ACEH BESAR – Desa Atong, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar, berhasil mengubah kebiasaan sanitasi masyarakat setelah 21 jamban sehat dibangun melalui Program Kampung Sehati. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan status Open Defecation Free (ODF) setelah program pendampingan berakhir.
Perubahan tersebut ditandai dengan Deklarasi ODF Desa Atong sekaligus berakhirnya pendampingan Program Kampung Sehati pada Senin (31/8/2026). Program yang dijalankan LKC Dompet Dhuafa Aceh tidak hanya berfokus pada pembangunan sarana sanitasi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi dan penguatan kader.
Selama program berlangsung, 21 jamban sehat dibangun dan diperbaiki di Desa Atong. Pendampingan juga mencakup edukasi sanitasi, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), gotong royong, pengelolaan sampah rumah tangga, serta penguatan 10 kader sanitasi.
Hasil pendampingan menunjukkan seluruh kepala keluarga di desa tersebut telah memiliki jamban pribadi. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi juga meningkat, disertai kebiasaan menggunakan jamban dan meninggalkan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar Neli Ulfiati mengatakan pembangunan sarana sanitasi harus berjalan beriringan dengan pembentukan kebiasaan hidup bersih karena kondisi lingkungan turut berkaitan dengan kesehatan anak.
“Program seperti Kampung Sehati ini tidak hanya berbicara tentang pembangunan jamban, tetapi juga bagaimana masyarakat membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat. Sanitasi yang baik, lingkungan yang bersih, serta perilaku PHBS menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting karena kesehatan anak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan perilaku keluarga,” ungkapnya.
Menurut Neli, keberadaan kader menjadi bagian penting untuk menjaga perubahan yang telah terbentuk di masyarakat. Para kader telah mendapatkan pelatihan untuk memberikan edukasi, memantau kondisi sanitasi, serta menjadi penghubung antara masyarakat dan pelaksana program.
Fasilitator Program Kampung Sehati LKC Dompet Dhuafa Aceh Raisa Adilla menilai perubahan perilaku tidak dapat dicapai hanya dengan menyediakan fasilitas sanitasi. Masyarakat perlu dilibatkan sejak awal dan mendapatkan pendampingan secara konsisten.
“Perubahan perilaku tidak bisa dibangun hanya dengan menyediakan sarana. Masyarakat perlu dilibatkan sejak awal, diberikan edukasi, didampingi, dan terus dipantau. Karena itu, keberadaan kader lokal menjadi penting agar kebiasaan hidup bersih dan penggunaan jamban sehat dapat terus dipertahankan setelah program berakhir,” ujar Raisa.
Program tersebut kemudian ditutup dengan penandatanganan komitmen ODF serta serah terima program melalui Piagam Sinergi Kebaikan yang melibatkan LKC Dompet Dhuafa Aceh, pemerintah desa, dan puskesmas. Pola kerja sama itu menjadi bagian dari upaya memastikan masyarakat tetap memiliki dukungan setelah pendampingan selesai.
Kepala Wilayah LKC Dompet Dhuafa Aceh Arfan Ramadhan menegaskan berakhirnya program bukan berarti upaya menjaga kebiasaan hidup bersih turut dihentikan.
“Exit program bukan berarti berakhirnya komitmen, tetapi menjadi awal dari kemandirian masyarakat. Setelah pendampingan selesai, masyarakat bersama pemerintah desa, puskesmas, dan kader memiliki peran penting untuk menjaga status ODF serta memastikan kebiasaan hidup bersih dan sehat terus berjalan,” ujar Arfan.
Camat Montasik Afrizal juga meminta pemerintah desa, kader, dan masyarakat melanjutkan kebiasaan yang telah terbentuk. Menurutnya, keberhasilan program akan lebih bermakna apabila fasilitas dan perilaku hidup bersih tetap terjaga setelah pendampingan selesai.
“Setelah program ini selesai, bukan berarti kegiatan dan kebiasaan baiknya ikut berhenti. Pemerintah desa bersama kader dan masyarakat harus terus melanjutkan, menjaga dan mengembangkan apa yang sudah dibangun, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan jamban sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.
Dukungan keberlanjutan juga diberikan Puskesmas Montasik melalui edukasi dan pemantauan kesehatan masyarakat. Pemerintah desa, puskesmas, kader, dan warga diharapkan mempertahankan pemeliharaan jamban, sanitasi lingkungan, serta PHBS agar status ODF tidak sekadar menjadi capaian deklarasi.
Keberlanjutan tersebut menjadi tantangan penting karena perubahan perilaku membutuhkan pengawasan dan keterlibatan masyarakat secara terus-menerus. Dengan peran kader lokal dan dukungan pemerintah desa serta fasilitas kesehatan, capaian sanitasi di Desa Atong diharapkan tetap terjaga setelah Program Kampung Sehati berakhir, sebagaimana diberitakan Tribun, Rabu, (09/09/2026). []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara