JAKARTA – Pengakuan internasional terhadap desa wisata Indonesia menjadi modal untuk memperluas promosi pariwisata berbasis masyarakat ke pasar Asia. Pemerintah memperkenalkan sejumlah desa unggulan dalam forum ASEAN-Korea Roundtable in Tourism (AKRT) 2026 di Jakarta, Kamis (05/11/2026), sebagai contoh pengelolaan destinasi yang mengandalkan potensi dan keterlibatan warga setempat.
Empat desa wisata yang diperkenalkan telah masuk kategori Best Tourism Village dari Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Tourism). Keempatnya adalah Desa Wisata Nglanggeran di Daerah Istimewa Yogyakarta, Desa Wisata Penglipuran dan Jatiluwih di Bali, serta Desa Wisata Wukirsari di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pengenalan tersebut membuka peluang bagi desa wisata Indonesia untuk menjadi rujukan pengembangan destinasi berbasis komunitas bagi negara lain. Selain memperlihatkan keunggulan destinasi, pengalaman desa-desa tersebut dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan pariwisata lokal.
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Martini M. Paham mengatakan, pengalaman desa wisata Indonesia menjadi salah satu materi yang dapat dibagikan kepada Korea Selatan dalam forum tersebut.
“Kami punya desa wisata dan kebetulan beberapa dari desa wisata Indonesia itu sudah masuk kategori ‘Best Tourism Village‘-nya UN Tourism. Jadi ini adalah salah satu (ilmu) yang bisa kita berikan kepada mereka (Korea Selatan),” kata Deputi Bidang SDM dan Kelembagaan Kemenpar Martini M. Paham di Jakarta, Kamis (05/11/2026).
Sebagaimana dilansir Antara, Kamis (05/11/2026), desa wisata juga diperkenalkan sebagai praktik pengembangan ekosistem pariwisata lokal yang melibatkan masyarakat. Pembahasan tersebut melanjutkan agenda forum tahun sebelumnya di Da Nang, Vietnam, yang masih berfokus pada konsep pariwisata berbasis komunitas.
Selain pengembangan desa wisata, Korea Selatan menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari pengelolaan destinasi yang ramah bagi wisatawan muslim. Perhatian tersebut mencakup kesiapan fasilitas dan layanan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.
“Korea juga ingin melihat karena pasar (muslim) Indonesia besar sekali, selain itu (di ASEAN) juga ada Brunei dan Malaysia. Jadi (Korsel) ingin tahu bagaimana cara menyiapkan diri untuk bisa menerima wisatawan muslim,” kata Marthini menambahkan.
Forum AKRT 2026 digelar atas inisiatif Korea Selatan untuk mempertemukan negara-negara Asia Tenggara dan Korea Selatan dalam membahas pengembangan pariwisata serta merumuskan rekomendasi kebijakan bagi masing-masing negara.
Melalui kerja sama tersebut, negara-negara peserta menargetkan peningkatan pertukaran wisatawan dua arah dari 13 juta menjadi lebih dari 20 juta orang. Upaya itu akan didukung melalui kemudahan perjalanan dan peningkatan kualitas layanan pariwisata regional.
Bagi desa wisata Indonesia, pengenalan di forum internasional tersebut menjadi kesempatan memperluas jejaring promosi dan memperkenalkan pengalaman pengelolaan destinasi berbasis masyarakat. Penguatan kualitas layanan dan pengelolaan lokal diharapkan dapat meningkatkan daya saing desa wisata dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara