JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,45 persen pada semester I 2026 dibarengi upaya pemerintah memperluas aktivitas ekonomi hingga tingkat desa dan kelurahan melalui penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Capaian pertumbuhan tersebut menunjukkan perekonomian nasional tetap tumbuh positif di tengah agenda transformasi ekonomi. Pemerintah mengarahkan momentum itu tidak hanya untuk memperkuat industri dan investasi, tetapi juga memperluas kesempatan ekonomi di tingkat lokal.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,11 persen pada 2025 dan 5,03 persen pada 2024.
Salah satu penopang pertumbuhan berasal dari sektor industri pengolahan yang pada semester I 2026 tumbuh 4,78 persen secara tahunan. Perkembangan tersebut antara lain didorong percepatan hilirisasi sumber daya alam, penguatan struktur industri, serta investasi pada sejumlah sektor prioritas.
Dari sisi investasi, realisasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 50,2 persen dari total investasi dan tumbuh 17,5 persen secara tahunan.
Investasi pada 15 komoditas prioritas hilirisasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 mencapai Rp273,47 triliun atau 27,06 persen dari total investasi nasional pada periode tersebut.
Namun, transformasi ekonomi juga diarahkan agar manfaat pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat industri. Pemerintah memperluas penguatan ekonomi hingga desa dan kelurahan melalui KDKMP.
Hingga 5 Agustus 2026, sebanyak 83.382 KDKMP telah berbadan hukum. Dari 38.109 titik yang diajukan untuk pembangunan gerai fisik, sebanyak 19.623 gudang dan gerai telah selesai dibangun.
Pemerintah juga menyiapkan 30.000 manajer KDKMP melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan koperasi sekaligus membangun ekosistem usaha di tingkat lokal.
Selain koperasi, pembangunan perumahan turut menjadi bagian dari strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Akses rumah tangga terhadap hunian layak tercatat mencapai 68,40 persen pada 2025. Sementara itu, pembangunan dan peningkatan kualitas rumah mencapai 850.786 unit sepanjang 2025 dan 380.787 unit pada semester I 2026.
Pertumbuhan ekonomi juga diikuti perkembangan pasar kerja. Jumlah angkatan kerja meningkat 1,22 persen, dari 153,05 juta orang pada 2025 menjadi 154,91 juta orang pada 2026. Jumlah penduduk yang bekerja juga naik 1,30 persen, dari 145,77 juta menjadi 147,67 juta orang.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 4,76 persen menjadi 4,68 persen pada Februari 2026. Rata-rata upah pekerja juga meningkat 6 persen, dari Rp3,09 juta per bulan pada 2025 menjadi Rp3,29 juta per bulan pada 2026.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan arah pembangunan 2026 ditujukan untuk menjaga kedaulatan pangan dan energi sekaligus membangun ekonomi yang produktif serta inklusif, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (14/08/2026).
“Dalam menavigasi dinamika pembangunan, Kementerian PPN/Bappenas memegang peran sentral untuk menerjemahkan visi jangka panjang Indonesia Emas 2045 dan agenda Asta Cita ke dalam Prioritas Nasional. Menjawab tantangan efisiensi dan kedaulatan, RKP 2026 difokuskan pada tema ‘Kedaulatan Pangan dan Energi, serta Ekonomi yang Produktif dan Inklusif’,” urai Rachmat Pambudy.
Pemerintah juga memperkuat kesiapan tenaga kerja melalui balai dan pusat pelatihan kerja. Pada semester I 2026, program tersebut menghasilkan 38.009 lulusan, dengan 20.916 orang di antaranya memperoleh sertifikasi kompetensi.
Kesempatan berusaha turut diperluas melalui Bantuan Tenaga Kerja Mandiri (TKM). Program tersebut pada semester I 2026 menjangkau 7.034 wirausaha pemula, 1.777 penerima TKM Tematik Kemiskinan Ekstrem, serta 1.000 penerima TKM Lanjutan.
Di sektor ekonomi masa depan, pemerintah mengembangkan berbagai agenda strategis, termasuk Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau Waste-to-Energy (WtE) di lebih dari 30 kabupaten/kota. Ekosistem semikonduktor juga mulai diperkuat melalui pengembangan talenta bagi 1.000 insinyur dari 15.000 tenaga ahli.
Penguatan berbagai sektor tersebut menunjukkan strategi pertumbuhan ekonomi 2026 diarahkan tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga memperluas sumber pertumbuhan hingga tingkat lokal. Desa menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut melalui pengembangan koperasi dan penguatan kapasitas pengelola ekonomi masyarakat.
Rachmat menegaskan tata kelola pembangunan juga akan terus diperbaiki untuk menjaga keberlanjutan investasi dan efisiensi ekosistem pendukung.
“Lampiran Pidato ini berfungsi sebagai jembatan antara perencanaan pembangunan dan bentuk akuntabilitas pemerintah kepada publik. Ke depan, penajaman tata kelola akan difokuskan pada keberlanjutan investasi strategis dan efisiensi ekosistem pendukung,” tegas Rachmat.
Dengan pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada semester I 2026, pemerintah menargetkan transformasi ekonomi berjalan lebih merata melalui penguatan industri, investasi, tenaga kerja, koperasi desa, serta sektor-sektor strategis masa depan. Langkah tersebut diharapkan membentuk struktur ekonomi yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. []
Redaksi02 | Nadiya.
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara