Memasuki tahun keempat, tradisi Pisowanan di Desa Plosowahyu menjadi ruang doa bersama sekaligus pengingat bagi warga untuk menjaga kerukunan dan mewariskan nilai-nilai kebaikan.
LAMONGAN DESA NUSANTARA – Tradisi Pisowanan di Desa Plosowahyu, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat kebersamaan sekaligus meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi muda. Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, kegiatan yang digelar di pelataran makam Mbah Mojorono itu kembali mengajak masyarakat menjaga lingkungan kampung dan menghormati warisan para pendahulu.
Pemerintah Desa Plosowahyu menyelenggarakan Pisowanan pada Kamis (29/10/2026) melalui rangkaian kegiatan keagamaan yang terbagi dalam dua sesi. Pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, warga mengikuti Khotmil Quran. Kegiatan berlanjut pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama untuk para leluhur serta keluarga yang telah meninggal dunia.
Kepala Desa (Kades) Plosowahyu, Agus Susanto, mengatakan Pisowanan tidak hanya dimaksudkan sebagai agenda rutin, tetapi juga menjadi sarana mempertahankan nilai-nilai positif yang diwariskan generasi terdahulu.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin agar hubungan dengan leluhur tidak terputus. Kami ingin tetap berada dalam jalur kebaikan yang telah diwariskan oleh orang-orang terdahulu. Jangan sampai apa yang sudah baik dari leluhur kemudian ternodai dengan hal-hal yang buruk,” ujar Agus.
Menurut dia, pengenalan sejarah dan kebiasaan para pendahulu penting dilakukan agar generasi berikutnya memahami perjalanan serta nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat Desa Plosowahyu.
Agus juga mengingatkan warga agar menjaga lingkungan tempat tinggal dan meneruskan kebiasaan baik kepada anak cucu. Ia menilai kampung merupakan ruang hidup bersama yang perlu dirawat, bukan tempat untuk melakukan tindakan yang merugikan masyarakat.
“Yang baik-baik harus kita jaga dan kita wariskan kepada generasi penerus. Mari bersama-sama menjaga kampung ini, karena di sinilah keluarga dan kehidupan kita. Kalau ingin melakukan hal yang tidak baik atau membuat kerusuhan, jangan dibawa ke kampung sendiri,” pungkasnya.
Secara turun-temurun, Pisowanan dilaksanakan setiap Jumat Kliwon. Tradisi tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, berdoa, dan mengenang para leluhur yang memiliki kaitan dengan sejarah desa.
Keberlanjutan kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan seremonial, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari warga. Dengan demikian, Pisowanan dapat terus menjadi pengingat untuk merawat kerukunan, menjaga kampung, dan mewariskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi selanjutnya. []
Redaksi 1
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara