Produktivitas padi sekitar 11 ton per hektare di Desa Jetak memperkuat potensi pangan Sragen, tetapi kelancaran irigasi, ketersediaan pupuk, harga gabah, dan dukungan alat pertanian tetap dibutuhkan untuk menjaga hasil panen.
SRAGEN DESA NUSANTARAÂ – Produktivitas padi sekitar 11 ton per hektare di Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng), menjadi modal penting bagi penguatan ketahanan pangan daerah. Namun, petani masih membutuhkan dukungan berkelanjutan berupa kelancaran irigasi, kemudahan memperoleh pupuk, harga gabah yang baik, dan bantuan alat pertanian agar hasil tersebut dapat dipertahankan.
Desa Jetak memiliki sekitar 240 hektare lahan pertanian yang ditopang jaringan irigasi teknis dari Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Areal tersebut dikelola 725 petani yang tergabung dalam delapan kelompok tani. Dalam setahun, mereka menerapkan pola tanam padi, padi, dan palawija dengan menyesuaikan arahan pola tanam daerah.
Bupati Sragen Sigit Pamungkas menilai produktivitas petani Desa Jetak turut memperkuat posisi Sragen sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Jateng. Ia berharap hasil panen dapat terus meningkat dengan dukungan sarana produksi dan infrastruktur pertanian yang memadai.
“Kami turut senang hasil panen di Desa Jetak sangat bagus. Semoga ke depan hasilnya terus meningkat, harga gabah tetap baik, pupuk mudah diperoleh, dan pengairan berjalan lancar. Pemerintah Kabupaten Sragen akan mengupayakan dukungan alat pertanian yang masih dibutuhkan, agar produktivitas petani semakin optimal,” kata Sigit, sebagaimana diberitakan Desa Terkini, Kamis, (29/10/2026).
Menurut Sigit, produksi gabah Sragen mencapai sekitar 350.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan masyarakat diperkirakan sekitar 100.000 ton per tahun. Secara teoritis, jumlah produksi tersebut setara dengan kebutuhan pangan masyarakat selama sekitar tiga tahun apabila seluruh hasil produksi dialokasikan untuk konsumsi daerah sendiri.
Meski memiliki produksi gabah yang besar, keberlanjutan hasil pertanian tetap bergantung pada kerja petani dan dukungan berbagai pihak. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting, terutama untuk mempertahankan produktivitas lahan dan memastikan kegiatan budidaya berjalan sesuai pola tanam.
“Kita bisa berada di titik ketahanan pangan seperti sekarang, berkat kerja keras petani yang rajin turun ke sawah dan merawat tanamannya,” ujar Sigit.
Di tengah upaya menjaga produktivitas tersebut, petani Desa Jetak juga mempertahankan tradisi Memetri Budaya Methil sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Kegiatan yang digelar di area persawahan pada Selasa (27/10/2026) itu menjadi sarana menjaga warisan budaya pertanian sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat.
Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Dharma Tirta Tani Mulyo Desa Jetak, Didik Sunardi, mengatakan tradisi tersebut lahir dari aspirasi petani yang ingin menjaga budaya methil agar tidak ditinggalkan generasi muda. Dalam kegiatan itu, para petani mengenakan kain lurik dan caping, kemudian menari bersama dengan iringan lagu “Gugur Gunung”.
“Tasyakuran methil ini merupakan aspirasi para petani. Budaya adiluhung yang mulai banyak ditinggalkan generasi muda ini ingin kami lestarikan dan kembangkan setiap akhir tahun, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah,” ujarnya.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ungkapan syukur, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan peran petani dalam menjaga ketersediaan pangan. Di Desa Jetak, pengelolaan lahan dilakukan oleh ratusan petani melalui delapan kelompok tani dengan pola tanam yang disesuaikan dengan arahan daerah.
Sigit berharap semangat kebersamaan dan kerja keras petani dapat terus dipertahankan seiring peningkatan produksi. Ia juga menyatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen akan mengupayakan dukungan alat pertanian yang masih dibutuhkan petani.
“Dukungan terhadap petani, kelancaran pengairan, ketersediaan pupuk, serta harga gabah yang baik diharapkan dapat menjaga hasil panen sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. []”
Redaksi 1
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara