Bali Mulai Ubah Tradisi Upacara Jadi Lebih Ramah Lingkungan

GIANYAR – Ribuan pelajar dan krama istri dilibatkan dalam pengelolaan sampah selama rangkaian upacara piodalan di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar (Gianyar), Bali. Keterlibatan masyarakat adat dan generasi muda itu menjadi upaya menjaga kebersihan lingkungan di tengah meningkatnya volume sampah dari aktivitas upacara keagamaan.

Rangkaian piodalan berlangsung sejak 2 Mei hingga puncak Ida Bhatara masineb pada 14 Mei 2026. Selama kegiatan berlangsung, volume sampah dari sisa sarana upacara seperti janur dan perlengkapan lainnya mencapai sekitar tiga truk per hari dan tersebar di berbagai area pura.

Petajuh Bendesa Pura Samuantiga, I Made Sweca Padang, mengatakan pengelolaan sampah dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pelajar dari berbagai sekolah serta krama istri dari banjar adat pengempon pura.

Tercatat sebanyak 17 sekolah dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas/sekolah menengah kejuruan (SMA/SMK) di wilayah Bedulu dan sekitarnya ikut terlibat secara bergilir dalam kegiatan kebersihan di kawasan pura.

Tak hanya pelajar, krama istri dari 11 banjar adat juga turun langsung setiap hari untuk memilah dan mengumpulkan sampah di sejumlah titik areal pura. Manusia memang spesies unik. Bisa bikin acara spiritual besar yang menghasilkan gunungan sampah, lalu bersama-sama membersihkannya sambil tetap khidmat. Setidaknya kali ini kesadaran lingkungannya ikut hadir, tidak cuma dupa dan janur.

“Panitia juga menggencarkan imbauan kepada para pemedek agar tidak menggunakan tas kresek. Upaya ini terbukti efektif menekan sampah plastik sekali pakai, meskipun sampah organik masih mendominasi,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Tribun Bali, Selasa (05/05/2026).

Untuk mendukung pengelolaan limbah upacara, panitia bekerja sama dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Desa Bedulu. Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah menjadi kompos agar dapat dimanfaatkan kembali.

“Kolaborasi antara panitia, pelajar, dan masyarakat adat ini menjadi contoh nyata bagaimana pelaksanaan upacara besar tetap dapat berjalan khidmat tanpa mengabaikan kebersihan lingkungan. Selain itu, keterlibatan generasi muda juga menjadi sarana edukasi langsung tentang pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber,” ujarnya.

Ia berharap pola pengelolaan sampah tersebut dapat menjadi contoh dalam pelaksanaan kegiatan adat lainnya di Bali yang selama ini kerap menghasilkan volume sampah cukup besar.

“Kami ingin kegiatan adat selaras dengan menjaga lingkungan, sehingga setiap permasalahan sampah harus mendapat perhatian serius,” ujarnya. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Festival Minakjingga Jadi Ruang Desa Blambangan Kenalkan Potensi Wisata

PDF đź“„Tujuh tahun menjelang usia 209 tahun, Desa Blambangan mengemas sejarah, tradisi, dan keterlibatan warga …

Tradisi Kolo Kabe Kembali Setelah Enam Tahun Tak Digelar

PDF đź“„Kolo Kabe kembali digelar masyarakat Kampung Munde, Desa Komba, Manggarai Timur, setelah enam tahun …

Rekonstruksi Desa Adat Sade, Warga Pertahankan Rumah Beratap Ilalang

PDF đź“„Warga Desa Adat Sade mulai membangun kembali rumah adat secara mandiri meski master plan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *