LANGKAT – Universitas Sumatera Utara (USU) mengembangkan model desa tangguh banjir di Desa Cempa, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dengan menggabungkan teknologi budidaya ikan, pertanian, peternakan, serta pemberdayaan masyarakat. Program yang berlangsung hingga 2028 tersebut diarahkan untuk menjaga produktivitas warga di tengah ancaman banjir tahunan.
Pengembangan model tersebut dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USU melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Desa Binaan dengan pendanaan Non-PNBP LPPM USU tahun 2026. Program ini menyasar petani, peternak, pembudidaya ikan, serta kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Ketua tim pelaksana Elisa Julianti mengatakan Desa Cempa sebenarnya memiliki beragam potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Sektor pertanian menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat dengan komoditas kelapa sawit yang produksinya mencapai sekitar 83.000 ton per tahun.
Selain kelapa sawit, Desa Cempa memiliki potensi hortikultura berupa jeruk sekitar 150 ton per tahun dan jambu madu. Masyarakat juga mengembangkan peternakan ayam ras, puyuh, kambing, dan sapi serta budidaya ikan lele dengan produksi sekitar 1,5 ton per tahun.
Potensi ekonomi tersebut diperkuat berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat, seperti tempe, sate, keripik pisang dan ubi, serta produk berbahan lidi sawit. Sungai dan parit di wilayah tersebut juga berpotensi dikembangkan sebagai wisata alam dan edukasi.
“Namun, berbagai potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal,” Prof. Elisa Julianti melalui siaran pers yang diterima Senin (14/9/2026), sebagaimana diberitakan GoSumut, Senin, (14/09/2026).
Persoalan banjir menjadi salah satu hambatan utama dalam mengoptimalkan potensi tersebut. Banjir tahunan pada musim penghujan dapat menyebabkan genangan hingga sekitar dua bulan sehingga aktivitas pertanian, peternakan, dan perikanan terganggu. Kondisi itu juga berdampak terhadap infrastruktur, transportasi, dan distribusi hasil produksi warga.
Pada budidaya ikan, misalnya, masyarakat masih banyak menggunakan kolam atau keramba sederhana. Salah seorang pembudidaya ikan gurami melaporkan dari 5.000 ekor benih yang ditebar hanya sekitar 1.000 ekor yang mampu bertahan hingga panen. Tingkat kematian sekitar 80 persen tersebut menunjukkan perlunya perbaikan teknologi dan pengelolaan kualitas air.
Untuk menekan persoalan itu, tim Fakultas Pertanian USU menyerahkan dua unit kolam bioflok yang dilengkapi aerator serta peralatan pemantauan kualitas air. Teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan sekaligus efisiensi budidaya ikan masyarakat.
Intervensi juga dilakukan pada sektor pertanian melalui penyediaan benih, bahan, dan peralatan untuk membangun demplot budidaya sayuran organik. Sementara untuk peternakan, warga memperoleh alat chopper serta pelatihan pembuatan pakan silase dan Total Mixed Ration (TMR).
Pemberdayaan ekonomi keluarga turut menjadi bagian program melalui pelatihan kepada kelompok ibu-ibu PKK. Mereka diarahkan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah, antara lain abon dan kerupuk ikan, nugget dan bakso jamur tiram, serta telur puyuh asin.
Program tersebut tidak berhenti pada penyerahan teknologi dan peralatan. Pendampingan akan dilakukan hingga 2028 dengan materi peningkatan produksi, pengelolaan keuangan melalui aplikasi sederhana, serta strategi pemasaran secara online. Mahasiswa juga dilibatkan untuk mengevaluasi penerapan teknologi, mencatat transaksi, dan memantau perkembangan pasar.
Pengembangan model Desa Tangguh Banjir ini sekaligus diarahkan untuk mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG), antara lain pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, produksi berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, dan penguatan kemitraan.
Melalui pendampingan berkelanjutan, USU berharap Desa Cempa mampu mempertahankan kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi banjir. Dengan demikian, teknologi yang diterapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung terbentuknya desa yang mandiri, produktif, dan tangguh terhadap perubahan lingkungan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara