BOGOR – Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berhasil menembus 15 besar Program Desa BRILiaN 2024 yang digagas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Kini, desa yang terletak di kaki Gunung Pangrango itu tengah berjuang untuk masuk dalam lima besar, dengan proses seleksi dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada Mei 2025.
Program Desa BRILiaN merupakan program inkubasi BRI yang berfokus pada pengembangan desa melalui empat aspek utama, yakni penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), digitalisasi, inovasi, dan keberlanjutan (sustainability). Hingga akhir 2024, terdapat 4.327 desa binaan BRI di seluruh Indonesia, meningkat dari 3.178 desa pada tahun sebelumnya.
Di Desa Tugu Selatan, BUMDes Tugu Selatan Mandiri menjalankan berbagai inisiatif. Salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat melalui Kelompok Tani Karya Tugu Mandiri dan Kelompok Ternak Sapi Perah Tirta Kencana sebagai upaya membangun ketahanan pangan.
Selain itu, BUMDes bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Desa Wisata, dan pelaku UMKM turut mengembangkan destinasi wisata baru bernama Kampung Koboi. Berlokasi di lahan milik PTPN, Kampung Koboi menawarkan pengalaman berkuda dan suasana khas ala desa koboi. Pengunjung juga bisa bermalam di area tenda yang tersedia.
“Alhamdulillah akhirnya kami membuat Kampung Koboi sehingga ini bisa menjadi destinasi baru di wilayah Puncak melalui BUMDes Desa Tugu Selatan dan Desa Wisata,” ujar Eko, Kepala Desa Tugu Selatan.
Ia menambahkan, “Melalui Kampung Koboi ini kita sudah ada kafe Kampung Koboinya, aktivitas tunggang kudanya sudah ada. Cuma memang fasilitas-fasilitas lainnya sedang kita dorong dan mudah-mudahan ini juga bisa di-support dan dibantu oleh teman-teman BRI.”
Meski tidak menargetkan lolos ke lima besar, Eko menyebut kehadiran BRI sendiri sudah merupakan capaian luar biasa bagi masyarakat desa. “Kita ingin menyampaikan bahwa desa itu hanya bisa berkembang dan bisa bangkit ketika semua stakeholder di desanya bisa secara bersama-sama membangun desa,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur BUMDes Tugu Selatan Mandiri, Dadang Juanda (55), menjelaskan bahwa BUMDes ini kembali aktif sejak 2021, saat pandemi Covid-19. Saat ini BUMDes bekerja sama dengan sejumlah PT dan CV, serta memiliki 3–4 investor untuk pemberdayaan masyarakat.
Salah satu hasil kerja sama tersebut adalah pendirian Cafe Landing di Rest Area Paralayang bersama PTPN. Kafe ini menjadi tempat relokasi bagi sekitar 32 pedagang kaki lima dari kawasan kebun teh Puncak yang sebelumnya terdampak penertiban.
“Ini memang benar-benar saya isinya relokasi para pedagang kaki lima, korban penertiban yang sudah ada di Jalur Puncak,” kata Dadang.
Cafe Landing tidak memungut biaya sewa dari pedagang. BUMDes hanya mengambil selisih dari harga jual yang ditetapkan pedagang, mengingat kafe ini berdiri di lahan milik PTPN dan dikelola sebagai fasilitas umum.
Dadang juga mengapresiasi dukungan BRI dalam bentuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), penyediaan mesin EDC, hingga QRIS BRI. “Mudah-mudahan dengan data yang ada, ada penilaian dari BRI. Alhamdulillah kami sudah 15 besar se-Nusantara,” ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Departemen Ekosistem Mikro 2 BRI Jakarta 2, Wahyu Juwita, menyebut Desa BRILiaN bertujuan menciptakan role model pengembangan desa yang dapat direplikasi. “Desa-desa yang tergabung diharapkan menjadi sumber inspirasi kemajuan desa,” ujarnya.
Menurutnya, program ini mencakup pelatihan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas desa yang melibatkan perangkat desa, pengurus BUMDes, BPD, kelompok usaha, hingga generasi muda seperti Karang Taruna dan Pokdarwis.[]
Redaksi10
Desa Nusantara Jaringan Media Desa Nusantara