LOMBOK TIMUR – Praktik ijon masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Padahal, daerah tersebut memiliki potensi besar sebagai penghasil kopi dengan harga jual yang menjanjikan. Kondisi itu dinilai menghambat peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memengaruhi kualitas hasil panen.
Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dinas Pertanian Lotim, Mirza Sophian, menjelaskan luas lahan kopi di Lotim pada 2025 mencapai 2.114 hektare dengan produksi sekitar 1.887 ton. Namun, produktivitasnya masih berkisar 0,5 ton per hektare atau jauh di bawah potensi ideal yang dapat mencapai 1,5 ton per hektare.
“Rendahnya produktivitas ini disebabkan oleh teknis budi daya yang masih sembarangan dan tidak teratur,” ujar Mirza, sebagaimana dilansir Suara Ntb, Rabu, (01/07/2026).
Menurutnya, rendahnya hasil panen dipengaruhi minimnya perawatan kebun, pengaturan jarak tanam yang belum optimal, serta masih terbatasnya pemahaman petani mengenai teknik budi daya yang baik.
Selain persoalan produktivitas, praktik ijon juga masih sulit dihilangkan. Sistem penjualan hasil panen sebelum masa panen dengan harga di bawah pasar itu dilakukan petani karena kebutuhan ekonomi sehari-hari.
“Sepanjang ini, ijon sangat sulit diberantas. Petani terpaksa melakukannya karena kebutuhan makan setiap hari,” ungkap Mirza.
Ia menambahkan, praktik tersebut turut berdampak terhadap mutu kopi karena petani terdorong memanen buah sebelum matang sempurna.
“Untuk kualitas ekspor, cherry kopi yang dipanen harus benar-benar merah. Kalau ijon, ini merusak kualitas. Harus matang betul,” tegas Mirza.
Meski demikian, prospek usaha kopi di Lotim tetap dinilai sangat menjanjikan. Harga kopi robusta saat ini mencapai sekitar Rp75 ribu per kilogram dalam bentuk bubuk, sedangkan kopi arabika menembus lebih dari Rp100 ribu per kilogram.
“Nilai jual kopi sangat tinggi. Kopi tidak pernah turun harganya,” tambahnya.
Mirza juga mengingatkan agar produk kopi tidak dicampur dengan bahan lain demi menjaga kualitas. “Di pasar, banyak kopi yang dicampur beras, semestinya jangan dicampur,” imbaunya.
Kawasan Kecamatan Sembalun masih menjadi sentra utama produksi kopi di Lotim. Sebanyak 198 hektare lahan kopi berada di Desa Sembalun, Desa Sajang, Desa Lawang, dan Desa Bumbung. Wilayah dengan ketinggian 600 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut tersebut dinilai ideal untuk pengembangan kopi robusta maupun arabika.
Sebagai upaya meningkatkan produksi, pemerintah tahun ini mengalokasikan bantuan bibit kopi arabika untuk pengembangan di lahan seluas 490 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Montong Gading, Desa Aik Prapa, Toya, Suela, Aikmel, dan Lenek. Setiap hektare mendapatkan 10.000 bibit kopi.
Dinas Pertanian Lotim juga terus mendorong penguatan sektor hulu hingga pascapanen, sedangkan pengembangan hilirisasi dan data ekspor menjadi kewenangan Dinas Perindustrian. Pemerintah daerah berharap penguatan kapasitas petani, penyediaan bibit unggul, serta penghapusan praktik ijon dapat menjadikan kopi Lotim sebagai komoditas andalan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara