa lebih indah. Tujuan utamanya adalah menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas penerbangan paralayang.
“Enggak ada. Enggak (ada tujuan kabel bawah tanah untuk estetika). Cuma untuk mengamankan dari tim paralayang ketika mengadakan kegiatan,” ucapnya.
Aktivitas paralayang di Tarubatang hingga kini masih berlangsung, meski tidak memiliki jadwal rutin. Pelaksanaannya bergantung pada kondisi cuaca, terutama arah dan kekuatan angin, serta kedatangan komunitas yang hendak melakukan kegiatan.
Selain Tarubatang, komunitas paralayang juga dapat menggunakan sejumlah lokasi lain, seperti Wonogiri dan Kemuning. Sementara di Tarubatang, penataan jaringan bawah tanah menjadi salah satu fasilitas yang dibangun seiring pengembangan kegiatan paralayang di kawasan tersebut.
Dengan demikian, jaringan kabel bawah tanah di Tomsu menjadi bagian dari penyesuaian fasilitas desa terhadap kebutuhan aktivitas paralayang yang berkembang dari inisiatif masyarakat setempat. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara