BELITUNG – Transformasi Desa Terong dari sekadar jalur lintasan wisata menjadi destinasi mandiri menunjukkan bagaimana inisiatif masyarakat desa mampu menciptakan perputaran ekonomi baru melalui pengembangan desa wisata berbasis alam dan budaya.
Perubahan tersebut mulai dirintis warga Desa Terong sejak 2013 setelah menyadari bahwa arus wisatawan yang melintas menuju Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi tidak memberikan dampak ekonomi langsung bagi desa. Saat itu, desa hanya menjadi daerah yang dilewati tanpa kunjungan wisatawan.
“Ketika pariwisata Belitung itu meledak, kami sebagai warga Desa Terong, ketika bus-bus pariwisata lewat dari bandara, ke Tanjung Kelayang, dari kota Tanjung Pandan ke Tanjung Kelayang, kami waktu itu cuma dapat asapnya doang. Wisatawan enggak mampir, enggak makan, enggak minum,” kenangnya sebagaimana diwartakan Kompas, Senin (27/04/2026).
Alih-alih bersaing langsung dengan destinasi pantai, warga memilih mengembangkan konsep wisata alternatif yang menggabungkan pengalaman budaya, alam, dan aktivitas khas desa. Inspirasi tersebut diperoleh dari Desa Wisata Pentingsari di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kalau waktu itu kita mau head-to-head bersaing dengan Pantai Tanjung Kelayang dan Pantai Tanjung Tinggi, nggak akan menang,” ucapnya.
Pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap, bahkan tanpa dukungan dana desa maupun bantuan eksternal pada tahap awal. Infrastruktur baru mulai dibangun setelah adanya alokasi dana desa pada 2016.
Berbagai paket wisata kemudian ditawarkan kepada pengunjung, seperti hiking, tradisi makan bedulang, hingga aktivitas nyungkor atau mencari udang pada malam hari. Kunjungan perdana dari rombongan akademisi menghasilkan perputaran ekonomi yang signifikan bagi masyarakat desa.
Seiring waktu, pendapatan desa meningkat hingga mencapai sekitar Rp700 juta per tahun pada 2019. Namun, pandemi Covid-19 sempat menurunkan aktivitas wisata secara drastis hingga perputaran ekonomi turun menjadi sekitar Rp60 juta pada 2020.
Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan penerapan standar operasional dan pembukaan wisata secara terbatas. Pada 2023, perputaran ekonomi kembali menembus Rp100 juta dan terus meningkat hingga sekitar Rp200 juta per tahun pada 2024 dan 2025, meskipun belum menyamai kondisi sebelum pandemi.
“Sampai hari ini tiket kunjungan dan perputaran uang masih belum menyamai angka di titik sebelum Covid kemarin,” tuturnya.
Upaya penguatan promosi dan adaptasi tren wisata terus dilakukan. Desa Terong bahkan terpilih mewakili Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam ajang Bali Beyond Travel Fair pada 28 hingga 30 Mei 2026 sebagai bagian dari strategi memperluas pasar wisata.
“Alhamdulillah kita dapat kabar baik. Hasil kurasi dari Bank Indonesia Bangka Belitung, kita dapat kabar bahwa kita jadi pemenang untuk mewakili desa wisata Bangka Belitung di ajang BBTF Bali 2026,” tuturnya.
Keberhasilan ini menjadi contoh bagaimana desa mampu membangun kemandirian ekonomi melalui inovasi berbasis potensi lokal, sekaligus membuka peluang pengembangan pariwisata berkelanjutan di masa depan. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara