Energi Surya Buka Akses Air Bersih dan Usaha Desa

SORONG – Kemandirian energi di desa mulai diarahkan tidak hanya pada pembangunan pembangkit, tetapi juga pada kemampuan warga mengoperasikan dan merawat fasilitas tersebut. Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina memperkuat kapasitas warga yang menjadi local hero agar energi terbarukan dapat terus mendukung kebutuhan dasar sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu penerima manfaat berada di Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong (Sorong), Papua Barat Daya (PBD). Warga setempat sebelumnya mengandalkan air hujan dan Sungai Klasafet untuk memenuhi kebutuhan air bersih, terutama ketika musim kemarau membuat persediaan air semakin terbatas.

Melalui fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kilowatt-peak (kWp), listrik tenaga surya kini digunakan untuk mengoperasikan sistem pengolahan air sehingga akses air bersih masyarakat menjadi lebih mudah. Alfredo Nicholas Saputra Kolin menjadi salah satu warga yang bertugas memastikan fasilitas tersebut tetap berfungsi.

“Kalau listrik dari PLTS berhenti, air bersih juga ikut berhenti. Karena itu saya harus memastikan semuanya berjalan dengan baik,” ujar Alfredo, sebagaimana diberitakan RMOL, Selasa (11/08/2026).

Tugas Alfredo tidak sebatas memastikan pembangkit menghasilkan listrik. Ia juga menjaga agar sistem pengolahan air tetap beroperasi sehingga manfaat fasilitas energi tersebut dapat dirasakan warga secara berkelanjutan.

Model serupa diterapkan di Desa Tumpak, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Nusa Tenggara Barat. Kelompok Masyarakat Tani Hutan Bina Lestari sebelumnya menghadapi keterbatasan energi untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil hutan, termasuk produksi minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO).

Kehadiran PLTS berkapasitas 6,6 kWp melalui Program DEB membuat kegiatan produksi dapat berjalan lebih lancar. Burhanudin dipercaya mengelola sekaligus menjaga operasional pembangkit yang memasok energi untuk mesin produksi VCO berdaya 5.500 watt.

“Sekarang produksi bisa berjalan lebih lancar. Listrik dari PLTS membuat kami lebih percaya diri mengembangkan usaha,” kata Burhanudin.

Pemanfaatan energi terbarukan tersebut tidak hanya menyediakan listrik, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat mengembangkan kegiatan ekonomi. Energi yang tersedia secara lebih andal membantu kelompok masyarakat meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya alam secara lebih berkelanjutan.

Untuk menjaga keberlanjutan fasilitas, Pertamina juga memperkuat kemampuan warga yang mengelolanya. Program DEB telah menjangkau 262 desa di Indonesia dengan pembinaan bagi para local hero melalui edukasi, pelatihan, dan sertifikasi kompetensi.

Sebanyak 128 local hero telah tersertifikasi. Pada 5–7 Agustus 2026, Pertamina kembali memfasilitasi sertifikasi bagi 21 local hero di Balkondes Wringin Putih, Borobudur, Magelang. Peserta memperoleh pembekalan mengenai regulasi ketenagalistrikan, metode sertifikasi kompetensi, serta pengoperasian dan pemeliharaan PLTS.

Peserta yang dinyatakan kompeten dapat memperoleh sertifikat operator muda PLTS yang diterbitkan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan kemampuan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan energi bersih.

“Keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh hadirnya infrastruktur, tetapi juga oleh masyarakat yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya,” kata Baron.

Pertamina mencatat Program DEB telah menghasilkan nilai ekonomi Rp5,65 miliar per tahun serta kapasitas energi terbarukan sebesar 1.302.700 watt-peak (Wp) dari tenaga surya, mikrohidro, dan pembangkit hibrida surya-angin. Program tersebut juga menghasilkan 959.302 meter kubik biogas dan metana.

Secara keseluruhan, program tersebut disebut telah memberikan manfaat kepada 283.841 jiwa, termasuk 62 penyandang disabilitas, melalui peningkatan akses energi, penguatan ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat.

Penguatan kapasitas warga menjadi bagian penting karena keberadaan pembangkit energi bersih tidak otomatis menjamin manfaat jangka panjang. Ketika masyarakat memiliki kemampuan teknis untuk mengoperasikan dan merawat fasilitas, energi terbarukan dapat berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan pelayanan dasar di desa.

Program DEB juga diarahkan mendukung agenda kemandirian energi nasional dan pembangunan dari desa. Pengembangannya berkontribusi terhadap sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, termasuk pendidikan berkualitas, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, permukiman berkelanjutan, serta penanganan perubahan iklim.

Pengalaman Alfredo dan Burhanudin menunjukkan bahwa keberhasilan energi terbarukan di desa tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Ketika warga diberi pengetahuan dan tanggung jawab untuk mengelolanya, pembangkit dapat menjadi sarana penyedia air bersih, penggerak usaha, sekaligus fondasi kemandirian masyarakat desa. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Modal Usaha Desa Diperluas, Pemerintah Bidik 10.000 Desa

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah menyiapkan proyek percontohan pembiayaan bagi 500 hingga 1.000 desa sebagai tahap …

Strategi Baru Pariwisata RI: Desa, Pendidikan, hingga Promosi Global

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah memperluas pengembangan pariwisata hingga tingkat desa dengan mengintegrasikan potensi wisata, pendidikan, …

Industri Penghasil Karbon Didorong Beri Insentif untuk Pelestari Mangrove

PDF 📄DEPOK – Nilai karbon yang tersimpan di ekosistem mangrove mulai diproyeksikan menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *