BEKASI – Desa Wisata Kampung Ciranggon di Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mencatat kunjungan sedikitnya 5.000 orang setiap pekan. Aktivitas wisata tersebut membuka peluang ekonomi bagi pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus menjadi ruang untuk mempertahankan budaya serta kehidupan pertanian masyarakat desa.
Potensi itu didukung keberadaan destinasi Kampung Tilu dan Saung Tepian yang menawarkan suasana alam serta kuliner khas pedesaan. Hamparan persawahan, aktivitas petani, tradisi gotong royong, dan keramahan warga menjadi karakter yang dipertahankan di tengah perkembangan kawasan industri Bekasi.
Ketua Desa Wisata Kampung Ciranggon Ijaz Alhadi mengatakan, pengembangan destinasi tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan potensi lokal, termasuk seni tradisional dan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Berdasarkan aktivitas transaksi pedagang, Kampung Ciranggon setiap pekan dikunjungi sedikitnya 5.000 orang. Tingginya kunjungan tersebut turut memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan pedagang lokal,” ujarnya.
Menurut Ijaz, sejak diresmikan empat tahun lalu, Kampung Ciranggon terus mengembangkan berbagai potensi wisata yang dimiliki. Pergelaran seni budaya juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan tradisional kepada masyarakat luas.
Kegiatan tersebut menampilkan beragam kesenian, mulai dari tari-tarian hingga pencak silat. Pengembangan wisata diarahkan agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa meninggalkan tradisi dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengatakan, keberadaan wisata berbasis budaya menjadi salah satu cara memperkenalkan potensi desa sekaligus menjaga identitas daerah di tengah pesatnya perkembangan industri.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkenalkan potensi wisata desa sekaligus mempertahankan tradisi serta identitas Kabupaten Bekasi di tengah pesatnya kawasan industri,” kata Asep di Cikarang, Minggu (01/11/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Minggu, (01/11/2026).
Ia menjelaskan, Bekasi memiliki keberagaman suku dan budaya. Masyarakat Sunda banyak dijumpai di wilayah selatan, sedangkan masyarakat Betawi menjadi bagian dari kehidupan budaya di wilayah utara. Keberagaman tersebut dinilai sebagai kekayaan daerah yang perlu dijaga.
“Walaupun Bekasi dikenal sebagai kota industri, tradisi dan budaya tidak boleh ditinggalkan. Budaya merupakan cerminan sekaligus landasan moral masyarakat yang harus kita pertahankan. Salah satunya melalui pengembangan wisata Kampung Ciranggon ini,” ujarnya.
Asep menilai, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan tempat. Tradisi, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat juga perlu dipertahankan karena menjadi daya tarik yang membedakan satu destinasi dengan destinasi lainnya.
“Desa wisata harus kita rawat, kita pertahankan dan terus kita perbaiki. Kalau dikembangkan, aktivitas ekonomi masyarakat akan tumbuh. Masyarakat bisa berdagang, bertani sekaligus mempertahankan budaya yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka,” katanya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi juga berencana mendorong pengembangan desa wisata di wilayah lain yang memiliki lingkungan alam asri dan potensi kearifan lokal. Penentuan prioritas pengembangan akan dibahas melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi Mien Aminah menjelaskan, pergelaran seni budaya di Kampung Ciranggon merupakan kegiatan kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Situ Binong, Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat.
Kampung Ciranggon menjadi salah satu lokasi kegiatan tersebut sekaligus desa pertama di Kabupaten Bekasi yang memiliki surat keputusan penetapan desa wisata.
Menurut Mien, kegiatan seni budaya itu diarahkan untuk mempromosikan destinasi wisata desa, melestarikan kebudayaan daerah, meningkatkan daya tarik wisata, serta mendorong pertumbuhan pelaku UMKM. Kegiatan tersebut juga memperkuat kolaborasi masyarakat, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan pelaku seni budaya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis potensi lokal sehingga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Pengalaman Kampung Ciranggon menunjukkan bahwa pengembangan wisata desa dapat berjalan beriringan dengan aktivitas pertanian dan pelestarian budaya. Dengan mempertahankan keterlibatan masyarakat sebagai bagian utama pengelolaan destinasi, potensi wisata diharapkan terus memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan karakter pedesaan. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara