BELU – Petani di Dusun Taekto’o, Desa Umaklaran, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu mulai menerapkan strategi baru menghadapi potensi musim kemarau dengan mempercepat masa tanam dan memilih komoditas yang lebih hemat air. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu serta keterbatasan sumber air bagi lahan pertanian.
Perubahan pola tanam tersebut dilakukan menyusul kekhawatiran petani terhadap datangnya musim kemarau yang diperkirakan lebih awal. Kondisi ini mendorong petani untuk menyesuaikan jenis tanaman yang dibudidayakan agar tetap mampu bertahan dalam kondisi minim pasokan air.
Salah seorang petani Desa Umaklaran, Martinus Letto Mali, mengatakan perubahan strategi tanam menjadi langkah yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko gagal panen.
“Kami melihat musim kemarau bisa datang lebih awal, jadi kami tanam lebih cepat dan pilih tanaman yang kebutuhan airnya tidak terlalu banyak,” ujarnya saat ditemui, sebagaimana dilansir Pos Kupang, Selasa (19/05/2026).
Menurut Martinus, tantangan terbesar yang dihadapi petani saat ini adalah terbatasnya akses terhadap sumber air. Hingga kini, kebutuhan air pertanian masih mengandalkan aliran sungai yang berjarak sekitar 100 meter dari area lahan.
Meski proses pengambilan air telah menggunakan mesin penyedot, penggunaannya harus dilakukan secara bergantian dan terukur agar ketersediaan air tetap mencukupi selama musim kemarau berlangsung.
“Air kami ambil dari kali, jaraknya kurang lebih 100 meter. Biasanya kami atur penggunaannya, paling lama empat hari baru bisa lakukan penyiraman lagi,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat petani semakin selektif dalam menentukan komoditas yang ditanam. Tanaman yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap kekeringan menjadi pilihan utama guna mempertahankan hasil produksi pertanian.
Selain melakukan penyesuaian pola tanam, petani juga berharap adanya dukungan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur air untuk mendukung kegiatan pertanian di wilayah tersebut.
“Harapan kami, kalau bisa pemerintah membantu penyediaan air. Karena kami dekat dengan kali, mungkin bisa dibuatkan fasilitas supaya air lebih mudah atau sumur bor dan biayanya juga lebih ringan,” katanya.
Menurutnya, keberadaan sarana pendukung seperti sumur bor maupun fasilitas distribusi air akan membantu petani menghadapi musim kemarau dengan lebih baik sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pertanian di Desa Umaklaran. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara