MUTOKO – Pemerintah Zimbabwe menempatkan desa sebagai pusat penguatan ketahanan pangan melalui rencana pembangunan unit usaha irigasi di 35.000 desa. Program tersebut diarahkan untuk memanfaatkan sumber air setempat agar masyarakat pedesaan dapat memproduksi pangan sepanjang tahun sekaligus mengembangkan pertanian sebagai kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan.
Rencana itu memanfaatkan lebih dari 10.000 sumber air yang tersebar di Zimbabwe. Melalui pengelolaan irigasi, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim, sekaligus menjaga ketersediaan pangan bagi rumah tangga di wilayah pedesaan.
Sekretaris Tetap Kementerian Pertanian, Mekanisasi, dan Pengembangan Sumber Daya Air Zimbabwe, Obert Jiri, mengatakan pemerintah ingin setiap desa yang memiliki akses terhadap sumber air membentuk unit usaha irigasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam peringatan Hari Pangan Sedunia yang digelar di Skema Irigasi Chitora, Mutoko, Jumat pekan lalu, sebagaimana diberitakan Herald, Senin (02/11/2026).
“Jika kita memiliki unit usaha irigasi di setiap desa, seperti yang direncanakan Pemerintah, hal ini benar-benar dapat memastikan bahwa kita memiliki ketahanan pangan di setiap desa. Tidak perlu ada yang kelaparan ketika mereka dapat berinvestasi di unit usaha desa untuk memastikan bahwa mereka memiliki cukup makanan untuk desa mereka,” kata Jiri.
Menurut dia, pengembangan irigasi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan hasil panen. Pengelolaannya juga perlu menggunakan pendekatan bisnis agar produksi petani terkoordinasi dengan kebutuhan pasar, tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga dan masyarakat desa.
Selain pembangunan unit usaha irigasi, pemerintah menjalankan Skema Pengeboran Sumur Presiden yang menargetkan pembangunan sedikitnya satu sumur bor di setiap 35.000 desa. Sekolah dan pusat pelatihan kejuruan juga diarahkan menjadi pusat kegiatan produksi serta pengembangan usaha pertanian.
Dorongan memperluas irigasi tersebut sejalan dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim terhadap pertanian yang selama ini mengandalkan hujan. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menilai investasi pada sistem irigasi skala kecil dan menengah perlu dipercepat untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Koordinator Subregional FAO untuk Afrika Selatan sekaligus Perwakilan FAO di Zimbabwe, Patrice Talla Takoukam, menegaskan negara-negara perlu memperkuat dukungan terhadap petani kecil melalui pembangunan infrastruktur pengairan.
“Era pertanian tadah hujan telah berakhir. Pemerintah dan para mitranya perlu mencari cara untuk benar-benar memperkuat dukungan bagi petani skala kecil melalui skema irigasi,” kata Talla Takoukam.
Namun, peningkatan produksi pertanian di desa juga perlu disertai pengembangan fasilitas pengolahan dan penyimpanan hasil panen. Direktur Program Pangan Dunia (WFP), Barbara Clemens, mengatakan petani membutuhkan sarana yang memungkinkan hasil pertanian diolah menjadi produk bernilai tambah, bukan hanya dijual dalam bentuk mentah.
“Tidak semua tomat harus dijual di Mbare dan pasar massal dalam bentuk mentah. Kita bisa membuat pasta tomat, saus tomat, jus tomat; kita membutuhkan pabrik, kita membutuhkan fasilitas penyimpanan dingin,” katanya.
Clemens juga mendorong keterlibatan sektor swasta untuk membangun fasilitas pengolahan di komunitas pedesaan. Investasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat rantai nilai pertanian dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas yang dihasilkan petani.
“Saya pikir sektor swasta perlu masuk dan berinvestasi di komunitas seperti ini untuk menciptakan ekosistem yang dapat meningkatkan nilai tambah tomat,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah Zimbabwe bersama Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) dan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sedang menjalankan Proyek Klaster Pertanian Petani Kecil (SACP) selama enam tahun. Program tersebut menyasar 78.000 petani yang tersebar di 18 distrik.
Koordinator Nasional SACP, Alex Nyakatsamba, menjelaskan program itu mengorganisasi petani ke dalam kelompok produsen pertanian. Para peserta juga memperoleh pendampingan pengembangan usaha, literasi keuangan, keterampilan pertanian cerdas iklim, akses pembiayaan, serta hubungan dengan pasar.
“Kami juga hadir dengan pembiayaan, yaitu pinjaman dan hibah sebagai dua instrumen pembiayaan. Kami berupaya untuk mendorong sistem produksi petani kecil agar mereka meningkatkan produksi dan produktivitas, kemudian menghubungkan mereka ke pasar formal,” katanya.
Program tersebut turut mencakup rehabilitasi skema irigasi dan penyediaan infrastruktur yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Langkah ini ditujukan agar kegiatan pertanian tetap berjalan ketika menghadapi kekeringan maupun gangguan akibat kondisi cuaca ekstrem.
Di Chitora, tiga kelompok produsen pertanian telah menerima hibah senilai 45.000 dolar AS dan pinjaman sebesar 7.000 dolar AS. Total investasi proyek pada tiga skema irigasi di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 61.000 dolar AS.
“Mereka berhasil mengajukan permohonan hibah serta pinjaman, yang telah disetujui, dan kami juga berhasil membeli peralatan untuk meningkatkan kapasitas irigasi dan juga untuk mengganti sistem penyiraman yang ada sebelumnya,” kata Nyakatsamba.
Ia menambahkan, dukungan tersebut diharapkan membantu petani mempertahankan kegiatan produksi meskipun menghadapi periode kekeringan dan banjir.
Peringatan Hari Pangan Sedunia itu diselenggarakan Kementerian Pertanian Zimbabwe bersama sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni WFP, FAO, dan IFAD, dengan tema “Berinovasi Hari Ini, Memberi Makan Besok”. Melalui penguatan irigasi, pembiayaan, dan pengolahan hasil pertanian, pemerintah berupaya menjadikan desa sebagai basis produksi pangan sekaligus penggerak usaha pertanian yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara