PANGANDARAN – Pembudidaya ikan lele di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, mendapat pendampingan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pakan, menjaga kualitas air, dan menekan risiko kegagalan panen melalui pemanfaatan probiotik serta pengelolaan kolam yang lebih terukur.
Program tersebut dijalankan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi Institut Pertanian Bogor (IPB) University melalui pemberdayaan pembudidaya lele berbasis teknologi. Pendekatan yang digunakan mencakup pemetaan kondisi kolam, penyuluhan, praktik langsung, pendampingan, hingga pemantauan hasil penerapan teknologi.
Sebagaimana diberitakan Good News From Indonesia, Selasa (11/08/2026), program itu diawali dengan survei ke sejumlah lokasi pembudidaya. Tim KKNT mendata kondisi kolam, sistem pemeliharaan, sumber air, kepadatan tebar, serta lingkungan sekitar kolam sebagai dasar menentukan materi pendampingan.
Hasil pemetaan menunjukkan sejumlah persoalan yang dapat menghambat produktivitas. Di antaranya kualitas air yang kurang baik, perubahan derajat keasaman (pH), penumpukan sisa pakan dan lumpur yang berpotensi meningkatkan kadar amonia, serta penggunaan pakan yang belum efisien.
Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk memberikan pelatihan pengelolaan kolam dan kualitas air. Pembudidaya diperkenalkan dengan penggunaan alat pengukur pH atau pH meter agar perubahan kondisi air dapat diketahui lebih cepat dan penanganannya dilakukan berdasarkan pengukuran.
Pendampingan juga mencakup praktik penambahan probiotik dan molase pada pakan. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai salah satu alternatif untuk membantu meningkatkan efisiensi pakan, menjaga kesehatan ikan, dan mendukung produktivitas usaha budidaya.
Tidak berhenti pada penyuluhan, mahasiswa juga melakukan kunjungan ke kolam pembudidaya untuk melihat penerapan materi secara langsung. Tim memberikan konsultasi teknis dan membantu mengidentifikasi persoalan yang masih muncul selama proses budidaya.
Program tersebut selanjutnya dilengkapi dengan monitoring dan evaluasi (Monev). Sejumlah indikator digunakan untuk melihat hasil penerapan teknologi, antara lain perubahan pH air, tingkat kelangsungan hidup ikan (survival rate), kondisi kesehatan ikan, serta perubahan efisiensi biaya operasional.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat pembudidaya tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola kolam berdasarkan kondisi yang terukur. Dengan demikian, praktik budidaya yang sebelumnya masih mengandalkan metode tradisional dapat beralih menuju pengelolaan yang lebih modern dan efisien.
Bagi masyarakat Desa Cibenda, peningkatan kemampuan pembudidaya lele juga berpotensi memperkuat sektor pangan dan ekonomi lokal. Produktivitas yang lebih baik, penggunaan pakan yang efisien, serta pengurangan risiko penyakit diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha budidaya dalam jangka panjang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara