Bukan Sekadar Bansos, KPM Sumenep Disiapkan Jadi Petani Berorientasi Ekspor

SUMENEP – Sebanyak 220 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dan penerima bantuan sembako di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diarahkan beralih dari penerima bantuan sosial (bansos) menjadi petani mandiri yang berorientasi pasar ekspor melalui budidaya cabai jamu organik.

Program pemberdayaan yang dijalankan Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial (Ditjen Pemberdayaan Sosial) tersebut menyasar 220 KPM yang tersebar di 16 desa pada enam kecamatan di Sumenep. Produk pertanian mereka diproyeksikan memasuki pasar Eropa, Amerika, dan Australia.

Skema tersebut tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memastikan hasil panen memiliki pembeli dan standar yang sesuai dengan kebutuhan pasar ekspor. Kemensos menggandeng PT Mega Inovasi Organik (PT MIO) sebagai mitra pembina komoditas pertanian organik sekaligus offtaker atau mitra pembeli tetap.

Staf Khusus Menteri Sosial bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, sebagaimana diberitakan Antara, Senin, (10/08/2026), mengatakan pemberdayaan ekonomi perlu diarahkan agar penerima bansos memiliki kemandirian dalam jangka panjang.

“Bantuan sosial dirancang sebagai jaring pengaman sementara, namun pemberdayaan ekonomi harus berdaya selamanya,” ujar Ishaq.

Menurut Ishaq, pola pemberdayaan tersebut disusun karena sebagian besar masyarakat desa bekerja sebagai petani dan banyak di antaranya merupakan penerima bansos. Karena itu, KPM diarahkan menjadi pelaku usaha pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan pasar, termasuk pasar ekspor.

Dalam pelaksanaannya, PT MIO bekerja sama dengan Koperasi Dewa Dewi Ramadaya yang berfungsi sebagai collecting point atau titik pengumpulan komoditas cabai jamu organik. Kemitraan tersebut memberikan kepastian penyerapan hasil panen sekaligus harga bagi petani.

Harga pembelian cabai jamu organik dari tingkat koperasi atau collecting point disepakati sekitar Rp125 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram. Skema itu diproyeksikan meningkatkan harga pembelian cabai jamu basah yang diterima petani sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

“Kami memfilter data untuk memastikan KPM PKH dan sembako yang bergabung berada pada usia produktif, sehingga optimal dalam menjalankan budidaya cabai jamu organik. Lebih dari itu, Kemensos memastikan setiap petani KPM mendapat pendampingan teknis intensif dari PT MIO dan Koperasi Dewa Dewi Ramadaya agar standar ekspor terpenuhi dan seluruh hasil produksi mereka terserap secara penuh,” ucap Ishaq.

Para peserta kemudian dihimpun dalam Kelompok Masyarakat (Pokmas) “Jamu Maju Bersama”. Anggotanya tersebar di Kecamatan Bluto, Gili Genting, Guluk-Guluk, Pasongsongan, Ambunten, dan Saronggi.

Untuk mendukung produksi hingga pascapanen, Kemensos menyalurkan berbagai sarana pertanian dan pengolahan. Bantuan tersebut mencakup 11 ribu bibit cabai jamu, 4.400 bibit lada, serta 11 ribu bibit tajar.

Dukungan lainnya berupa dua paket pengering tenaga surya dan satu paket perbaikan atau renovasi gudang penyimpanan cabai jamu milik Koperasi Dewa Dewi Ramadaya. Setiap petani juga memperoleh peralatan kerja berupa gunting panen, gunting pangkas, sepatu bot sebagai alat pelindung diri, dan sarung tangan.

Fasilitas pendukung turut mencakup 17 unit tangga lipat, dua unit tandon air, serta seperangkat peralatan pengolahan pascapanen yang terdiri atas kompor, gas elpiji, dan panci.

Tenaga Ahli Menteri, Ahmad Rifai, mengatakan program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi pertanian agar produk yang dihasilkan masyarakat tidak berhenti sebagai komoditas mentah.

“Jadi kita tidak jual barang mentahnya tapi barang jadi, dalam rangka pengentasan kemiskinan,” ujar Ahmad Rifai.

Pemberdayaan tersebut mempertemukan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam satu rantai usaha. Dengan dukungan pendampingan, kepastian pembeli, fasilitas produksi, dan orientasi pasar ekspor, KPM diharapkan tidak lagi bergantung pada bansos, tetapi mampu memperoleh penghasilan berkelanjutan dari usaha pertanian. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Modal Usaha Desa Diperluas, Pemerintah Bidik 10.000 Desa

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah menyiapkan proyek percontohan pembiayaan bagi 500 hingga 1.000 desa sebagai tahap …

Strategi Baru Pariwisata RI: Desa, Pendidikan, hingga Promosi Global

PDF 📄JAKARTA – Pemerintah memperluas pengembangan pariwisata hingga tingkat desa dengan mengintegrasikan potensi wisata, pendidikan, …

Industri Penghasil Karbon Didorong Beri Insentif untuk Pelestari Mangrove

PDF 📄DEPOK – Nilai karbon yang tersimpan di ekosistem mangrove mulai diproyeksikan menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *