Krisis air bersih di 56 desa Pati membuat warga harus mengandalkan distribusi bantuan dan membeli air secara mandiri ketika pasokan tidak datang.
PATI – Sebanyak 56 desa di 11 kecamatan di Kabupaten Pati (Pati) menghadapi kekeringan yang telah berlangsung sekitar tiga bulan, membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih dan sebagian harus membeli air ketika bantuan tidak tersedia.
Kondisi tersebut dirasakan warga Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo. Sumur warga mengering, sementara sungai yang selama ini dapat dimanfaatkan tidak lagi menjadi sumber air yang dapat diandalkan.
“Kekeringan sudah tiga bulan. Enggak ada bantuan sejak tiga hari lalu,” kata Partini, warga Desa Maitan, sebagaimana diberitakan Metro TV, Jumat, (25/09/2026).
Ketika distribusi air bersih tiba, warga mendatangi lokasi dengan membawa galon dan jeriken. Air yang diperoleh kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara pasokan yang tidak datang setiap hari membuat warga harus mencari alternatif lain.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga membeli air dengan harga yang cukup tinggi. Untuk memperoleh 1.000 liter air, warga harus mengeluarkan biaya hingga Rp80 ribu dan menghemat penggunaannya agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga selama sekitar satu pekan.
“Kalau tak ada bantuan, ya beli. Seribu liter Rp80 ribu buat seminggu. Ya harus irit,” ujar Partini.
Krisis air di desa-desa terdampak juga mulai berpengaruh terhadap kegiatan pertanian. Sejumlah lahan mengering dan sebagian tanaman mengalami gagal panen atau puso.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati mencatat luas lahan pertanian yang terdampak kekeringan telah mencapai lebih dari 1.400 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 400 hektare dilaporkan mengalami puso.
Kepala BPBD Pati Marthinus Budi Prasetya mengatakan kondisi kekeringan terus meluas hingga mencakup lebih dari 10 kecamatan.
“Untuk kekeringan semakin parah dan meluas. Ada 10 kecamatan lebih yang dilanda kekeringan. Untuk areal pertanian 1.400 hektare lebih dan 400 hektare yang sudah mengalami puso,” ungkapnya.
Kecamatan Jakenan, Jaken, dan Pucakwangi tercatat sebagai tiga wilayah yang mengalami dampak paling parah. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap masyarakat desa yang tidak hanya menghadapi keterbatasan air untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dampak terhadap lahan pertanian.
BPBD Pati masih mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang terdampak. Bantuan tersebut menjadi penopang kebutuhan warga selama sumur dan sumber air lainnya belum kembali terisi.
Bagi warga desa yang terdampak, keberlanjutan distribusi air menjadi penting karena kekeringan masih berlangsung. Sementara itu, dampak terhadap lahan pertanian menunjukkan bahwa persoalan kekeringan di Pati tidak hanya menyangkut kebutuhan air rumah tangga, tetapi juga keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara