FLORES TIMUR – Kepulangan Pater Markus Solo Kewuta SVD ke Desa Persiapan Lewouran, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), disambut antusias oleh ratusan warga sebagai bentuk penghormatan terhadap putra daerah yang selama bertahun-tahun menjalankan pelayanan di pusat Gereja Katolik dunia, Vatikan.
Kedatangan Pater Markus yang akrab disapa Padre Marco pada Senin (3/8/2026) menjadi momen kebanggaan bagi masyarakat setempat. Penyambutan berlangsung dengan nuansa adat melalui tarian tradisional, pengalungan kain tenun khas Lewouran, serta pemberian sirih, pinang, kapur, minuman adat, dan rokok yang dibungkus daun nipah sebagai simbol penerimaan dan persaudaraan.
Tokoh adat, keluarga, umat Katolik, serta masyarakat desa telah menunggu kedatangan Padre Marco sejak siang hari. Bagi warga Lewouran, kepulangannya bukan sekadar kunjungan pribadi, melainkan menjadi kebanggaan karena seorang anak desa dipercaya menjalankan tugas pelayanan hingga tingkat internasional.
Penjabat Kepala Desa Persiapan Lewouran Sterly Watokola mengatakan masyarakat merasa bangga atas perjalanan Padre Marco yang membawa nama daerah ke tingkat dunia. “Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam penyambutan kami. Bagi masyarakat desa, Padre Marco adalah putra Lewouran yang telah mengharumkan nama daerah dan menjadi kebanggaan karena dipercaya mengabdi di Vatikan,” ujarnya sebagaimana diberitakan Seputar Cibubur, Senin (03/08/2026).
Padre Marco mengatakan kepulangannya ke Lewouran selalu menghadirkan rasa rindu yang mendalam. Setelah menghadiri Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026 di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026, ia mendapatkan izin dari pimpinan di Vatikan untuk kembali ke Flores Timur.
“Setiap hari saya ingin berada di kampung ini, memberikan dukungan dan semangat kepada masyarakat serta para pemimpin desa,” katanya.
Selama berada di Flores Timur, Padre Marco dijadwalkan mengikuti sejumlah kegiatan bersama umat, mulai dari memimpin misa syukur, bertemu keluarga, mengunjungi sekolah dan asrama yang berada dalam pendampingannya, hingga menghadiri penyerahan dua relikui Santo Petrus dari Vatikan kepada Gereja Stasi Santo Petrus Lewouran.
Kehadiran relikui tersebut menjadi simbol hubungan antara Gereja lokal di Flores Timur dan Gereja universal. Bagi masyarakat Lewouran, momen itu juga menjadi kesempatan untuk memperkuat nilai kebersamaan serta kebanggaan terhadap perjalanan seorang putra desa.
Perjalanan Padre Marco bermula dari Lewouran, sebuah desa kecil di kaki Gunung Lewotobi. Ia lahir pada 4 Agustus 1968 dan menempuh pendidikan di SDK Lewouran, SMPK Ile Bura Lewotobi, serta SMAK Seminari San Dominggo Hokeng sebelum bergabung dengan Serikat Sabda Allah (SVD).
Langkah pengabdiannya kemudian membawanya ke Roma. Sejak 2015, Padre Marco tercatat sebagai imam asal Indonesia pertama yang bertugas di Kuria Takhta Suci Vatikan. Ia menjalankan tugas di Dikasteri untuk Dialog Antaragama dengan fokus dialog Islam di kawasan Asia dan Pasifik.
Ia juga dipercaya menjadi Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate yang bergerak dalam pengembangan pendidikan perdamaian dan dialog lintas agama. Namanya semakin dikenal masyarakat Indonesia ketika mendampingi sekaligus menjadi penerjemah Paus Fransiskus dalam kunjungan apostolik ke Indonesia pada September 2024.
Meski memiliki pengalaman pelayanan di tingkat global, bagi warga Lewouran Padre Marco tetap dipandang sebagai anak kampung yang membawa semangat sederhana. Kepulangannya menjadi pengingat bahwa desa dapat melahirkan sosok yang mampu berkontribusi hingga dunia internasional tanpa kehilangan akar budaya dan identitas daerahnya. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara