Tradisi Gantung Ketupat Masih Bertahan, Ini Makna Tersembunyinya

SURABAYA – Tradisi menggantung ketupat di pintu rumah masih bertahan di sejumlah wilayah Jawa sebagai simbol kearifan lokal yang sarat makna, terutama saat perayaan Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat yang jatuh pada 8 Syawal.

Kebiasaan ini bukan sekadar hiasan, melainkan bentuk ekspresi budaya yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat membuat ketupat dari anyaman janur berisi beras, lalu sebagian di antaranya sengaja digantung di pintu atau area dapur sebagai penanda berlanjutnya perayaan setelah Idulfitri.

Dalam praktiknya, ketupat yang digantung tidak untuk dikonsumsi, melainkan dikhususkan sebagai simbol. Tradisi ini berkembang sebagai bagian dari akulturasi budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam yang telah berlangsung sejak masa Wali Songo dan Kesultanan Demak.

Sejarah mencatat, tradisi Bakda Kupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yang mengadaptasi budaya lokal seperti kenduri ke dalam nuansa Islami. Istilah “bakda” sendiri berarti “setelah”, yang kemudian melahirkan istilah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Sebelum mendapat pengaruh Islam, ketupat telah lebih dulu dikenal dalam tradisi masyarakat Jawa sebagai simbol syukur dalam kepercayaan terhadap Dewi Sri serta bagian dari ritual pada masa Hindu-Buddha. Hal ini menunjukkan adanya proses panjang pembauran budaya yang membentuk tradisi tersebut.

Selain nilai historis, ketupat yang digantung juga memiliki makna simbolik dalam kehidupan masyarakat. Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah fungsi ketupat sebagai penolak bala atau perlindungan dari hal-hal buruk.

Ungkapan dalam bahasa Jawa seperti “nek wes dadi, ojo lali dicentelno neng pawon karo neng lawang ngarep omah” serta “nek wes mateng, dicentelno neng lawang ngarep kanggo tolak bala” mencerminkan keyakinan tersebut.

Di beberapa daerah, seperti Desa Pengkolrejo di Kabupaten Blora, tradisi ini masih dijalankan secara konsisten. Ketupat bahkan dibiarkan tergantung dalam waktu lama dan tidak boleh dipindahkan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sakral yang diyakini masyarakat.

Tradisi ini juga dikaitkan dengan penghormatan terhadap anak-anak yang telah meninggal dunia, di mana ketupat dianggap sebagai simbol penyambutan bagi arwah yang “pulang” ke rumah.

Meski tidak memiliki dasar dalam ajaran agama, praktik ini tetap menjadi bagian dari identitas budaya yang dijaga masyarakat. Lebih dari sekadar simbol, tradisi menggantung ketupat mencerminkan nilai syukur, perlindungan, serta kesinambungan warisan budaya di tengah perubahan zaman. []

Redaksi02 | Nadiya

About redaksi02

Lahir di Samarinda, 11 Mei 2007. Setelah lulus sekolah vokasi di SMKN 8 jurusan multimedia tahun, menekuni dunia jurnalistik hingga saat ini.

Check Also

Desa Bengkel Bidik Peluncuran Desa Wisata pada 2027

PDF 📄BULELENG – Pengembangan desa wisata di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, diarahkan untuk …

Potensi Wisata Desa Gunung Malang Dibidik hingga Pasar Mancanegara

PDF 📄Desa Gunung Malang memperkuat pengelolaan potensi wisata alam, budaya, pertanian, dan edukasi sekaligus mendorong …

Konten Kreatif Jadi Kunci Promosi Wisata Desa Gunung Malang

PDF 📄Desa Gunung Malang didorong memanfaatkan teknologi dan kreativitas masyarakat untuk memperkuat promosi potensi wisata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *