BIMA – Sebanyak 43 desa di Kabupaten Bima (Bima) masuk dalam pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima mencatat ancaman tersebut berpotensi memengaruhi 8.665 kepala keluarga (KK) atau 27.343 jiwa yang tersebar di 15 kecamatan.
Kepala Pelaksana BPBD Bima Abdul Muis mengatakan pemetaan tersebut menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan, terutama untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.
“Data ini menjadi dasar kami dalam menentukan langkah penanganan, mulai dari penyaluran air bersih hingga koordinasi lintas perangkat daerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pekan kemarin, sebagaimana diberitakan Suara NTB, Senin, (10/08/2026).
Berdasarkan data BPBD per 6 Agustus 2026, potensi kekeringan tersebar di Desa Tenga, Kalampa, dan Talabiu di Kecamatan Woha; Tangga, Simpasai, dan Sondo di Kecamatan Monta; sejumlah desa di Kecamatan Palibelo; Tawali, Sangiang, dan Hidirasa di Kecamatan Wera; Oi Dungga dan Mpili di Kecamatan Donggo; Sanolo di Kecamatan Bolo; Parangina dan Bugis di Kecamatan Sape; Maria Utara, Pesa, dan Kombo di Kecamatan Wawo; Teta di Kecamatan Lambitu; Manta Baru, Mangge, dan Kaleo di Kecamatan Lambu; Runggu, Roka, Cenggu, Diha, dan Ncera di Kecamatan Belo; Bajo di Kecamatan Soromandi; Nipa di Kecamatan Ambalawi; serta Piong di Kecamatan Sanggar, Oi Katupa dan Kawinda Toi di Kecamatan Tambora.
Abdul Muis menjelaskan pemetaan dilakukan berdasarkan potensi kekurangan air bersih selama musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño.
“Kami terus memperbarui data sesuai perkembangan di lapangan sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” katanya.
Dari wilayah yang dipetakan, Desa Ntonggu di Kecamatan Palibelo menjadi daerah dengan potensi jumlah warga terdampak paling besar, yakni 3.696 jiwa. Berikutnya Desa Pesa di Kecamatan Wawo dengan 2.217 jiwa, Desa Roi di Kecamatan Palibelo sebanyak 2.172 jiwa, dan Desa Runggu di Kecamatan Belo mencapai 2.067 jiwa.
Untuk mengantisipasi dampak kekurangan air, BPBD bersama instansi terkait telah menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Distribusi air bersih terus kami lakukan sesuai tingkat kebutuhan masyarakat di lapangan. Penanganan ini akan disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah terdampak,” ujarnya.
Selain menghadapi ancaman kekeringan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat selama musim kemarau. Koordinasi lintas perangkat daerah diperkuat, sementara pemerintah desa diminta mengedukasi masyarakat mengenai penghematan air dan pencegahan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Kami mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga lingkungan, menggunakan air secara bijak, dan segera melaporkan apabila terdapat kejadian yang berpotensi menimbulkan bencana agar bisa ditangani sejak dini,” pungkasnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara