NGANJUK – Rumah Singgah dan Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim), rampung dibangun dan kini siap diresmikan. Museum tersebut menjadi ruang memorial yang menyimpan berbagai barang pribadi milik Marsinah, mulai dari sepeda ontel, blazer krem, hingga rantang makanan yang selama puluhan tahun dirawat keluarganya.
Pembangunan museum yang berdiri di samping rumah masa kecil Marsinah itu telah mencapai 100 persen sejak awal Mei 2026. Kompleks bangunan memiliki luas sekitar 76 meter x 12,5 meter dan terdiri atas gedung museum, taman, serta rumah singgah untuk pengunjung.
Pelaksana proyek, Suhartono, mengatakan proses pembangunan dimulai pada akhir Desember 2025 dan selesai menjelang pertengahan 2026.
“Progres pembangunan Rumah Singgah dan Museum Marsinah saat ini sudah selesai 100 persen,” katanya, Senin (4/5/2026), sebagaimana diberitakan SuryaMalang, Rabu (06/05/2026).
Menurut Suhartono, bangunan museum dibagi menjadi tiga zona utama. Bagian depan digunakan sebagai ruang pamer koleksi perjalanan hidup Marsinah. Sementara area tengah dilengkapi taman beratap kanopi dan kolam ikan untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
“Pembangunannya memperhatikan tingkat kenyamanan pengunjung,” ujarnya.
Di bagian belakang, terdapat rumah singgah dengan empat kamar berukuran sekitar 4×4 meter. Fasilitas di dalamnya meliputi pendingin ruangan, kasur, lemari, kamar mandi, meja rias, dapur, hingga meja makan.
“Disediakan pula meja makan dan dapur. Bangunan ini mungkin diperentukkan untuk rumah singgah,” ungkap Suhartono.
Selain itu, pengelola juga membangun sumur sedalam 40 meter beserta tandon air guna memenuhi kebutuhan air bersih. Empat kamar mandi umum turut disiapkan untuk pengunjung, termasuk satu kamar mandi dengan kloset elektrik. Karena apparently museum modern sekarang bukan cuma soal sejarah, tapi juga upgrade comfort level biar pengunjung tidak cosplay jadi survivor zaman kolonial.
Adik Marsinah, Wijiati, mengaku terharu melihat berbagai barang peninggalan kakaknya dipajang di museum. Salah satu benda yang paling membekas baginya adalah blazer krem yang pernah dikenakan Marsinah saat menghadiri resepsi pernikahannya pada 1993 di Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik.
“Bermacam koleksi mbak Marsinah sudah ada di museum,” katanya, Selasa (5/5/2026).
“Mesti, begitu melihat lagi pakaian tersebut, saya jadi ingat momen mbak Marsinah datang ke resepsi saya,” jelasnya.
Wijiati juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, atas dukungannya terhadap pembangunan museum tersebut.
“Bangunan rumah singgah dan museum megah sekali. Saya sebagai keluarga senang dan bangga,” ucapnya.
Sementara itu, kakak Marsinah, Marsini, menyebut koleksi museum tidak hanya berisi pakaian, tetapi juga tas jinjing, tikar serat, rantang, ijazah, piagam, foto, dan sepeda ontel peninggalan Marsinah.
“Baju itu saya taruh di lemari. Pindah-pindah rumah saya bawa dan rawat. Tersimpan rapi sekitar 32 tahun. Rantang dipakai membawa bontotan makanan Marsinah,” sebutnya.
Marsini menambahkan, tas milik Marsinah merupakan peninggalan saat adiknya pernah berjualan tas ketika bekerja di kawasan Porong, Kabupaten Sidoarjo, dekat sentra kerajinan Tanggulangin.
Kehadiran Rumah Singgah dan Museum Marsinah diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan sejarah perjuangan buruh Indonesia, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat mengenai perjalanan hidup Marsinah sebagai tokoh buruh nasional. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara