Air Irigasi Menurun, Petani Mojokerto Gunakan Sumur JIAT

MOJOKERTO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto mengandalkan 12 sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk menjaga pasokan air ke lahan pertanian di tengah penurunan debit irigasi selama musim kemarau. Infrastruktur tersebut disiapkan sebagai sumber air alternatif agar sawah produktif tetap mendapat pengairan dan risiko gagal panen atau puso dapat ditekan.

Keberadaan sumur JIAT menjadi penting karena debit air irigasi dari sungai mulai menyusut. Salah satu fasilitas yang telah digunakan berada di area persawahan Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, dan mampu memasok air hingga puluhan hektare lahan.

Petani sekaligus perangkat Desa Pagerejo, Khamim Mutohari, mengatakan berkurangnya debit Sungai Brantas membuat petani membutuhkan sumber air tambahan untuk mempertahankan pengairan sawah.

“Ini rumah pompa (Sumur JIAT) bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum, melalui BBWS Sungai Brantas yang Alhamdulillah kini sudah dimanfaatkan oleh petani di Desa Pegerejo untuk mengairi persawahan di masa sulit air. Sungai irigasi menyusut karena musim kemarau,” ujar Khamim saat dijumpai di Rumah Pompa Sumur JIAT Desa Pagerejo, Jumat (11/9/2026) siang, sebagaimana diberitakan Tribun Jatim, Jumat, (11/09/2026).

Rumah pompa tersebut memiliki kapasitas 30 liter per detik. Infrastruktur yang dibangun pada 2025 itu telah digunakan petani selama sekitar delapan bulan untuk mengairi lahan pertanian.

Pengoperasian pompa dilakukan berdasarkan kebutuhan. Dalam kondisi normal, pompa dijalankan dua hingga tiga kali dalam sepekan selama enam hingga delapan jam per hari. Namun, durasi pemakaian dapat mencapai 24 jam apabila kebutuhan air meningkat.

“Sumur JIAT sudah dioperasikan untuk mengairi sawah di Desa Pegerejo selama 7-8 bulan, kapasitasnya besar sehingga bisa menyuplai air di seluruh lahan dengan total luas sekitar 30-35 hektare,” bebernya.

Dengan tersedianya sumber air tersebut, petani Pagerejo dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim kemarau. Jagung dan tebu menjadi sejumlah komoditas yang ditanam karena kebutuhan airnya dapat disesuaikan dengan ketersediaan pasokan.

“Kebutuhan air untuk lahan pertanian masih bisa dipenuhi dengan pompa Sumur JIAT, dan juga masih lancar dapat digunakan. Kemungkinan tidak sampai ada gagal panen puso, sehingga dapat memberikan hasil panen yang melimpah di desa kami,” jelasnya.

Pengaturan pemakaian air dilakukan melalui Pemerintah Desa (Pemdes) berdasarkan permintaan petani. Pembagian aliran irigasi yang oleh masyarakat setempat disebut Mataulu disesuaikan dengan kebutuhan lahan.

Petani tidak membayar air yang dialirkan dari sumur, tetapi harus menanggung biaya listrik untuk mengoperasikan pompa. Pengeluaran tersebut dibagi secara patungan dengan rata-rata biaya sekitar Rp40.000-Rp50.000 setiap sesi, bergantung pada lama pemakaian dan kebutuhan pengairan.

“Biaya listrik dibagi di antara petani, mereka patungan dengan rata-rata biaya sekitar Rp40-50 ribu per sesi menyesuaikan berapa lama dan kebutuhan air irigasi sawah,” pungkasnya.

Skema tersebut dinilai lebih murah dibandingkan penggunaan pompa diesel secara mandiri. Biaya bahan bakar minyak untuk pompa diesel disebut mencapai sekitar Rp60.000-Rp70.000 setiap sesi, ditambah biaya sewa mesin yang dapat melebihi Rp50.000.

“Pastinya jauh lebih hemat menggunakan Sumur JIAT, rata-rata setiap petani membutuhkan pengairan 2-3 kali sebulan dengan estimasi sekitar Rp40 ribu per sesi atau sekitar Rp120 ribu per bulan,” tandasnya.

Kebutuhan pengairan juga disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Jagung pada fase awal membutuhkan pengairan sekitar tiga kali dalam sebulan. Ketika memasuki usia 60-105 Hari Setelah Tanam (HST), pengairan dapat dilakukan maksimal setiap 14-15 hari atau sekitar dua kali dalam sebulan.

“Desa Pagerejo memiliki sekitar 40-50 petani dengan total lahan produktif sekitar 30-35 hektare,” tandasnya.

Pengamanan pasokan air tersebut menjadi bagian dari langkah Pemkab Mojokerto menghadapi dampak kemarau yang tidak hanya berpengaruh terhadap pertanian, tetapi juga ketersediaan air bersih. Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengatakan terdapat tiga desa yang masih menghadapi krisis air bersih, yakni Desa Kunjorowesi dan Desa Mandiri Manggung Gajah di Kecamatan Ngoro serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas.

Selain persoalan air bersih, BPBD Mojokerto mengantisipasi penurunan debit air yang dapat memengaruhi saluran irigasi persawahan produktif.

“Kami melihat mulai ada potensi berkurangnya debit air terkait dengan irigasi sawah, sehingga ini harus ada manajemen air yang baik dari OPD terkait agar tidak sampai menimbulkan gejolak sosial,” ujar Rinaldi, Kamis (10/9/2026).

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Mojokerto melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) bersama pihak terkait menyiagakan 12 titik sumur JIAT. Fasilitas tersebut akan dioperasikan ketika pasokan air permukaan mulai tidak mencukupi kebutuhan irigasi.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Yuni Laili Faizah mengatakan hingga kini belum terdapat laporan kekeringan pada sawah produktif yang berada dalam daerah irigasi kewenangan Pemkab Mojokerto. Meski demikian, petugas dan pemerintah desa tetap disiagakan untuk mengaktifkan sumur JIAT apabila diperlukan.

“Tapi memang debit air (irigasi) mengalami penurunan saat musim kemarau seperti ini. Nah, bagaimana kita mengantisipasi itu dari dengan pola operasional,” kata Yuni.

Menurut Yuni, pola distribusi air dibedakan berdasarkan kondisi musim. Pada musim hujan, pengairan dapat dilakukan secara langsung, sedangkan pada musim kemarau air dibagikan secara bergiliran berdasarkan kondisi lapangan.

“Sistemnya bergantian per hari, misal irigasi mengisi blok atas beberapa hari kemudian berlanjut di blok bawah sampai nanti dengan luas daerah irigasi yang ada itu bisa tercukupi semua,” bebernya.

Sebanyak 12 sumur JIAT tersebut dibangun pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada 2025. Fasilitas itu merupakan sumur air tanah dalam dengan kedalaman lebih dari 100 meter yang difungsikan sebagai cadangan air ketika ketersediaan air permukaan menurun.

“Totalnya Sumur JIAT ada 12 titik di Mojokerto,” ucap Yuni.

Pemkab Mojokerto juga mengusulkan tambahan sumur JIAT untuk 2026. Rencananya terdapat 10 titik tambahan yang masih akan dikerjakan pemerintah pusat.

“Sudah dua tahun ini kita usulkan (Sumur JIAT) yang dibangun oleh pusat. Kalau tahun 2025 lalu sebanyak 12 titik, untuk tahun 2026 ini ada 10 titik rencana tapi masih akan dikerjakan,” pungkasnya.

Dari 12 titik yang telah tersedia, sumur JIAT tersebar di Desa Sumber Karang, Kecamatan Dlanggu; Desa Kedunggempol, Kecamatan Mojosari; Desa Pagerejo, Kecamatan Gedeg; Desa Kembang Ringgit, Kecamatan Pungging; Desa Katemasdungus, Kecamatan Puri; Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu; Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal; Desa Randugenengan, Kecamatan Bangsal; Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu; Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging; Desa Randugenengan, Kecamatan Dlanggu; serta Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal.

Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto Rois Arif Budiman mengatakan satu sumur JIAT di Desa Pagerejo memiliki kapasitas 30 liter per detik dan dapat membantu mengairi puluhan hektare sawah.

“Satu Sumur JIAT bisa mengairi sawah sekitar 20-30 hektare,” tandasnya.

Keberadaan cadangan air tersebut memberi ruang bagi petani untuk mempertahankan produktivitas lahan selama kemarau. Dengan pengoperasian yang diatur sesuai kebutuhan dan distribusi air secara bergiliran, Pemkab Mojokerto berharap ancaman kekeringan terhadap sawah produktif dapat ditekan sehingga produksi pertanian tetap terjaga. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Pemerintah Siapkan Rekening BRI untuk Warga Usia 17 Tahun

PDF 📄LAMPUNG SELATAN – Pemerintah menyiapkan pembukaan rekening baru bagi seluruh masyarakat Indonesia berusia 17 …

Pusaka Jateng 2026 Siapkan Ratusan Gagasan untuk Kebijakan 2027

PDF 📄SEMARANG – Sebanyak 537 gagasan yang dihasilkan Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Jawa …

Festival Tani Ganding 2026 Jadi Panggung Produk Unggulan Masyarakat

PDF 📄SUMENEP – Festival Tani Kecamatan Ganding 2026 disiapkan bukan sekadar sebagai agenda hiburan masyarakat, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *