Sebanyak 24 desa di Kabupaten Polewali Mandar terdampak kekeringan dengan 7.169 kepala keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih, sementara kekeringan juga mulai mengganggu usaha tambak ikan bandeng warga Desa Nepo.
POLEWALI MANDAR – Kekeringan yang berlangsung selama tiga bulan terakhir mulai menekan kehidupan masyarakat di 24 desa di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Sebanyak 7.169 kepala keluarga (KK) terdampak dan membutuhkan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polman mencatat wilayah terdampak tersebar di delapan kecamatan. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mulai berdampak pada aktivitas ekonomi warga, termasuk budidaya ikan bandeng di Desa Nepo, Kecamatan Wonomulyo.
Untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, BPBD Polman melakukan distribusi air bersih menggunakan kendaraan tangki. Kepala BPBD Polman Adi Candra Sigit mengatakan, sebanyak 4.000 liter air disalurkan ke Desa Battetangnga, Kecamatan Binuang, pada Kamis (24/9/2026), sebagaimana diberitakan Tribun Sulbar, Kamis, (24/09/2026).
“Tadi pagi kami distribusikan 4 ribu liter air bersih ke Desa Battetangnga Kecamatan Binuang,” kata Adi Candra Sigit.
Penyaluran air tidak hanya ditujukan untuk warga. Sekolah dan pondok pesantren yang mengalami kesulitan air bersih juga menjadi sasaran distribusi guna memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kondisi krisis air berlangsung.
Hingga 24 September 2026, total air bersih yang telah disalurkan BPBD Polman mencapai 197 ribu liter. Pendistribusian tersebut telah berlangsung sejak 14 September 2026 atau selama 10 hari.
Adi Candra mengatakan cakupan dampak kekeringan masih bertambah seiring minimnya curah hujan dalam tiga bulan terakhir. Kondisi itu membuat debit sumur yang selama ini menjadi sumber air masyarakat menurun.
“Terus meluas ini dampak [kekeringan],” ungkapnya
Wilayah yang terdampak mencakup Desa Buku, Rumpa, dan Segeran di Kecamatan Mapilli; Desa Tenggelang, Luyo, Batu Panga, dan Batupanga Daala di Kecamatan Luyo; serta Desa Lembang Lembang, Samasundu, dan Nepo di Kecamatan Limboro.
Dampak kekeringan juga dirasakan Desa Bala di Kecamatan Balanipa; Desa Rea, Amassangan, dan Tonyaman di Kecamatan Binuang; Desa Galeso di Kecamatan Wonomulyo; Desa Panyamppa, Kenje, dan Katumbangan di Kecamatan Campalagian; serta Kelurahan Tinambun dan Desa Tandung di Kecamatan Tinambung.
Selain mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari, kondisi tersebut mulai mengancam kegiatan ekonomi masyarakat desa. Salah satunya dialami petani tambak di Dusun Garassi, Desa Nepo.
Tambak ikan di wilayah tersebut mengalami penyusutan air hingga tidak lagi mampu mendukung budidaya ikan bandeng. Tanah di kawasan tambak dilaporkan retak, sedangkan saluran drainase yang sebelumnya dialiri air ikut mengering.
Salah satu petani tambak, Bande, mengaku kehilangan sekitar 10.000 bibit ikan bandeng akibat kekurangan air. Kerugian yang dialaminya ditaksir setara dengan nilai produksi sekitar satu ton ikan bandeng apabila berhasil dipanen.
“Karena kemarau banyak empang yang [kekeringan], itu bisa dilihat di sepanjang jalan ke Garassi,” ujar Bande kepada wartawan.
Menurut Bande, kondisi tersebut terjadi sejak kemarau melanda Polman dalam beberapa bulan terakhir. Penyusutan air di tambak membuat bibit ikan yang dipeliharanya tidak dapat bertahan.
“Mati semua, ada sekitar 10.000 bibit ikan. Kalau ditafsir kerugian sampai 1 ton ikan bandeng kalau dijual. Nah, harganya bibit ikan bandeng Rp1.000 per ekornya,” ungkapnya.
Kondisi di Desa Nepo menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya berpengaruh terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan dasar, tetapi juga dapat mengganggu kegiatan budidaya masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air.
Dengan distribusi air bersih yang masih berlangsung dan jumlah wilayah terdampak yang disebut terus meluas, kebutuhan masyarakat desa menjadi salah satu perhatian dalam penanganan dampak kemarau di Polman. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara