JOMBANG – Petani tembakau Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim), tengah menikmati momentum harga jual yang tinggi setelah hasil panen tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan musim sebelumnya. Tembakau rajangan kering di tingkat petani kini berada pada kisaran Rp37.000-Rp42.000 per kilogram, bahkan kualitas tertentu disebut dapat mencapai Rp50.000 per kilogram.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi petani untuk menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan sejak pengolahan lahan hingga proses pengeringan. Terlebih, sekitar 80 persen lahan tembakau di Kepuhrejo telah dipanen hingga awal September 2026.
Kepala Desa (Kades) Kepuhrejo Asiami mengatakan hasil pengolahan tembakau tahun ini cukup menjanjikan. Dari 1 kuintal daun tembakau, hasil setelah dirajang dan dikeringkan dapat mencapai sekitar 18-20 kilogram.
“Tanaman tembakaunya bagus dibandingkan dengan tahun lalu. Dalam satu kwintalnya bisa keluar 18-20 kilogram kalau di ranjang dan harganya juga bagus tahun ini,” ucap Asiami kepada TribunJatim.com, Jumat (11/9/2026).
Petani di Kepuhrejo mayoritas memilih mengolah sendiri hasil panen hingga menjadi tembakau rajangan kering. Cara tersebut membuat daun yang semula dijual dalam kondisi basah memiliki nilai jual lebih tinggi.
Harga tembakau basah jenis rejeb saat ini sekitar Rp7.000 per kilogram. Sementara setelah melalui proses perajangan dan pengeringan, harganya dapat meningkat menjadi Rp37.000-Rp42.000 per kilogram di tingkat petani.
“Mayoritas di sini petani memproses sendiri, dirajang. Di Desa Kepuhrejo sudah 80 persen sudah dipanen. Alhamdulillah tahun ini harganya bagus dibandingkan tahun kemarin,” ujarnya melanjutkan, sebagaimana diberitakan Tribun Jatim, Jumat, (11/09/2026).
Sebagian hasil panen yang telah dipetik masih menjalani proses perajangan dan pengeringan sebelum dipasarkan. Dengan pengolahan tersebut, petani memiliki kesempatan memperoleh nilai jual yang lebih baik dibandingkan menjual hasil panen dalam kondisi basah.
Namun, harga tinggi belum otomatis berarti keuntungan besar. Petani tetap harus memperhitungkan berbagai biaya yang dikeluarkan selama satu musim tanam, mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit dan pupuk, perawatan tanaman, panen, hingga pengolahan daun menjadi rajangan kering.
“Karena itu, harga jual menjadi salah satu penentu apakah musim tembakau berakhir dengan keuntungan atau justru sebaliknya,” katanya.
Kepuhrejo merupakan salah satu kawasan penghasil tembakau di wilayah utara Brantas. Puluhan hektare lahan pertanian di desa tersebut dimanfaatkan warga untuk membudidayakan komoditas yang menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.
Potensi tersebut turut mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang. Pada 2025, Kepuhrejo ditetapkan sebagai salah satu Desa Tematik Tembakau.
Di tengah kondisi harga yang menguntungkan, petani kini menghadapi tantangan berikutnya, yakni mempertahankan harga ketika seluruh hasil panen selesai diolah dan masuk ke pasar. Lonjakan pasokan berpotensi memengaruhi harga jual apabila permintaan tidak bergerak sebanding.
Bagi petani, keberlanjutan harga menjadi penting karena pendapatan dari panen harus mampu menutup modal sekaligus memberikan keuntungan setelah seluruh biaya produksi diperhitungkan.
“Bagi para petani, ini menjadi kesempatan untuk mengembalikan modal produksi sekaligus membawa pulang keuntungan yang lebih besar,” pungkasnya.
Dengan hasil tanaman yang dinilai lebih baik dan harga tembakau rajangan kering yang masih tinggi, musim panen 2026 menjadi momentum penting bagi petani Kepuhrejo. Mereka berharap harga tetap bertahan agar peningkatan hasil produksi benar-benar berdampak pada pendapatan dan kesejahteraan petani desa. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara