Lahan Desa Pleret Disulap Jadi Sentra Pertanian Pintar

Lahan yang sebelumnya tidak produktif di Padukuhan Karet, Kalurahan Pleret, kini dikembangkan menjadi kawasan pertanian berbasis teknologi untuk mendorong produktivitas, ekonomi desa, dan regenerasi petani.

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA – Pemerintah Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, mengembangkan lahan yang sebelumnya tidak produktif di Padukuhan Karet menjadi kawasan Pertanian Wisata Banyu Kencono dengan melibatkan teknologi pertanian pintar serta pengelolaan oleh Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal).

Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya Pleret memanfaatkan potensi lahan desa sekaligus membuka ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terlibat dalam sektor pertanian. Program itu didukung Dana Keistimewaan melalui skema Desa Mandiri Budaya dan menggabungkan pengelolaan pertanian dengan potensi sejarah Lumbung Pangan Mataram.

Sistem yang diterapkan menggunakan perangkat keras sumber terbuka (open source), panel surya, antena transmisi data, sensor kelembapan tanah, dan sensor cahaya. Data lingkungan yang dikumpulkan kemudian diproses menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui asisten virtual Alexa untuk membantu penyiraman dan pemupukan secara otomatis.

Penanggung Jawab Pertanian Wisata Banyu Kencono, Soni Susanto, mengatakan teknologi tersebut memungkinkan pengelola lahan memperoleh data kondisi pertanian secara aktual sehingga pemantauan tanaman tidak sepenuhnya bergantung pada pencatatan manual. Hal itu disampaikannya dalam Rembag bertajuk Kaistimewan Petani Muda Naik Kelas: Bertani Cerdas dengan Teknologi Internet of Things (IoT) Pertanian terus berkembang, Kamis (24/9/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Jogja, Kamis, (24/09/2026).

“Dari mulai hari ini ada lonjakan panas, nah Alexa itu merekam. Teman-teman di lahan sudah mengantisipasi, berarti nanti sore untuk penyiraman durasinya agak kita panjangkan supaya tanah itu benar-benar lembap untuk menjaga kesehatan tanah. Jadi untuk pengambilan data sampel dan segala macam itu lebih akurat. Semua siklus mulai dari pertumbuhan tanaman hingga siklus hama ter-backup semuanya oleh AI,” jelas Soni.

Dari sisi pengelolaan ekonomi desa, Lurah Pleret Taufiq Kamal menyebut penerapan pertanian berbasis teknologi juga telah diuji dari aspek produksi dan keuntungan BUMKal. Pengelola menggunakan pola tanam multikomoditas berupa bawang merah, cabai keriting, dan pare untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis komoditas ketika harga pasar berubah.

“Ini diuji coba di awal, lahan 1.000 meter persegi dengan benih 50 kilogram itu menghasilkan 1,2 ton. Artinya, kalau kira-kira biaya produksinya sekitar Rp 15 juta, kan bisa menjual sekitar Rp 38 juta. Selama satu tahun, bisa jadi pertanian yang menggunakan alat digital tadi itu sudah balik modal, baik baterainya, panel suryanya, maupun sensor-sensornya. Kalau waktu panen massal kita mengambil langkah agak cerdas sedikit, untuk mengantisipasi kalau mungkin harga bawang merah turun, kita ada dua komoditas lain yaitu cabai keriting dan pare agar seimbang,” papar Taufiq.

Menurut Taufiq, pola pengelolaan tersebut juga diarahkan untuk menjawab tantangan regenerasi petani di Pleret. Kemudahan penggunaan teknologi dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal dan terlibat dalam kegiatan pertanian desa.

“Selama 6 tahun menjadi lurah, saya mengajak petani muda itu susah sekali. Kumpulan Gapoktan rutin tidak pernah muncul petani muda. Kini pengkodeannya (coding) tinggal diperintahkan saja jadi. Dengan teknologi inilah Pleret mengusung tema digital supaya digitalisasi itu menjadi alat bantu yang memudahkan pekerjaan,” tambahnya.

Soni menilai penggunaan perangkat digital juga membuat aktivitas pertanian lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda. Pemantauan kondisi tanaman dapat dilakukan menggunakan ponsel pintar sehingga aktivitas di lahan tidak selalu mengharuskan petani berada di lokasi sepanjang waktu.

“Untuk mengedukasi kalangan muda itu sangat memungkinkan dan lebih mudah. Dengan adanya teknologi ini, sudut pandang mereka berubah, ‘Oh ponsel saja bisa untuk menyiram tanaman, memupuk, memantau perkembangan tanaman, tidak harus panas-panasan ke tengah sawah’. Kita sambil rebahan, daripada bermain media sosial, kan lebih baik kita pantau tanaman kita nanti kurang apa atau sedang ada kendala apa. Harapannya, pemuda di lingkup Pleret daripada merantau ke luar kota, lebih baik mengembangkan daerahnya sendiri,” tegas Soni.

Pengembangan kawasan pertanian desa tersebut juga melibatkan pemberdayaan perempuan. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui program Desa Prima turut terlibat dalam pengembangan kemandirian ekonomi perempuan dan kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Taufiq menyebut lahan di sekitar kawasan utama sedang disiapkan untuk dikelola ibu-ibu dengan sistem penanaman menggunakan medium pot. Model tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi perempuan untuk tetap menjalankan aktivitas pertanian tanpa mengabaikan kegiatan rumah tangga.

Kepala DP3AP2 Daerah Istimewa Yogyakarta Erlina Hidayati Sumardi mengatakan penerapan teknologi dapat membantu perempuan di pedesaan mengelola waktu dan tenaga dalam kegiatan pertanian.

“Perempuan di dunia pertanian itu mengalami tantangan yang lebih. Mereka tidak hanya panen dan pengolahan, sementara juga memiliki ketugasan mengasuh anak, mengelola rumah tangga, antar-jemput anak, dan sebagainya. Sehingga, dengan menggunakan IoT ini menjadi kemenarikan tersendiri bagi perempuan untuk bisa mengefisienkan waktu, energi, dan tenaganya di pertanian tanpa mengganggu aktivitas lainnya. Mereka tetap bisa memantau lewat ponsel pintar atau perangkatnya sambil beraktivitas, dan produktivitasnya tetap tinggi. Melalui pertanian dengan IoT ini, kesejahteraan keluarga menjadi lebih optimal,” urai Erlina.

Dukungan Dana Keistimewaan juga diarahkan tidak hanya pada pengadaan peralatan, tetapi pada keberlanjutan pengembangan pertanian. Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan Daerah Istimewa Yogyakarta Imam Budidharma menyebut pendekatan tersebut tetap berkaitan dengan upaya mempertahankan sekaligus mengembangkan tradisi agraris Mataram.

“Dalam perspektif keistimewaan, kita tidak hanya memaknai memelihara apa yang sudah menjadi tradisi pertanian, tetapi juga mengembangkan dan memanfaatkan. Dalam konteks pengembangan itulah kita beradaptasi dengan teknologi terkini. Kita tetap melakukan produksi seperti biasa, meningkatkan produktivitas, tetapi dengan bantuan teknologi digital. Pendekatan yang dilakukan oleh teman-teman di Pleret ini cukup menarik dan mengatasi permasalahan mendasar pertanian yaitu produktivitas. Artinya, kita memerlukan inovasi atau investasi di bidang teknologi supaya memberikan loncatan,” jelas Imam.

Dalam penerapannya, pengelolaan pertanian di Banyu Kencono masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertanian organik disebut lebih rentan terhadap hama, sementara keamanan lahan juga sempat menjadi persoalan setelah pompa air hilang.

Sebagai langkah mitigasi, kawasan tersebut dilengkapi kamera pengawas atau CCTV dan kamera multispektrum untuk membantu mendeteksi penyebaran hama sejak dini. Perawatan perangkat juga didukung ekosistem lokal melalui bengkel reparasi instrumen IoT yang dikelola warga.

Pengembangan kawasan tersebut kemudian menarik perhatian sejumlah pihak untuk melakukan studi banding dan kegiatan ekowisata, termasuk mahasiswa perguruan tinggi, badan usaha milik negara (BUMN), hingga Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).

Rencana berikutnya diarahkan pada pengembangan lahan yang lebih otomatis. Sistem tersebut ditargetkan dapat menangani penyiraman, pemupukan, hingga penyemprotan dengan pemantauan melalui ponsel pintar.

“Untuk pengembangan riset ini, kita ada lahan di sampingnya yang benar-benar digital penuh. Tidak ada satu pekerja pun yang akan bekerja di situ. Dari mulai penyiraman, pemupukan, hingga penyemprotan, semua AI yang akan menjalankan. Kita tinggal memantau lewat ponsel pintar, lalu tahu-tahu panen. Waktunya tidak harus tiap hari ke lahan,” pungkas Soni merangkum visi masa depan pertanian Pleret. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Dari Desa Praipaha, Ketahanan Pangan Sumba Timur Diperkuat

PDF 📄Pendampingan langsung di lahan pertanian Desa Praipaha menjadi bagian dari upaya mendorong produktivitas petani …

Petani Sigedang Keluhkan Lahan Kering hingga Harga Sayuran Anjlok

PDF 📄Petani Desa Sigedang, Wonosobo, menghadapi tekanan berlapis berupa harga sayuran yang anjlok, lahan yang …

Di Balik Tradisi Kerinci, Warga Renah Kasah Menanti Akses Jalan

PDF 📄Akses jalan sepanjang sekitar 7,4 kilometer yang melintasi rawa membuat warga Desa Renah Kasah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *