LAMONGAN – Pembudidaya ikan kerapu di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memantau kondisi tambak dan meningkatkan efisiensi usaha. Penerapan teknologi Internet of Things (IoT) tersebut didukung penyaluran 100 perangkat dan lima sensor, disertai pendampingan bagi petani dan pembudidaya ikan.
Program itu menjadi bagian dari upaya memperkuat produktivitas perikanan berbasis desa melalui pemanfaatan teknologi. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid meninjau penerapannya di kawasan Kampung Kerapu, Selasa (03/11/2026), sekaligus menghadiri panen raya bersama para pembudidaya.
Meutya mengatakan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 12,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kontribusi tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari peran petani dan petambak di daerah.
“Angka ini tidak mungkin tercapai kalau tidak dibantu dari petani dan petambak Lamongan dan sekitarnya. Jadi, peran Bapak-Ibu sekalian yang hadir ini memang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Meutya saat menghadiri panen raya di kawasan Kampung Kerapu.
Ia menilai, pengembangan sektor perikanan di daerah perlu didukung teknologi agar produktivitas dan daya saing hasil budidaya semakin meningkat. Salah satu contohnya ialah ikan kerapu dari Lamongan yang telah dipasarkan hingga ke luar negeri, termasuk Hong Kong.
“Kalau kita melihat kolam ini, tidak boleh sepele. Dari sini lahir ikan-ikan yang kemudian dikonsumsi banyak masyarakat di berbagai negara,” ujarnya.
Dalam penerapannya, teknologi IoT memungkinkan pembudidaya memantau kondisi air kolam melalui sensor. Informasi tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam mengelola tambak, sehingga pemantauan tidak sepenuhnya bergantung pada pengamatan manual.
Meutya menyebut teknologi tersebut juga berpotensi meringankan pekerjaan pembudidaya, termasuk perempuan, karena sebagian proses pemantauan dapat dilakukan melalui sistem digital.
“Teknologi ini ramah terhadap perempuan. Pekerjaan di lapangan bisa berkurang, tetapi intuisi tetap ditambah dengan data-data nyata yang diukur secara konkret oleh sistem digital,” jelasnya.
Pengembangan berikutnya direncanakan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) agar lebih banyak indikator budidaya dapat dipantau dan pengelolaan tambak berlangsung lebih efisien. Meutya menegaskan, pemanfaatan teknologi harus menjangkau masyarakat daerah, bukan hanya warga perkotaan.
“Digitalisasi bukan barang yang menjadi hak kota-kota besar saja. Kekuatan ekonomi yang berada di daerah-daerah, termasuk Lamongan, juga harus mendapatkan manfaatnya,” tegas Meutya, sebagaimana diberitakan Detik. Tanggal pemuatan berita sumber tidak tercantum dalam naskah yang diberikan.
Program digitalisasi tersebut disertai pendampingan gratis selama delapan bulan. Meutya menyampaikan bahwa pemerintah mempertimbangkan penambahan masa pendampingan selama empat bulan sehingga keseluruhannya mencapai satu tahun.
Berdasarkan laporan awal pelaksanaan sejak Mei 2026, penggunaan teknologi selama sekitar lima bulan menunjukkan perkembangan positif. Efisiensi penggunaan pakan meningkat, tingkat kelangsungan hidup ikan naik sekitar 16 persen, dan pendapatan pembudidaya berpotensi meningkat lebih dari 24 persen. Namun, hasil tersebut masih perlu dievaluasi setelah satu siklus panen penuh.
Salah seorang pembudidaya, Karno, mengatakan manfaat awal yang dirasakan antara lain pertumbuhan ikan dan penurunan tingkat kematian. Meski demikian, peningkatan bobot ikan, efisiensi pakan, dan hasil usaha secara keseluruhan masih menunggu evaluasi setelah panen.
Kampung Kerapu di Desa Labuhan merupakan kawasan budidaya yang dirintis sejak 2023 dan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati pada 2025. Kawasan tersebut memiliki luas lebih dari 300 hektare. Pada 2025, produksinya mencapai sekitar 1.800 ton dengan perputaran ekonomi sebesar Rp174 miliar.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, perikanan merupakan salah satu kekuatan ekonomi daerah selain pertanian. Ia menyebut pengembangan teknologi digital merupakan tindak lanjut kolaborasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang dibangun pada Mei 2026.
“Pada 2025, produksi di kawasan ini mencapai sekitar 1.800 ton dengan perputaran ekonomi sebesar Rp 174 miliar. Ini menunjukkan potensi perikanan Lamongan yang luar biasa,” ungkap Yuhronur.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman bersama petani dan pembudidaya serta penyaluran 100 perangkat dan lima sensor untuk mendukung penerapan teknologi digital. Perangkat itu memungkinkan petambak memantau kondisi tambak dari rumah, termasuk untuk membantu menjaga kesehatan ikan dan menekan tingkat kematian.
“Dengan sentuhan ibu jari, petambak sudah bisa memantau kondisi tambaknya dari rumah. Ini tentu memberikan kemudahan sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan budidaya,” jelasnya.
Yuhronur menambahkan, kualitas air dan kecukupan oksigen menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ikan kerapu. Harga jual komoditas tersebut saat ini disebut mencapai Rp130 ribu per kilogram.
Ia berharap penerapan teknologi dan pendampingan berkelanjutan dapat memperkuat kapasitas pembudidaya sekaligus mendorong generasi muda untuk mengembangkan sektor pertanian dan perikanan di daerah.
“Digitalisasi ini harus terus dijaga. Pendampingan dan peningkatan kapasitas pembudidaya juga harus dilakukan dengan teknologi yang semakin mudah digunakan, sehingga semakin banyak generasi muda tertarik mengembangkan sektor pertanian dan perikanan,” pungkasnya. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara