Wisata Budaya Waerebo Tawarkan Tradisi dan Alam Pegunungan

MANGGARAI – Desa adat Waerebo di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi sorotan sebagai salah satu permukiman tradisional tertinggi di Indonesia yang masih mempertahankan tatanan hidup leluhur. Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, desa ini tidak hanya menawarkan panorama “di atas awan”, tetapi juga sistem sosial dan arsitektur yang sarat filosofi budaya.

Untuk mencapai Waerebo, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar tujuh kilometer melewati jalur hutan dan perbukitan. Medan yang berat tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan, namun sebanding dengan pengalaman budaya yang disuguhkan ketika memasuki kawasan desa adat tersebut.

Sesampainya di lokasi, pengunjung disambut tujuh rumah adat utama yang disebut Mbaru Niang, bangunan berbentuk kerucut dengan atap menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Struktur ini menjadi ciri khas utama Waerebo sekaligus simbol identitas masyarakat Manggarai yang masih dijaga secara turun-temurun.

“Barunian berbentuk kerucut dengan atap hampir menyentuh tanah,” ucap pembicara pada video yang telah diunggahnya.

Rumah adat tersebut dibangun dari material alami yang berasal dari lingkungan sekitar, mencerminkan hubungan erat antara masyarakat dan alam. Setiap bangunan tersusun melingkar mengelilingi sebuah batu pusat yang disebut compang, yang menjadi titik sakral aktivitas adat dan spiritual warga.

Compang berfungsi sebagai ruang bersama untuk berinteraksi dengan alam, leluhur, dan nilai kepercayaan masyarakat setempat. Sistem tata ruang ini memperlihatkan filosofi keseimbangan yang menjadi dasar kehidupan sosial suku Manggarai.

Selain struktur bangunan, Mbaru Niang juga memiliki pembagian ruang bertingkat hingga lima lantai, masing-masing dengan fungsi berbeda, mulai dari tempat tinggal keluarga, penyimpanan makanan, benih, hingga perlengkapan adat dan sesajen.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Waerebo yang berjumlah sekitar 44 kepala keluarga masih bertumpu pada sektor pertanian seperti kopi, cengkeh, dan umbi-umbian. Aktivitas domestik seperti memasak, menenun, dan mengurus keluarga umumnya dilakukan oleh perempuan, sementara laki-laki lebih banyak bekerja di ladang.

Sejarah desa ini juga menarik perhatian, karena diyakini memiliki keterkaitan dengan pendatang dari Minangkabau, Sumatera Barat, yang dipimpin sosok Mpu Maru. Dalam kisah lisan masyarakat, ia disebut sebagai pelopor awal pemukiman setelah melakukan perjalanan panjang mencari wilayah yang layak huni hingga akhirnya menetap di Waerebo.

Dengan keunikan budaya, lanskap alam, dan nilai tradisi yang masih terjaga, Waerebo kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia pada 2012. Status tersebut menjadikannya salah satu destinasi budaya paling penting di Indonesia yang juga menarik perhatian wisatawan mancanegara dan lembaga internasional.

Hingga kini, Waerebo tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata, tetapi juga ruang hidup yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan warisan leluhur di tengah derasnya modernisasi. []

Redaksi02 | Nadiya.

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Air Terjun Segunggung Jadi Hidden Gem Wisata Alam Sarolangun

PDF đź“„SAROLANGUN – Air Terjun Segunggung di Desa Kasiro, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, kian …

Banjir dan Longsor Serentak Terjang Desa Purwabakti, Kerugian Signifikan

PDF đź“„KABUPATEN BOGOR – Dampak cuaca ekstrem kembali dirasakan warga di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, …

6 Desa di Cigudeg Terendam, 50 Warga Dievakuasi

PDF đź“„KABUPATEN BOGOR – Upaya penyelamatan warga menjadi fokus utama setelah banjir merendam enam desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *