TULUNGAGUNG – Kekeringan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), mulai memasuki wilayah yang sebelumnya dikenal memiliki banyak sumber mata air. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung mencatat jumlah desa yang mengalami kekurangan air bersih kini bertambah menjadi delapan desa dari sebelumnya lima desa.
Perluasan dampak kemarau tersebut terjadi hingga kawasan kaki Gunung Wilis di bagian barat laut Tulungagung. Tiga desa yang baru meminta bantuan air bersih masing-masing Desa Mulyosari di Kecamatan Pagerwojo, Desa Picisan di Kecamatan Sendang, dan Desa Sidem di Kecamatan Gondang.
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Sudarmaji mengatakan ketiga desa tersebut telah memperoleh bantuan air bersih dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Tiga desa itu sudah minta kiriman air bersih, sudah dibantu sama Baznas dan BBWS,” ujar Sudarmaji, Jumat (11/9/2026).
Kondisi di Desa Sidem menjadi salah satu gambaran semakin menyusutnya ketersediaan air. Kekeringan terjadi di satu dusun yang lokasinya sulit dijangkau kendaraan sehingga distribusi air bersih menghadapi kendala akses. Warga berharap pembangunan sumur bor dapat menjadi solusi agar kebutuhan air tidak terus bergantung pada bantuan pengiriman.
“Sumber airnya sudah debitnya sangat kecil, tidak mencukupi untuk kebutuhan,” tambahnya, sebagaimana diberitakan Tribun Jatim, Jumat, (11/09/2026).
Kekurangan air juga terjadi di Dusun Tumpuk, Desa Besuki, Kecamatan Besuki. BPBD menyalurkan bantuan secara bergilir karena harus membagi distribusi air dengan desa-desa lain yang lebih dahulu terdampak kemarau.
Lima desa sebelumnya telah mengalami kekurangan air bersih, seluruhnya berada di kawasan pegunungan bagian selatan Tulungagung. Wilayah yang berada di ketinggian tersebut sangat bergantung pada curah hujan sehingga ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, cadangan air ikut menyusut.
Dua desa yang terdampak berada di Kecamatan Tanggunggunung, yakni Desa Kresikan dan Desa Pakisrejo. Tiga desa lainnya adalah Desa Keboireng di Kecamatan Besuki, Desa Kalidawe di Kecamatan Pucanglaban, dan Desa Sebalor di Kecamatan Bandung.
“Kalau hujan tidak turun, maka desa-desa itu akan terus membutuhkan bantuan air bersih,” tegas Sudarmaji.
Di Desa Mulyosari, persoalan air bersih terutama dirasakan masyarakat di sembilan Rukun Tetangga (RT) di Dusun Sumberingin. Kepala Desa Mulyosari Agil Wuisan mengatakan lokasi tersebut berada di dataran tinggi sehingga sumber air berada cukup dalam dan debitnya terus menurun.
Namun, kebutuhan air yang paling terdampak saat ini bukan untuk keperluan rumah tangga, melainkan aktivitas peternakan sapi perah yang menjadi salah satu kegiatan ekonomi warga setempat.
“Ada sekitar 300 warga yang terdampak. Di sana memang sentra peternakan sapi perah,” ungkap Agil.
Ketersediaan air dari sumur warga tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan peternakan sapi perah. Sementara itu, kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari masyarakat masih relatif terpenuhi.
Agil mengkhawatirkan kondisi tersebut memburuk apabila hujan tidak segera turun. Kekeringan serupa juga pernah terjadi pada tahun sebelumnya sehingga warga berharap curah hujan segera kembali normal.
“Tahun lalu sudah mengalami kekeringan juga. Harapan segera turun hujan agar kondisinya membaik,” ucapnya.
Persoalan kekeringan di Tulungagung sebenarnya bukan hal baru. Pada kemarau 2024, sebanyak 20 desa yang tersebar di 10 kecamatan mengalami kekurangan air bersih. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi sembilan desa di enam kecamatan pada 2025 karena kondisi kemarau basah.
Penurunan jumlah desa terdampak pada 2025 juga dipengaruhi pembangunan sejumlah sumur bor di wilayah rawan kekeringan. Kepolisian Resor (Polres) Tulungagung, misalnya, membangun 22 sumur bor di desa-desa rawan kekeringan pada 2025.
Bantuan sumber air juga berasal dari berbagai pihak, termasuk alumni Universitas Airlangga (Unair) dan Gupuh Setiyono. Infrastruktur tersebut dinilai memberikan dampak langsung karena beberapa desa yang sebelumnya rutin meminta bantuan air bersih tidak lagi mengajukan permintaan setelah memiliki sumber air alternatif.
Meluasnya kekeringan hingga wilayah yang selama ini dikenal memiliki mata air menunjukkan bahwa ketahanan sumber air menjadi persoalan penting menghadapi kemarau. Distribusi air bersih tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan warga dalam jangka pendek, sedangkan pembangunan sumur bor dan penguatan sumber air alternatif diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan apabila kondisi kering kembali terjadi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara