BONTANG – Tradisi Tari Hudoq kembali menegaskan peran budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari siklus pertanian masyarakat Dayak di Kalimantan Timur (Kaltim), melalui ritual tahunan yang sarat makna spiritual, sejarah, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Tari Hudoq merupakan tarian tradisional masyarakat Dayak yang berfungsi sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hasil pertanian, seperti padi, jagung, dan tebu, dapat tumbuh subur dan memberikan hasil melimpah. Tarian ini menjadi bagian dari rangkaian ritual Menugal, yaitu prosesi awal penanaman yang menandai komunikasi manusia dengan leluhur dan kekuatan spiritual.
Nama “Hudoq” sendiri berasal dari bahasa Dayak Modang yang berarti topeng. Dalam praktiknya, para penari menggunakan topeng dan kostum menyerupai makhluk gaib sebagai representasi roh atau dewa yang diyakini turun ke bumi untuk membawa berkah. Kepercayaan ini berakar pada mitologi masyarakat Dayak tentang kehadiran roh penjaga padi seperti Hunyang Tenangan yang diutus dari surga oleh Tuhan Apo Lagaan melalui perantara Ine Aya’.
Topeng Hudoq yang digunakan umumnya terbuat dari kayu jelutung dan dihiasi daun pisang segar. Bentuknya beragam, namun banyak menyerupai burung, yang melambangkan kekuatan alam. Dalam kepercayaan setempat, topeng ini juga berfungsi sebagai media agar wujud roh tidak mengejutkan manusia saat berinteraksi di bumi.
Ritual ini secara rutin digelar dalam Festival Hudoq Pekayang di Desa Long Lunuk, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), yang melibatkan partisipasi masyarakat dari 11 desa. Festival ini menjadi ungkapan syukur setelah masa tanam berlangsung selama satu bulan.
Selain di Mahulu, tarian Hudoq juga ditampilkan oleh masyarakat Dayak Wehea di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam Festival Lom Plai yang telah dikenal secara nasional sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Tari Hudoq telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI), sebagai bentuk pengakuan atas nilai historis dan kulturalnya. Pengakuan ini sekaligus menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi, sebagaimana dilansir Akurasi, Jumat, (24/04/2026).
Festival Hudoq kini juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya di sejumlah wilayah Kaltim, seperti Mahulu, Kutim, dan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis budaya yang berkelanjutan.
Ke depan, pelestarian Tari Hudoq diharapkan terus diperkuat melalui kolaborasi antara masyarakat adat dan pemerintah, agar nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara