Related Articles
TABANAN – Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan berhasil mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan pengembangan pertanian organik. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), sampah organik diolah menjadi pupuk yang dimanfaatkan petani setempat sekaligus mendukung peningkatan pendapatan masyarakat desa.
Perbekel Desa Bengkel, I Nyoman Wahya Biantara, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dilakukan secara sistematis melalui pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik yang terkumpul kemudian dicacah dan difermentasi menjadi kompos sebelum didistribusikan kepada petani maupun pihak swasta.
TPS3R Desa Bengkel saat ini mampu memproduksi sekitar dua ton pupuk organik setiap enam bulan. Sebanyak satu ton disalurkan kepada petani desa dengan harga subsidi, sementara satu ton lainnya dipasarkan kepada pihak swasta.
“Untuk pupuk organik ke petani, kami jual dengan harga subsidi Rp1.000 per kilogram, sementara untuk pihak swasta Rp2.000 per kilogram,” ujar Wahya Biantara, sebagaimana dilansir Idn Times, Senin, (01/06/2026).
Ketersediaan pupuk organik yang berkelanjutan turut mendorong berkembangnya lahan pertanian organik di Desa Bengkel. Saat ini, luas lahan pertanian organik mencapai dua hektare dengan melibatkan 10 petani yang membudidayakan varietas Beras Mentik Susu.
“Ada 10 petani yang menerapkan pertanian organik dengan total luas lahan dua hektare. Mereka menaman varietas beras mentik susu. Sekali panen, produksi beras mencapai sekitar 4 ton,” kata Wahya.
Hasil panen para petani tersebut diserap oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bengkel dengan harga lebih tinggi dibandingkan harga pasar. Skema tersebut dijalankan melalui kerja sama antara BUMDes, petani, dan penggilingan padi guna menjaga keberlanjutan produksi serta pemasaran hasil pertanian.
“Kami kerja sama dengan BUMDes jadi begitu selesai panen langsung dibeli oleh BUMDes,” jelas Wahya.
Selain menjamin pasar hasil panen, BUMDes Bengkel juga memberikan dukungan permodalan tanpa bunga kepada petani. Kebijakan ini diterapkan untuk membantu petani memenuhi kebutuhan operasional usaha tani sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman konsumtif.
“Kami perhatikan jika setiap mengolah lahannya, petani pasti minjam uang di koperasi dengan bunga. Sekali operasional itu butuh modal Rp10 juta sampai Rp15 juta. Tetapi petani ini terkadang malah meminjam lebih dari yang dibutuhkan. Jatuhnya menjadi pinjaman konsumtif. Berpikir akan bisa terbayar saat panen nanti,” kata Wahya.
Melalui program tersebut, petani memperoleh akses pupuk, bibit, serta bantuan modal operasional yang dapat dikembalikan setelah masa panen selesai.
“Bibit dan pupuk BumDes sudah produksi sendiri. Tinggal memberikan modal operasional seperti sewa traktor dan upah tenaga. Nanti setelah panen, baru petani mengembalikan modal yang diberikan,” jelasnya.
Keberhasilan Desa Bengkel menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis desa tidak hanya mampu mengurangi timbulan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui sistem pertanian organik yang berkelanjutan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara