Mengenal Gosong Telaga Selatan, Desa Bersejarah di Aceh Singkil

Desa Gosong Telaga Selatan di Aceh Singkil memiliki jejak penyebaran Islam, makam ulama, dan perjalanan pemerintahan sejak masa kolonial yang menjadi kekayaan sejarah masyarakat setempat.

BANDA ACEH – Warisan sejarah penyebaran Islam, peninggalan makam ulama, serta perjalanan pemerintahan sejak masa kolonial menjadi kekayaan budaya yang dimiliki Desa Gosong Telaga Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Potensi sejarah tersebut kembali mendapat perhatian saat desa itu dikunjungi Marlina Usman, istri Gubernur Aceh, pada Selasa, 3 November 2026, dalam agenda pembinaan nominasi lomba Desa Gerakan Mawaddah wa Rahmah (Gammawar) tingkat Provinsi Aceh.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan identitas desa yang diyakini telah berkembang sejak sekitar abad ke-17. Di balik keikutsertaannya dalam kompetisi desa, Gosong Telaga Selatan memiliki kisah panjang yang berkaitan dengan perkembangan Islam, sistem pemerintahan, serta tradisi sosial masyarakat pesisir.

Salah satu cerita sejarah yang masih hidup dalam penuturan masyarakat adalah kedatangan rombongan ulama dari Timur Tengah yang dikenal sebagai bagian dari ekspedisi Ulama 44. Mereka diyakini terdampar di kawasan pesisir Gosong Telaga ketika melakukan perjalanan dakwah. Sebagian ulama yang meninggal kemudian dimakamkan di Tampat, Gosong Telaga Selatan, dan Pulau Panjang.

Nama Gosong Telaga juga dikaitkan dengan keberadaan sebuah sumur atau telaga di sekitar kawasan pemakaman tersebut. Masyarakat menuturkan, temuan itu menjadi bagian dari asal-usul penamaan wilayah yang menggambarkan keberadaan telaga di kawasan gosong atau daratan karang.

Selain makam yang dikaitkan dengan ekspedisi Ulama 44, terdapat pula makam Syekh Jalaluddin, ulama asal Padang Ganting yang menurut cerita masyarakat telah dimakamkan di kawasan itu sekitar 300 tahun lalu. Ia dikenal sebagai pendakwah yang menyebarkan ajaran Islam di kawasan pesisir Samudra Indonesia, termasuk Gosong Telaga.

Jejak makam tua lainnya disebut berada di sekitar Padang Karambi dan Ujung Tambun, tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Cemaea Indah (PCI). Bagi masyarakat setempat, keberadaan situs-situs tersebut menjadi pengingat perjalanan dakwah dan perkembangan kehidupan keagamaan di wilayah pesisir.

Sejarah Gosong Telaga tidak hanya berkaitan dengan penyebaran Islam. Catatan sejarah lokal menyebut kawasan tersebut telah menjadi distrik di bawah Onderafdeeling Singkil pada 1840, ketika Hindia Belanda berkuasa. Wilayah itu dipimpin Mat Daud, yang dikenal dengan sebutan Moge Ijo atau Datuk Ijo.

Perubahan sistem pemerintahan terjadi ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Gosong Telaga kemudian menjadi wilayah Komico atau datuk/mukim dan Koco atau desa, yang berada di bawah Sunco atau kecamatan Singkil.

Sejumlah tokoh tercatat pernah memimpin wilayah Gosong Telaga, antara lain Mat Daud, Abu Hanifah atau Buan, M. Taeng, H. Fatani, M. Wajir, M. Zubir Tanjung, H. Rizwar Syam, Aidun Syahputra, dan Darlis.

Adapun tokoh yang pernah memimpin sebagai kepala Koco atau kepala desa pada masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan antara lain Abdul Manan, Penghulu Jalin pada 1956–1960, M. Taeng pada 1960–1965, serta M. Ilyas pada 1965–1970.

Dalam perkembangan berikutnya, wilayah Gosong Telaga dimekarkan menjadi Gosong Telaga Utara dan Gosong Telaga Selatan. M. Rahmi menjadi kepala desa pertama Gosong Telaga Selatan dengan status sementara pada 1972–1974. Kepemimpinan definitif kemudian dipegang M. Rani pada 1974–1980.

Estafet kepemimpinan berlanjut kepada M. Rasyid pada 1988–1993 dan Musdar pada 1993–1998. Setelah itu, Abu Hajam memimpin pada 1998–2008. Asnaldi kemudian menjadi penjabat kepala desa pada 2008–2009, sebelum kepemimpinan definitif dilanjutkan Edi Mirzal pada 2009–2014.

Yus’an Marbun selanjutnya menjabat sebagai penjabat kepala desa pada 2014–2015. Pada periode 2015–2021, masyarakat dipimpin Tahrim sebagai keuchik definitif. Setelah masa jabatannya berakhir, Yus’an Marbun kembali dipercaya sebagai penjabat selama enam bulan hingga awal Januari 2022.

Melalui pemilihan keuchik secara langsung (Pilchiksung), masyarakat kemudian memilih Afandi untuk memimpin Gosong Telaga Selatan pada periode 2022–2027.

Selain memiliki perjalanan sejarah panjang, Gosong Telaga Selatan bersama Gosong Telaga Utara tergabung dalam Kemukiman Gosong Telaga yang pernah memperoleh predikat Mukim Teladan di Aceh. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari catatan prestasi masyarakat dalam kehidupan sosial, tata kelola lingkungan, serta pelestarian adat dan tradisi.

Kebanggaan masyarakat terhadap sejarah wilayahnya juga tercermin dari kunjungan Gubernur Aceh Muzakkir Walad pada masa lalu. Untuk mengenang kunjungan tersebut, masyarakat mengabadikan nama gubernur itu sebagai nama salah satu jalan di Gosong Telaga.

Kini, desa yang dihuni sekitar 962 jiwa atau 277 kepala keluarga (KK) tersebut kembali memperoleh perhatian melalui kunjungan Marlina Usman. Agenda itu berkaitan dengan pembinaan dan peninjauan desa yang masuk nominasi lomba Gammawar tingkat Provinsi Aceh 2026.

Kegiatan pembinaan dan penilaian lapangan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan program serta kondisi masyarakat secara langsung. Kunjungan ini juga membuka ruang bagi desa untuk memperkenalkan potensi yang tidak hanya berkaitan dengan program pembangunan, tetapi juga sejarah dan tradisi lokal.

Masyarakat berharap perhatian yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Dukungan pembinaan dan program berkelanjutan diharapkan dapat membantu pengembangan desa, termasuk menjaga peninggalan sejarah dan memperkuat identitas budaya masyarakat.

Dengan warisan sejarah yang dimiliki, Gosong Telaga Selatan menghadapi tantangan untuk menjaga peninggalan masa lalu sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan warganya. Pelestarian situs bersejarah, penguatan tradisi, dan pembangunan desa diharapkan dapat berjalan beriringan agar kekayaan lokal tersebut tetap dikenal oleh generasi berikutnya. []

Redaksi 01

About redaksi01

Check Also

48 Bendahara Koperasi Merah Putih Maros Diprioritaskan Ikuti Pelatihan

PDF 📄MAROS – Kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu aspek yang diperkuat dalam operasionalisasi Koperasi …

Musdes Mataiyang Bentuk Tim Penyusun RKPDes 2027

PDF 📄SUMBAWA BARAT – Pemerintah Desa Mataiyang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai …

BUMDes Tenjoayu Raup Rp30 Juta dari Panen Perdana Melon Premium

PDF 📄SUKABUMI – Budidaya melon premium yang dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tenjoayu Sukses …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *