SUKABUMI – Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat menangani kerusakan saluran irigasi di Desa Wangungreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, yang terdampak longsor dan berpotensi mengganggu produksi padi di tengah ancaman musim kemarau panjang 2026.
Langkah peninjauan langsung dilakukan Kementan untuk memastikan percepatan perbaikan infrastruktur irigasi yang menjadi penopang utama sistem pertanian padi di wilayah tersebut. Kerusakan saluran irigasi primer dilaporkan menyebabkan aliran air ke sawah tidak optimal, bahkan di beberapa titik mengalami pendangkalan hingga banjir lokal akibat longsor.
Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementan sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Berkelanjutan Kabupaten Sukabumi, Leli Nuryati, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan pemerintah desa terkait kondisi lapangan.
“Tujuan kita ke sini adalah mengecek langsung mengenai surat yang disampaikan Pak Kades Wangunreja, Kecamatan Nyalindung. Dilaporkan ada beberapa titik saluran irigasi yang rusak akibat bencana longsor dan sudah mengalami pendangkalan bahkan banjir sehingga menyebabkan air irigasi ke sawah tidak lancar,” demikian dikatakan Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementan sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Berkelanjutan Kabupaten Sukabumi, Leli Nuryati saat meninjau saluran irigasi dan pertanaman padi di Desa Wangungreja, Selasa (05/05/2026) sebagaimana dilansir Monitor, Rabu (06/05/2026).
Menurut Leli, dampak kerusakan irigasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga langsung memengaruhi produktivitas pertanian. Luas lahan sawah yang sebelumnya mencapai 322 hektare kini hanya sekitar 128 hektare yang dapat diolah, atau turun menjadi 39,75 persen. Artinya, sekitar 194 hektare lahan terdampak dan tidak optimal untuk ditanami.
Selain itu, indeks pertanaman (IP) padi juga mengalami penurunan signifikan. Sebelum bencana, IP berada pada angka 300 atau tiga kali tanam per tahun, namun kini turun menjadi 200 atau dua kali tanam per tahun.
“Kerusakan saluran irigasi pun berdampak pada Indeks IP Padi di Desa Wangunreja, dimana sebelum terjadi bencana IP nya 300 atau tanam tiga kali setahun, namun setelah terjadi bencana IP menjadi 200 atau tanam dua kali. Kehadiran kita di sini untuk melihat langsung dan mencari solusinya,” ungkapnya.
Leli menegaskan, perbaikan irigasi menjadi prioritas mendesak sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, terutama dalam menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026. Ia menilai, keberhasilan pompanisasi sangat bergantung pada kondisi jaringan irigasi utama.
“Petani kalaupun kita persenjatai dengan pompa air kalau dari saluran primernya rusak seperti ini, berarti pompa bagaiman bisa digunakan. Oleh karena itu perbaikan saluran irigasi harus segera dilakukan sebagai upaya untuk mendukung upaya swasembada berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wangunreja, Ganda Permana, menyampaikan apresiasi atas respons cepat pemerintah pusat dalam merespons usulan perbaikan infrastruktur yang terdampak bencana pada akhir 2025. Ia berharap normalisasi saluran irigasi segera direalisasikan, termasuk pembangunan gorong-gorong dan tanggul penahan tanah di titik rawan.
Dari sisi teknis, Kepala Satuan Unit Pelayanan Cimandiri-Cibareno Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, Dhani Erawan, menyebutkan bahwa penanganan sementara sudah dilakukan sejak akhir 2025 hingga awal 2026, namun belum optimal. Ia menjelaskan proses lanjutan masih menunggu penganggaran melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.
Adapun kesepakatan tindak lanjut mencakup pemetaan ulang lahan, koordinasi pola tanam, serta penguatan sinergi antara pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan instansi teknis terkait untuk mempercepat pemulihan sistem irigasi di wilayah tersebut.
Perbaikan ini diharapkan tidak hanya memulihkan fungsi irigasi, tetapi juga mengembalikan produktivitas pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat desa di Sukabumi. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara