Desa Ekspor Jadi Fokus, Mahasiswa Unsoed Pelajari Rantai Perdagangan Global

PURWOKERTO – Upaya memperkuat program desa ekspor terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah. Sebanyak sembilan mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) diterjunkan ke perusahaan mitra ekspor untuk mendalami proses perdagangan internasional sekaligus mendukung pengembangan produk unggulan desa menuju pasar global.

Program tersebut merupakan bagian dari Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) hasil kerja sama Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Unsoed dengan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Purwokerto. Kegiatan berlangsung selama 16 minggu, mulai April hingga Juli 2026.

Dosen pendamping Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Unsoed, Ratna Satriani, menjelaskan program magang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai seluruh tahapan ekspor, mulai dari proses produksi hingga pemenuhan aspek legalitas.

“Pelaksanaan magang MBKM berlangsung selama 16 minggu mulai April hingga Juli 2026. Sebanyak sembilan mahasiswa Program Studi S1 Agribisnis Unsoed terlibat aktif dan ditempatkan di tiga mitra binaan Bea Cukai Purwokerto, yakni CV Rizki Mandiri, CV Abon Cap Koki, dan CV Adi Makmur Permata,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari berbagai aspek yang dibutuhkan agar produk lokal mampu menembus pasar internasional. Materi yang dipelajari mencakup proses produksi, pengemasan, pengendalian mutu, penyusunan dokumen, hingga persyaratan legalitas ekspor.

Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dan Dukungan Teknis (PKCDT) KPPBC Purwokerto, Rujito, menilai keterlibatan mahasiswa dapat mempercepat pengembangan desa ekspor di wilayah Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara.

“Mahasiswa belajar bagaimana mencari buyer dari luar negeri, melakukan promosi produk termasuk melalui Indonesian Trade Promotion Centers (ITPC), serta menyiapkan legalitas yang diperlukan untuk persiapan ekspor,” ujarnya sebagaimana dilansir Tribun Jateng, Selasa (19/05/2026).

Istilah buyer dalam kegiatan tersebut merujuk pada pembeli dari luar negeri, sedangkan Indonesian Trade Promotion Centers (ITPC) merupakan pusat promosi perdagangan Indonesia di berbagai negara yang membantu pemasaran produk nasional.

Menurut Rujito, kehadiran mahasiswa menjadi penghubung antara dunia akademik dan kebutuhan pelaku usaha yang sedang mempersiapkan produk menuju pasar ekspor. Pendampingan juga dilakukan oleh dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Unsoed, Kunandar Prasetyo, guna memastikan proses pembelajaran berjalan optimal.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha ini diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang memahami perdagangan internasional sekaligus memperkuat daya saing produk unggulan desa di pasar global. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Semarak Pandawa Hadirkan Atraksi Budaya dan Voli Pantai Perdana

PDF đź“„MANGUPURA – Festival Semarak Pandawa 2026 dimanfaatkan sebagai upaya memperkuat promosi destinasi wisata di …

Banjar Utu Tabanan Berkembang sebagai Lumbung Telur Ayam Bali

PDF đź“„TABANAN – Desa Babahan di Kabupaten Tabanan menjadi contoh desa dengan sektor peternakan ayam …

Klempang Sari Wakili Kaltim di Lomba Desa Wisata Nasional

PDF đź“„TANA PASER – Desa Wisata Klempang Sari Lati Tuo di Kabupaten Paser berhasil meraih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *