BANYUMAS – Pengembangan usaha berbasis potensi lokal menjadi salah satu strategi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Sejahtera di Desa Sikapat, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas (Banyumas), untuk memperluas sumber pendapatan desa. Berawal dari pengelolaan kolam renang Randu Bengkong, lembaga usaha tersebut kini mengembangkan empat unit bisnis yang mencakup pariwisata, pasar desa, pelayanan masyarakat, dan ketahanan pangan.
Diversifikasi usaha itu menjadi bagian dari upaya BUMDes Mitra Sejahtera memperkuat peran ekonomi desa. Pengembangan tersebut juga mengantarkan BUMDes ini masuk enam besar Anugerah BUMDesa Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades) Banyumas.
Direktur BUMDes Mitra Sejahtera Sikapat, Rusito, mengatakan pengembangan usaha tidak akan berhenti pada sektor yang sudah berjalan. Salah satu rencana yang tengah disiapkan ialah mengintegrasikan pertanian dengan kegiatan wisata agar petani memiliki kesempatan memperoleh pendapatan tambahan.
Menurut Rusito, aktivitas pertanian dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang menarik bagi pengunjung. Kegiatan panen, misalnya, berpeluang dikembangkan menjadi paket wisata yang melibatkan petani sebagai bagian dari aktivitas usaha tersebut.
“Contohnya saat panen, kita bisa buat paket wisata.
Wisata panen misalkan, maka petani akan dapat dari side job,” kata Rusito kepada Tribun Banyumas, Rabu (28/10/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Banyumas, Sabtu, (31/10/2026).
Gagasan tersebut memperlihatkan upaya BUMDes menghubungkan kegiatan ekonomi yang sudah berlangsung di desa dengan peluang usaha baru. Dengan demikian, sektor pertanian tidak hanya diposisikan sebagai penghasil komoditas, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kegiatan pariwisata.
Perjalanan pengembangan usaha BUMDes Mitra Sejahtera dimulai sejak lembaga tersebut berdiri pada 2018. Pada tahap awal, pengelolaannya berfokus pada Taman Wisata Randu Bengkong yang sebelumnya telah tersedia. BUMDes menerima modal sekitar Rp30 juta dari pengurus terdahulu untuk menjalankan pengelolaan tersebut.
Randu Bengkong mulai beroperasi pada akhir Desember 2019. Rusito melihat kolam renang memiliki peluang untuk terus berkembang karena olahraga renang mempunyai peminat tersendiri. Selain menjadi tempat rekreasi, fasilitas itu juga diharapkan dapat mendukung lahirnya atlet baru dari lingkungan masyarakat setempat.
“Sebab, olahraga renang memiliki peminat tersendiri dan selalu ada masyarakat yang mencintai olahraga tersebut.
Selain menjadi tempat rekreasi, keberadaan kolam renang di desa juga diharapkan bisa menjadi sarana melahirkan atlet-atlet baru dari lingkungan masyarakat setempat,” ucapnya.
Keberadaan usaha wisata tersebut juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi warga Desa Sikapat. Rusito meyakini kegiatan usaha kolam renang masih memiliki ruang untuk tumbuh seiring minat masyarakat terhadap olahraga renang.
“Saya yakin kalau kolam renang itu tidak akan matinya. Akan selalu tumbuh orang yang mencintai olahraga,” ujarnya.
Namun, pengembangan usaha tersebut sempat menghadapi tantangan ketika pandemi Covid-19 melanda tidak lama setelah Randu Bengkong beroperasi. Pembatasan kegiatan masyarakat atau lockdown menyebabkan aktivitas wisata terhenti untuk sementara waktu.
Pengalaman menghadapi pandemi menjadi salah satu ujian bagi pengelola dalam mempertahankan keberlangsungan usaha. Rusito menilai persoalan merupakan bagian dari perjalanan bisnis sehingga pengelola perlu menyiapkan solusi dan tetap melihat peluang pengembangan.
“Kalau kondisi sekarang dibilang pesimis mungkin enggak. Karena kita sudah melewati Covid.”
Ke depan, pengembangan unit usaha dan rencana wisata pertanian menjadi bagian dari upaya BUMDes Mitra Sejahtera memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Sikapat. Keterlibatan petani dalam paket wisata panen diharapkan dapat membuka sumber pendapatan tambahan sekaligus memperkuat hubungan antara potensi pertanian dan pariwisata desa. []
Redaksi02
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara