TUBAN – Kekeringan berkepanjangan di Kabupaten Tuban (Tuban), Jawa Timur (Jatim), mulai mengubah pola kehidupan warga Desa Waleran, Kecamatan Grabagan. Selain mengancam tanaman jagung gagal panen, kondisi lahan tadah hujan yang mengering membuat sebagian warga mencari pekerjaan lain karena tidak dapat menggarap sawah hingga musim hujan tiba.
Kekeringan telah dirasakan warga sejak Juni 2026 ketika musim tanam II dimulai. Minimnya hujan membuat pertumbuhan jagung terganggu dan hasil produksi petani mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.
Petani Desa Waleran Hendro (37) mengatakan kondisi tersebut membuat hasil dari satu kilogram bibit jagung yang biasanya dapat menghasilkan sekitar empat kuintal, kini hanya sekitar dua kuintal.
“Mulai terjadi kekeringan pada bulan Juni,” ujarnya.
“Perolehan hasil jagung turun sekitar 50 persen,” imbuhnya.
Penurunan produksi semakin berat bagi petani yang terlambat melakukan penanaman. Tanaman jagung mereka mengering sebelum menghasilkan sehingga sebagian petani memilih membiarkannya mati karena biaya pengairan menggunakan air yang dibeli dinilai terlalu mahal.
“Yang belum panen ini pasti gagal panen,” katanya.
Dampak kekeringan kemudian merembet ke pendapatan rumah tangga. Ketika lahan tidak lagi dapat digarap, sebagian warga memilih merantau atau bekerja sebagai buruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Karena lahan tidak bisa digarap, maka mencari alternatif pekerjaan untuk kebutuhan,” ujarnya.
Hendro menilai kondisi kemarau tahun ini lebih berat dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Menurut dia, pada 2024 kondisi tanah masih menyimpan kelembapan sehingga petani masih dapat memperoleh hasil panen.
“Kalau dibandingkan, mending tahun 2024 tanah masih lembab dan masih bisa panen,” pungkasnya.
Di tengah tekanan terhadap sektor pertanian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban meningkatkan penyaluran air bersih kepada wilayah yang mengalami kekeringan. Distribusi telah dilakukan sejak Juli 2026 dengan volume mencapai sekitar 62 ribu liter per hari.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban Sudarmaji mengatakan lima armada tangki dikerahkan untuk menyalurkan air bersih sebanyak dua kali sehari.
“Satu hari sekitar 62 ribu liter,” ujar Sudarmaji, sebagaimana diberitakan Surya, Senin, (14/09/2026).
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan masih berlangsung lebih panjang hingga pertengahan November atau awal Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang tekanan terhadap warga yang bergantung pada lahan tadah hujan.
“Diperkirakan akan mencapai pertengahan November atau di awal Desember,” imbuhnya.
BPBD Tuban saat ini mencatat 19 desa di sembilan kecamatan telah meminta bantuan pasokan air bersih. Namun, kebutuhan tidak selalu mencakup seluruh wilayah dalam satu desa karena tingkat kekeringan dan kebutuhan warga berbeda-beda.
“19 desa itu kita jangan membayangkan satu desa itu semuanya butuh air untuk di dropping,” bebernya.
Dari wilayah yang telah mendapatkan layanan, lima desa tercatat mengalami kondisi paling parah berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK) yang harus dilayani. Salah satunya Desa Ngandong di Kecamatan Grabagan.
“Ada 5 desa yang cukup parah dari jumlah KK yang dilayani,” ucapnya.
BPBD Tuban juga menyiapkan skema tambahan apabila wilayah terdampak terus meluas. Pemkab Tuban akan menggandeng perusahaan swasta yang memiliki armada tangki untuk memperkuat distribusi air.
“Kalau betul-betul bertambah, desa itu mencapai 20 sampai 30 misalnya seperti tahun 2024, maka kita akan dibantu oleh beberapa perusahaan yang memiliki tangki dan nanti akan kita jadwal secara teratur,” pungkas mantan Camat Grabagan itu saat diwawancarai SURYA.CO.ID.
Perpanjangan musim kemarau membuat kebutuhan air bersih dan perlindungan terhadap mata pencaharian warga menjadi dua persoalan yang berjalan bersamaan. Bagi petani jagung di wilayah tadah hujan, pemulihan produksi sangat bergantung pada ketersediaan air dan datangnya musim penghujan, sementara pemerintah menyiapkan distribusi air dan dukungan tambahan apabila kekeringan semakin meluas. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara