SEMARANG – Desa wisata rintisan didorong memanfaatkan jejaring destinasi yang lebih maju untuk memperluas pemasaran produk lokal tanpa harus membangun pasar sendiri dari awal. Pola kolaborasi antardesa wisata dinilai dapat membuat produk khas yang belum banyak dikenal menjangkau wisatawan dari destinasi yang sudah memiliki tingkat kunjungan lebih tinggi.
Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Samuel Wattimena menyampaikan gagasan tersebut saat meninjau Desa Wisata Jatirejo, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026). Menurut dia, desa wisata yang masih dalam tahap rintisan dapat memanfaatkan keberadaan desa wisata yang sudah berkembang untuk memperkenalkan produk unggulannya.
“Desa wisata, terutama yang masih rintisan bisa nebeng ke desa wisata yang memang sudah kategorinya maju,” kata Samuel saat meninjau Desa Wisata Jatirejo, Semarang, Jawa Tengah, Jumat.
Menurut Samuel, kerja sama tersebut dapat dilakukan dengan menempatkan produk dari desa wisata rintisan di destinasi yang lebih dikenal. Cara itu memungkinkan wisatawan memperoleh lebih banyak pilihan produk sekaligus mengenal potensi desa lain yang berada dalam satu kawasan wisata.
Desa Wisata Jatirejo menjadi salah satu contoh yang dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan pola tersebut. Desa ini memiliki produk berbasis kolang-kaling, jahe merah, cabai merah, serta wisata edukasi dan berada tidak jauh dari Desa Wisata Kandri yang telah lebih dikenal wisatawan.
“Kalau ini juga bisa dipromosikan di Kandri, kenapa enggak? Karena Kandri tidak punya produk kolang-kaling, kerupuk kolang-kaling dan lain-lain,” katanya.
Samuel menilai perbedaan potensi antardesa justru dapat menjadi dasar untuk membangun jaringan promosi yang saling menguntungkan. Produk yang tidak tersedia di satu destinasi dapat dipenuhi oleh desa wisata lain sehingga setiap pengelola memiliki ruang untuk memperkenalkan keunggulannya.
“Jadi, apa yang Kandri punya yang tidak dimiliki desa lain bisa diisikan. Apa yang Kandri tidak punya, dimiliki oleh desa lain bisa mengisi ke Kandri,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Jateng Antaranews, Sabtu, (12/09/2026).
Selain mengandalkan produk pangan dan hasil pertanian, Samuel juga menilai suvenir dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas destinasi. Produk yang dibawa wisatawan pulang berpotensi menjadi media promosi karena dapat memperkenalkan karakter suatu desa kepada orang lain.
“Suvenir ini sesuatu yang merupakan hal kecil, tapi bisa menjadi topik untuk kita mempromosikan keberadaan suatu tempat,” katanya.
Ia menekankan suvenir desa wisata perlu memiliki keunikan, ciri khas, dan cerita yang berkaitan dengan tempat asalnya. Produk tersebut juga harus praktis sehingga mudah dibawa wisatawan dan tetap memiliki nilai sebagai kenang-kenangan.
Sementara itu, Ketua Desa Wisata Jatirejo Deny Wikuncoro mengatakan wilayah desanya memiliki luas 238,130 hektare yang terbagi menjadi empat rukun warga dan 14 rukun tetangga.
Jatirejo memiliki sejumlah potensi yang dikembangkan sebagai daya tarik wisata, antara lain kebun kolang-kaling, bumi perkemahan, wisata edukasi Green Fresh Farm (GFF), serta kampung tematik Kokolaka, Kambera, dan Kajera.
Potensi tersebut juga diolah masyarakat menjadi produk kuliner. Salah satu inovasinya adalah nasi guling dengan lauk berbahan kolang-kaling.
“Masyarakat juga berinovasi membuat nasi guling yang lauknya terbuat dari kolang-kaling. Ini merupakan upaya untuk mengolah potensi yang dimiliki,” katanya.
Keterhubungan antardesa wisata diharapkan dapat memperluas manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan. Bagi desa rintisan, kolaborasi dengan destinasi yang telah berkembang dapat menjadi jalur alternatif untuk mengenalkan produk dan identitas lokal sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata berbasis desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara