Festival Budaya Cai Diraga 2026 di Kabupaten Cirebon mengangkat tradisi Larung Cai dari sembilan mata air sebagai wujud syukur sekaligus ajakan menjaga sumber daya air.
CIREBON – Tradisi membawa air dari sembilan mata air menjadi pesan utama Festival Budaya Cai Diraga 2026 di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Digelar pada 30 Oktober hingga 1 November 2026, perayaan tahunan ini mengangkat hubungan masyarakat dengan sumber air sekaligus mengajak warga menjaga warisan budaya dan kelestarian lingkungan.
Festival yang memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh tersebut digagas Yayasan Midang Waringin Jati dengan melibatkan masyarakat, para sesepuh, dan pemerintah daerah. Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tradisi yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu tradisi yang menjadi inti perayaan ialah Larung Cai. Dalam prosesi tersebut, warga membawa air yang dihimpun dari sembilan sumber mata air. Iring-iringan masyarakat, tabuhan musik, serta kehadiran para sesepuh menjadi bagian dari rangkaian ritual yang mencerminkan rasa syukur atas anugerah alam.
Dalam bahasa Sunda, kata cai berarti air. Makna tersebut sejalan dengan pesan festival yang menempatkan air sebagai sumber kehidupan. Bagi masyarakat agraris, keberadaan mata air dan sungai berperan penting dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga serta menunjang kegiatan pertanian.
Karena itu, pelestarian Larung Cai juga memiliki relevansi dengan upaya menjaga sumber daya air. Tradisi tersebut mengingatkan masyarakat bahwa keberlangsungan kehidupan dan aktivitas ekonomi bergantung pada ketersediaan air serta lingkungan yang terpelihara.
Festival Budaya Cai Diraga 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu. Berdasarkan informasi yang diberitakan Viva pada Jumat, (23/10/2026), kegiatan ini dapat dikunjungi tanpa biaya tiket masuk.
Meski demikian, pengunjung disarankan memastikan kembali informasi teknis kepada penyelenggara. Rincian agenda harian belum dicantumkan dalam informasi yang menjadi rujukan, termasuk pengaturan area kegiatan dan kemungkinan rekayasa lalu lintas selama festival berlangsung.
Melalui perayaan ini, penyelenggara dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap sumber mata air sekaligus mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, Larung Cai tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga air sebagai penopang kehidupan. []
Redaksi 01
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara