BEKASI – Kekurangan pasokan air mulai menekan lahan pertanian di Kabupaten Bekasi. Sebanyak 1.354 hektare sawah yang tersebar di 41 desa pada 15 kecamatan terdampak kemarau, sehingga produksi padi berisiko menurun jika kebutuhan air tidak segera dipenuhi.
Kondisi tersebut terutama dirasakan pada sawah yang bergantung pada hujan. Sukawangi menjadi salah satu wilayah terdampak, meski kawasan utara Bekasi selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi.
Sarman (42), petani asal Desa Sukawangi, menyebut keterbatasan air membuat petani harus mengandalkan pompa untuk mengairi sawah. Kondisi itu menambah beban petani di tengah kemarau. Pernyataan tersebut sebagaimana diberitakan Pikiran Rakyat, Rabu, (19/08/2026).
āYa, memang kemarau agak susah air. Khawatir juga kalau terus-terusan begini. Semoga ada penanganan, baiknya seperti apa,ā kata Sarman (42), petani asal Desa/Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurut Sarman, penggunaan pompa menjadi salah satu pilihan untuk menjaga sawah tetap mendapatkan air, meskipun pelaksanaannya tidak selalu mudah.
āJadi, harus dipompa juga. Itu kadang memang berat juga,ā ucapnya.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Eem Embang mengatakan berkurangnya debit air menjadi penyebab utama terganggunya pengairan sawah. Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani, produksi padi berpotensi ikut terdampak.
āDi situ pastinya terdamĀpak, ada penurunan produksi. Sebetulnya dari KemenĀterian Pertanian, kita harus menggenjot luas tambah taĀnam. Nah, kalau luas tambah tanam terus-menerus haĀrus ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,ā kata Eem.
Wilayah yang mengalami kekurangan air tidak hanya Sukawangi. Sejumlah kecamatan lain yang terdampak meliputi Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Setu, dan Muara Gembong.
Eem menyebut penurunan produksi sejauh ini mulai terlihat, tetapi belum signifikan. Pemerintah daerah melakukan sejumlah langkah untuk menekan risiko tersebut, termasuk penanganan saluran irigasi dan pembersihan eceng gondok.
āPotensi penurunĀan proĀduksi bisa (terjadi) apabila pasokan air tidak segera dipeĀnuhi. Oleh karena itu, penanganan sejak beberapa pekan lalu sudah dilakukan, untuk mencegah dampak semakin luas,ā ucapnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta (PJT) II, dan instansi terkait. Sebanyak 83 pompa telah disalurkan melalui Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) ke sejumlah wilayah yang rawan kekeringan.
āAda total 83 pompa yang sudah disalurkan. Ada 13 unit pompa berukuran 6 inci dan 70 unit pompa berukurĀan 3 inci. Itu sudah disalurĀkan ke sejumlah wilayah raĀwan kekeringan, mulai dari Pebayuran sampai MuaraĀgemĀbong di utara, juga dikiĀrim ke Setu sama titik-titik yang rawan lain,ā tuturnya.
Selain bantuan pompa, pemerintah memberikan rekomendasi penggunaan bahan bakar minyak untuk mendukung pengoperasian mesin pompa.
āUntuk solarnya, kami beriĀkan reĀkoĀmendasi agar dimudahkan,ā ujarnya.
Upaya lain dilakukan melalui koordinasi dengan BBWS untuk perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi. Sedikitnya lima titik dinormalisasi dengan total panjang mencapai 24 kilometer.
āUntuk memitigasi kekeĀringan dan kemarau ini, kami lakuĀkan upaya pencegahĀan tersebut. Utamanya, baĀgaiĀmana sawah tetap terairi,ā ucapnya.
Di tengah ancaman kekurangan air, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi masih mempertahankan target produksi padi sebesar 503 ton per musim. Pemenuhan kebutuhan air menjadi faktor penting untuk menjaga target tersebut sekaligus mencegah dampak kekeringan meluas ke lahan pertanian lainnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara